I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 10



Braakk!


Suara pintu yang di dobrak keras malam itu membuat Nara yang baru saja memejamkan matanya di sofa terlonjak. Bersamaan dengan suara jeritan seseorang yang berada di atas ranjang.


"Awaaaaaaaass!" Nara yang masih linglung itu hanya menatap bergantian antara pintu dan ranjang. Di pintu ada seorang cowok yang di seret dua orang laki-laki berpakaian hitam dan bertubuh tegap layaknya bodyguard dengan wajah yang lebam-lebam seperti habis di gebukin. Sedangkan di atas ranjang seseorang sudah membuka matanya dengan pandangan kosong.


Beberapa detik kemudian setelah kesadarannya yang sempat tercecer tadi terkumpul kembali, Nara segera berlari menghampiri ranjang dimana saat ini Anja sudah terbangun dari komanya selama tujuh bulan lamanya.


"Anja!" Nara menggenggam erat tangan Anja yang terasa dingin itu. Tak lupa ia juga memencet tombol darurat yang ada di samping kepala Anja. Entah ia harus marah atau malah berterimakasih kepada mereka.


Tak berselang lama, seorang dokter jaga dan seorang perawat datang dengan berlarian masuk ke dalam ruang perawatan Anja.


"Permisi pak, kami periksa dulu Bu Anjanya." Nara segera menyingkir ke belakang.


"Alhamdulillah, pasien sudah sadar dan kondisinya stabil." Dokter berucap syukur. Nara pun merasa lega, ia tak henti-hentinya berucap syukur dalam hati.


"Bu Anja, apa ibu bisa mendengar suara saya?" Dokter mencoba mengajak Anja berkomunikasi. Mendapat anggukan dari Anja, dokter tersebut bernafas lega.


"Apa ada yang ibu keluhkan?" Anja hanya menggeleng. Dokter beralih menatap Nara.


"Apa tadi ada sesuatu yang memicu kesadaran Bu Anja pak?" Tanya dokter tersebut yang membuat Nara seketika ingat dengan kejadian di pintu tadi yang membuatnya ingin marah namun ia lupa karena bersamaan itu Anja tersadar.


"Tadi ada seseorang yang mendobrak pintu dengan keras, entah itu di dobrak tau mungkin terdorong dari luar hingga menimbulkan bunyi gebrakan yang keras. Bersamaan dengan itu saya mendengar jeritan Anja dok."


"Apa mungkin pemuda yang tadi di gebukin sama dua bodyguard ya dok?" Ucap perawat yang datang bersama dokter.


"Owh, mungkin alam bawah sadar Bu Anja mengingat kecelakaan yang menimpanya dulu pak. Sehingga suara benturan keras bisa memicu kesadarannya."


"Karena kondisi pasien baik-baik saja, saya permisi dulu pak." Pamit dokter yang berjaga malam itu meninggalkan ruang perawatan Anja.


Nara mendekat lagi kemudian duduk di samping Anja. Diraihnya tangan Anja lalu di genggamnya erat.


"Nja!" Panggil Nara namun Anja hanya diam saja.


"Anja! Apa kamu mengingat ku?" Anja menoleh sedetik kemudian ia mengangguk bersamaan dengan air matanya yang meleleh. Nara langsung beranjak kemudian menunduk memeluk Anja erat. Anja menangis sesenggukan di pelukan Nara. Sesaat kemudian Anja mendorong Nara yang membuat Nara terkejut serta takut. Takut kalau sampe Anja tau dialah penyebab kecelakaan itu lalu Anja membencinya. Tidak! Nara tidak sanggup jika harus di benci oleh orang yang selama ini diam-diam telah mengisi relung hatinya. Namun ketakutan Nara sirna saat melihat Anja meraba perutnya.


"Anak ku? Anak ku dimana? Mas, anak ku dimana?" Jerit Anja saat menyadari perutnya yang sudah kembali rata.


"Sssstt!" Nara mencoba menenangkan Anja dengan memeluknya kembali. "Radha ada di rumah sama mama?"


"Radha?" Beo Anja.


"Kalau kamu gak suka, kamu boleh menggantinya nanti." Lanjut Nara.


"Kenapa harus Wijaya?" Tanya Anja kebingungan.


"Karena Radha sudah aku anggap seperti anak ku sendiri. Aku yang mengAdzaninya dan aku yang menggendongnya pertama kali. Radha anak ku!" Tegas Nara yang membuat Anja berkaca-kaca kembali.


"Terimakasih mas!" Ucap Anja tak bisa menahan tangisnya. Nara segera memeluk Anja lagi dengan begitu eratnya.


"Kita akan membesarkannya bersama-sama" Lirih Nara, Anja pun mengangguk. "Sekarang istirahat dulu, besok aku kabari mama untuk bawa Radha ke rumah sakit. Sekarang udah malam." Nara mengurai pelukannya.


"Berapa lama aku tertidur mas?"


"Tujuh bulan!"


"Tu-tujuh bulan? Selama itu?"


"Ya, sesuai umur Radha sekarang."


"Anak ku sudah tujuh bulan mas?" Lagi-lagi Anja tak percaya.


"Ya, dia cantik! Anak ku sangat cantik seperti mamanya." Ucap Nara tanpa sadar yang membuat pipi Anja seketika merona.


"Kenapa pipi mu merah?" Tanya Nara yang sepertinya belum menyadari ucapannya. Anja hanya diam menunduk. Namun sedetik kemudian Nara mulai tersadar dengan ucapannya.


"Eh, Sudah sekarang istirahat dulu." Nara mengacak rambut Anja kemudian berlalu masuk ke dalam kamar mandi.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh β˜•β˜•πŸ˜‚πŸ˜‚