
"M-mas Nara mau apa? Anja beringsut mundur.
"Tenanglah, jangan takut sayang. Aku hanya ingin meminta hak ku." Senyum di bibir Nara semakin melebar, namun bagi Anja itu terlihat menakutkan.
"Ap-apa gak bisa besok saja mas?" Nara mengernyit, pasalnya yang di bawah sana rasanya sudah di ujung tanduk.
"Besok kan bisa lagi sayang. Jadi, sekarang kita lakukan dulu yang pertama. Kalau untuk besok, kita pikirkan lagi nanti. Mau di rumah atau disini lagi terserah kamu." Anja susah payah menelan salivanya. Ngeri rasanya kalau sampe ia di gempur habis-habisan oleh suaminya itu.
"Tap-tapi kan, aku bukan gadis lagi. Ini bukan yang pertama untuk ku, maaf!" Anja menundukkan kepalanya. Tiba-tiba ia merasa rendah diri di hadapan suami perjaka ting-tongnya itu.
"Hey, aku tau itu." Nara perlahan mengangkat dagu sang istri. "Aku tidak mempersalahkan itu sayang." Nara perlahan mendekatkan wajahnya kemudian menempelkan bibirnya pada bibir istrinya. "Apa itu artinya kamu menyesalinya karena sudah tidak gadis lagi?" Anja hanya diam saja. "Berarti kamu menyesali kehadiran baby?"
"Tidak!" Teriak Anja spontan. "Eeemb-" Nara langsung membungkam bibir istrinya itu dengan bibirnya yang sejak tadi sudah menempel di bibir sang istri. Memang itu yang Nara tunggu, istrinya itu membuka mulutnya agar ia bisa menerobos masuk. Nara mengeksplor rongga mulut istrinya itu dengan lidahnya. Memberi gigitan-gigitan kecil namun tak menyakiti istrinya.
Kriiiiing... kriiiiing....
Bunyi telpon yang nyaring menghentikan aksi kedua anak manusia yang sudah terbakar oleh 9@ir@h. Nara mendengus melepas ciumannya. Anja hanya terkikik geli melihat suaminya yang kesal karena kegiatannya terganggu.
"Angkat dulu sana mas, siapa tahu penting."
"Baiklah." Nara segera meraih ponselnya yang ada di atas nakas, tertera nama Radit disana.
"Radit?" Nara mengernyit.
"Cepetan angkat mas, takutnya terjadi sesuatu dengan Laras." Nara pun jadi ikut khawatir. Ia segera menggeser tombol hijau tersebut.
"Hallo Ra!"
"Ada apa?" Jawab Nara malas. Sebenarnya Nara juga ikut marah dengan kelakuan Radit yang di nilainya suka nyakitin perempuan.
"Boleh minta alamat Shasa?"
"Aku kirim lewat chat!" Tut! Nara segera mematikan sambungan teleponnya kemudian mengirim alamat rumah Shasa. Bukannya Nara ada di pihak Radit karena mereka sama-sama laki-laki, tapi karena ia berharap Radit bisa segera menyelesaikan permasalahan diantara mereka.
"Ada apa mas? Apa terjadi sesuatu dengan Laras?"
"Enggak sayang, cup!" Radit kembali mengecup bibir istrinya.
"Iiih, jawab dulu!" Anja memukul pelan bahu suaminya itu.
"Radit minta alamat Shasa." Nara menarik istrinya hingga jatuh di atasnya.
"Aaahh!" Anja pun memekik karena terkejut. "Terus kamu kasih?"
"Iyalah, biar mereka bisa segera menyelesaikan masalah yang terjadi di antara mereka." Tiba-tiba saja air mata Anja jatuh tepat di dada suaminya yang membuat Nara seketika panik takutnya ia sudah menyakiti istrinya itu. "Hey sayang, kenapa? Apa ada yang sakit?" Nara m3r@b@-r@b@ tubuh istrinya.
"Gak kebayang jadi mbak Shasa, selama ini harus membesarkan anaknya sendiri. Dari mulai mengandung sampai melahirkan hingga sebesar sekarang. Pasti semua itu sulit bagi Mbak Shasa." Nara mengusap air mata istrinya yang semakin deras. "Dan sekarang Laras juga jadi korbannya. Ia harus kehilangan anak yang selama ini dinantikan kehadirannya." Anja semakin tergugu dalam tangisnya. Ia membenamkan wajahnya di atas dada sang suami. Nara hanya bisa menghela nafas pelan. Sepertinya sang kobra akan gagal lagi masuk ke dalam guanya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ
Radit nelpon Nara mau minta alamat Shasa.