
Radha nampak lahap memakan beberapa jajanan yang tadi di pesannya hingga perutnya terasa kenyang. Hampir saja ia bersendawa setelah meminum air mineral kalau saja ia tidak segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya.
"Untung tidak ada orang, hihi..." Gumam Radha pelan seraya terkikik menertawakan diri sendiri.
Ingin rasanya ia pergi ke perpus, namun jika dipikir-pikir ia pasti juga akan merasa bosan di sana. Ia sudah cukup kenyang dengan berbagai macam buku. Akhirnya Radha memutuskan membuka ponselnya. Yang mana dalam wallpaper ponselnya itu terdapat foto bayi Camelia yang nampak menggemaskan. Sepintas ide pun lewat di kepalanya. Radha segera mencari kontak Camelia dan langsung menghubunginya.
Sesaat setelah sambungan teleponnya dengan Camelia terputus, Radha segera memasukkan ponselnya kembali ke dalam tasnya kemudian beranjak dari duduknya. Tanpa berpamitan kepada ibu kantin, Radha pergi meninggalkan kantin begitu saja.
Radha keluar dari area kampus kemudian menyusuri jalanan dengan berjalan kaki. Saat ini tujuannya adalah "Raditya Cafe & Resto" milik almarhum Radit yang saat ini dikelola oleh anaknya.
Ya, saat tadi Radha menghubungi Camelia, ternyata Camelia dan bayinya sedang berada di cafe. Yang mana letaknya tidak terlalu jauh dari universitas di mana suaminya menimba ilmu. Jadi Radha memutuskan untuk pergi ke cafe saja tanpa memberitahukan kepergiannya itu kepada sang suami. Karena ia tidak ingin mengganggu konsentrasi belajar suaminya. Dan lagi suaminya itu pasti akan melarang keras dirinya untuk pergi ke cafe sendirian. Jadi Radha memutuskan akan mengabari suaminya itu nanti saja saat jam pelajaran suaminya usai. Toh suaminya itu pasti akan menelponnya kalau ia tak menemukan keberadaan istrinya di kantin maupun di perpus.
Terik matahari sudah mulai terasa menyengat permukaan kulitnya karena waktu sudah merangkak naik menuju siang. Radha berjalan hati-hati seraya menunduk memperhatikan keadaan jalan. Sesekali ia mendongakkan kepala guna melihat depan.
Butuh waktu sekitar sepuluh menitan untuk sampai di cafe tersebut dengan berjalan kaki. Radha tidak mengeluh capek sama sekali karena dia sudah terbiasa jalan-jalan mengelilingi komplek di pagi hari bersama suaminya.
Saat Radha kembali menunduk memperhatikan jalan, tiba-tiba saja ada yang membekap mulut serta hidungnya dengan selembar kain yang baunya menyengat hingga membuatnya kehabisan oksigen dan pandangannya langsung berubah menjadi gelap.
*****
Wisnu nampak gelisah dan tidak bisa konsentrasi dalam mengikuti pelajaran. Entah apa penyebabnya? Mungkin ia kepikiran dengan istrinya yang ia tinggalkan sendirian di kantin. Meskipun sudah ada ibu kantin yang akan mengawasinya.
Biasanya jika ia tidak membawa istrinya itu ke kampus, ia bisa mengikuti kelas dengan baik meskipun pikiran dan hatinya selalu tertuju kepada istrinya yang berada di rumah.
Dengan pandangan yang nampak lurus ke depan memperhatikan sang dosen yang sedang menjelaskan, tangan Wisnu perlahan merogoh ponselnya yang ada di saku kemejanya.
Wisnu membuka aplikasi WA-nya yang ternyata tidak ada pesan masuk dari istrinya. Sedang apakah istrinya itu saat ini? Masih di kantin ataukah sudah berpindah ke perpus? Wisnu pun mengirim kan pesan singkat kepada istrinya.
Namun hingga beberapa menit berlalu, balasan pesan dari istrinya tak kunjung masuk. Jangankan balasan, dilihat saja tidak! Sedang apakah istrinya itu hingga tak sempat melihat ponselnya? Mungkinkah saat ini istrinya itu sedang fokus membaca buku di perpus, hingga mengabaikan ponselnya yang berbunyi? Bisa jadi kan?
Akhirnya Wisnu kembali memasukkan ponselnya ke dalam kantung bajunya dan kembali fokus memperhatikan sang dosen di depan.
Hingga waktu menunjukkan pukul dua belas tepat dan kelas usai, Wisnu langsung melesat keluar dari kelas menuju ke kantin. Namun sesampainya di kantin, ia tidak mendapati istrinya di sana. Bahkan ibu penjaga kantin pun tidak melihat keberadaan istrinya. Karena istrinya itu tidak berpamitan kepada sang penjaga kantin saat pergi meninggalkan kantin.
Wisnu langsung melesat meninggalkan kantin menuju ke perpustakaan. Sesampainya disana, Wisnu juga tidak mendapati istrinya. Bahkan saat ia bertanya kepada penjaga perpus, penjaga perpus itu tidak melihat adanya wanita hamil yang masuk ke dalam perpus. Semakin kalang kabutlah dirinya.
Wisnu segera mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi sang istri. Namun nomor sang istri selalu berada di luar jangkauan.
"Aaaaaaarrrgh!" Teriak Wisnu frustasi karena tidak menemukan keberadaan istrinya. Wisnu kemudian menyusuri seluruh kampus guna mencari keberadaan istrinya.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ