
Tok.. tok.. tok..
"Wis! Boleh kakak masuk!" Teriak Camelia dari depan pintu kamar adiknya seraya mengetuknya.
Selepas makan malam tadi Radha langsung masuk lagi ke dalam kamar. Sedangkan ayah Seno dan Buna Laras kembali ke warung.
"Masuk saja kak, pintunya nggak dikunci!" Wisnu balik berteriak menyahuti kakaknya. Camelia pun langsung mendorong pintu kamar adiknya.
"Lagi belajar?" Camelia mendudukkan tubuhnya di ranjang sang adik.
"Gak kok, nggak ada PR. Ini nata jadwal saja." Wisnu segera mendudukkan tubuhnya di samping sang kakak. "Ada apa kak?"
"Apa kamu tidak merasa aneh dengan sikap Kak Radha akhir-akhir ini?"
"Memangnya kak Radha kenapa kak?"
"Hih!" Camel menoyor kepala adiknya. "Ditanya balik nanya!" Geram Camel. "Coba deh perhatikan, akhir-akhir ini kak Radha lebih sering melamun dan kayak nggak semangat gitu. Apa jangan-jangan kak Radha lagi patah hati ya? Tadi pagi saja tiba-tiba nangis pas kakak suruh cerita. Pokoknya kak Radha itu kayak menyimpan beban berat gitu." Cerocos Camelia panjang lebar. "Oh ya, kalau nggak salah terakhir pas kak Radha pergi sama kamu sebulan yang lalu itu dia pulang dalam keadaan mata sembab kaya habis nangis." Camel mengingat-ingat kejadian sebulan yang lalu, di mana saat itu Radha pergi bersama Wisnu untuk menemui Elmer dan pulang dalam keadaan mata sembab karena habis menangis. "Memangnya kalian waktu itu habis dari mana? Pokoknya sejak itu kak Radha jadi berubah."
Wisnu susah payah menelan salivanya dan mencoba menetralkan raut wajahnya, agar kakaknya itu tidak merasa curiga kalau dirinya tahu tentang kak Radha.
"Eeemm, kita hanya ke hotel saja kak, gak ke mana-mana. Lagian waktu itu aku cuma disuruh nunggu di lobby saja nggak ikut masuk ke dalam." Beruntung lidah Wisnu gak kepleset saat sedang mengarang indah.
"Apa jangan-jangan kak Radha diputusin pacarnya lewat telepon ya?" Camelia mulai berasumsi sendiri.
"Sudah deh kak, nggak usah mikir macam-macam. Tugas kita sekarang adalah menghibur kak Radha agar tidak sedih lagi dan semangat lagi menjalani hari-harinya."
"Ya sudah, kalau itu kakak setuju!" Camelia segera keluar dari kamar adiknya.
*****
Sedangkan Buna Laras nampak duduk cantik di balik meja kasir seraya pandangannya menatap awas ke seluruh penjuru rumah makan, memastikan bahwa tidak ada pelanggan yang terlewat untuk dilayani.
"Capek sayang?" Tanya Buna Laras saat Radha mendekat ke arahnya. Nampak titik-titik keringat membasahi dahi Radha. Buna Laras segera mengambil tisu yang ada di depannya kemudian mengelap keringat yang ada di dahi Radha.
"Lumayan Bun, rame banget!"
"Alhamdulillah, Oma pasti juga seneng kalau lihat warungnya rame begini." Laras mengingat almarhumah ibunya yang mendirikan Rumah makan tersebut sejak ayahnya meninggal untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Tak terasa air matanya membasahi kedua pipinya saat mengingat masa-masa sulit itu.
"Buna kok nangis?" Sekarang gantian Radha yang mengambil tisu dan mengelap air mata bunanya.
"Sudah, Buna gak papa. Buna mau ke belakang dulu ya, nanti kalau kakak capek istirahat saja." Laras segera beranjak dari duduknya setelah mendapat anggukan dari Radha.
Sekarang gantian Radha yang duduk di balik meja kasir, menunggu orang-orang yang masih menikmati makanannya. Untuk mengusir kebosanan, Radha merogoh ponsel yang ada di dalam kantung bajunya. Hal yang pertama kali ia lakukan adalah membuka aplikasi WA-nya. Satu nama yang tertuju, Elmer. Namun lagi-lagi ia harus menelan kekecewaan saat nomor Elmer terakhir kali aktif satu bulan yang lalu. Radha kembali meletakkan ponselnya ke atas meja saat ada seseorang yang mendekat ke arahnya untuk membayar.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ