
Motor yang dikemudikan oleh Wisnu berhenti di depan sebuah warung tenda yang ada di pinggir jalan.
"Kak, ayo turun!" Wisnu memegang tangan Radha yang masih melingkar di perutnya.
"Eh, sudah sampai ya?" Radha mengedarkan pandangannya dan mendapati banyak warung tenda yang berjajar rapi di pinggir jalan.
"Kak, ayo turun!" Ucap Wisnu sekali lagi seraya menepuk tangan Radha pelan.
"Eh iya!" Radha buru-buru melepas tangannya yang melingkar di perut sang adik kemudian segera turun dari atas motor. Wisnu pun baru bisa turun dari atas motor setelah terbebas dari pelukan sang kakak.
"Ayo!" Wisnu menggandeng tangan Radha memasuki warung tenda tersebut yang ternyata warung penjual sate. "Kakak pernah makan sate belum?" Tanya Wisnu setelah mereka berdua mendapatkan tempat duduk. Radha menggeleng pertanda ia memang belum pernah memakan sate. "Kakak doyan ayam nggak?" Radha mengangguk. "Bang, sate kambingnya seporsi. Sate ayamnya juga seporsi." Teriak Wisnu sedikit keras karena banyak kendaraan bermotor yang berlalu lalang hingga menimbulkan suara bising.
"Siap Wis!" Rupanya tukang sate sudah kenal baik dengan Wisnu karena Wisnu dan teman-temannya sering makan di tempat itu. "Tumben sama pacar Wis? Biasanya suka rame-rame kalau datang ke sini?"
"Eh, ini kakak ku bang!"
"Iya kah? Duh, Maaf ya neng." Radha tak menyahut, hanya membalasnya dengan seulas senyum.
"Kakak pakai nasi nggak?" Radha menggeleng. "Nasinya dua bang!"
"Siap!" Teriak tukang sate menyahut.
"Kakak kan nggak pakai nasi Wis." Radha mengingatkan Wisnu.
"Iya, nanti biar aku yang makan nasinya."
"Dua?" Tanya Radha seolah tak percaya.
"Iya, aku biasanya emang dua porsi nasinya kalau makan di sini."
"Dih, rakus!" Cibir Radha.
Tak berselang lama, pesanan mereka sudah diantarkan oleh abang-abang tukang sate. "Minumnya apa Wis?" Tanya abang tukang sate setelah meletakkan sate beserta nasinya ke atas meja.
"Kakak Mau yang anget apa dingin?"
"Anget saja, udaranya dingin di sini."
"Teh anget satu, dingin satu bang!"
"Siap!" Tukang sate tersebut segera berlalu dari hadapan mereka berdua.
Mereka berdua langsung menyantap makanannya setelah abang tukang sate meletakkan minuman ke atas meja. Wisnu memindahkan separuh nasi ke dalam piring satunya kemudian mendorong piring yang berisi separuh nasi itu ke arah Radha.
Tanpa sadar Radha sudah menghabiskan separuh nasi dan juga seporsi sate ayam. Wisnu yang sejak tadi diam-diam memperhatikan kakaknya itu mengulas senyum tanpa sepengetahuan Radha.
"Heeeekk! Eh," Radha langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya saat mulutnya mengeluarkan bunyi sialan setelah dia meneguk habis teh hangat miliknya. Ingin rasanya ia bersembunyi di lubang semut agar dia bisa terhindar dari rasa malu saat itu.
Radha celingak-celinguk memperhatikan keadaan sekitar, takutnya ada yang mendengar bunyi sendawanya tadi. Sedangkan Wisnu tetap santai menikmati makanannya yang tinggal sedikit seolah-olah tidak mendengar bunyi nyaring tadi. Padahal hampir saja ia tersedak makanan yang dikunyahnya karena menahan tawa. Beruntung ia bisa menguasai diri dengan baik hingga tawanya itu tidak meledak. Kakaknya itu pasti akan sangat malu jika ia menertawakannya. Bisa-bisa ia nanti yang akan menjadi sasaran kakaknya itu.
"Ehem!" Radha pura-pura berdehem untuk menetralkan rasa malunya.
"Kakak mau minum lagi?"
"Nggak, kakak sudah kenyang! Ayo cepetan, lelet amat."
"Iya, ini juga sudah selesai tinggal bayar. Kakak tunggu di motor saja, biar aku bayar dulu." Wisnu segera mendekati abang tukang sate. Sedangkan Radha memilih keluar dari warung sate tersebut dan berdiri di samping motor Wisnu.
Tak berselang lama, Wisnu pun menyusulnya. "Ayo kak!" Wisnu segera menaiki motornya disusul oleh Radha yang langsung duduk di belakang dan langsung melingkarkan kedua tangannya kembali ke perut Wisnu.
Deg!
Lagi dan lagi jantung Wisnu serasa marathon. "Duh Gusti, kenapa seperti ini lagi? Apa kakak nanti nggak akan marah ya kalau aku melepaskan belitan tangannya di perut ku? Ah, tapi bukannya tadi aku yang menyuruhnya berpegangan? Tapi kan aku tidak menyuruhnya berpegangan seperti ini? Haduuuuhh gimana ini?"
"Wis, kenapa diam saja? Ayo cepetan kita pulang, dingin ini."
Wisnu langsung tersentak dari lamunannya."I-iya kak, kita pulang sekarang!" Wisnu langsung menstarter motornya kemudian melesat meninggalkan warung tenda.
Radha semakin mengeratkan kedua tangannya karena ia merasa kedinginan. Wisnu yang mengerti itu pun tanpa sadar langsung menumpukkan tangan kirinya di tangan Radha yang melingkar di perutnya untuk menghalau rasa dingin yang menerpa kulit tangan kakaknya itu.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ