
Tak terasa usia kehamilan Anja saat ini sudah memasuki usia enam bulan. Dan selama itu pula Nara mengalami mual dan muntah bahkan ngidam. Sedangkan Anja menikmati kehamilannya dengan penuh kebahagiaan. Pasalnya, ngidam yang biasanya dirasakan oleh ibu hamil sudah digantikan oleh suaminya.
Selama enam bulan ini Nara memilih bekerja dari rumah karena ia tidak mungkin masuk ke kantor dalam keadaan tubuh yang lemah. Papa Hadi pun memaklumi keadaan anaknya itu. Alhasil Bima lah yang harus pontang-panting bolak-balik antara kantor dan kediaman Wijaya.
Seperti pagi ini, Bima sudah datang mengantarkan setumpuk berkas untuk ditandatangani oleh Nara. Saat ini mereka berdua, yaitu Nara dan Bima sedang berada di ruang kerja Nara sekaligus ruang kerja Papa Hadi.
Bima hampir saja menyemburkan tawanya saat melihat keadaan bosnya itu yang nampak kacau. Amit-amit jabang bayi, jangan sampai ia nanti mengalami seperti yang dialami oleh bosnya itu.
"Berani ketawain gue, gue sumpahin loe kayak gue nanti kalau udah punya bini."
"Ah elah boss, doanya jelek amat kayak muka loe." Bima sudah tidak tahan lagi menahan tawanya, akhirnya tawa yang sejak tadi ditahannya meledak seketika. Nara langsung melempar pulpen yang sejak tadi dipegangnya hingga mengenai kening Bima.
"Aduh!" Bima mengusap keningnya yang terkena lemparan pulpen bossnya.
"Apa dulu Zian juga mengalami ngidam seperti yang gue rasain saat ini ya Bim?" Tanya Nara tiba-tiba.
"Mana gue tempe." Bima mengedikkan bahunya. "Ngomong-ngomong soal Zian, apa boss sudah cerita sama Anja kalau boss adalah penyebab kecelakaan itu." Ucap Bima spontan tanpa menyadari ucapannya.
Pyaaaaaaarrr!
"Astagaaaaa!" Nara dan Bima terlonjak kaget. Nara langsung bangkit dari duduknya di ikuti Bima, kemudian menghampiri pintu yang ternyata tidak tertutup rapat. Nara pun seketika membulatkan matanya saat melihat siapa yang berada di depan pintu ruang kerjanya.
"Sayang!" Nara seketika panik saat melihat istrinya yang meringis seraya memegangi perutnya. Ya, tadi Anja ingin mengantarkan minuman untuk Bima ke dalam ruang kerja suaminya. Namun saat tiba di depan pintu ruangan kerja suaminya, sayup-sayup telinganya mendengar suaminya itu menyebut nama almarhum suaminya yang pertama yaitu Zian. Anja pun menjadi tertarik untuk mendengarkan pembicaraan suaminya dengan asistennya itu terlebih dahulu. Dan Anja tidak menyangka akan mendapatkan kejutan sedahsyat ini.
"Aaaaaahh! Sssstt!" Anja meringis memegangi perutnya yang terasa nyeri.
"Bima! Siapkan mobil, kita ke rumah sakit sekarang." Teriak Nara menggelegar hingga membuat Mama Rosi yang saat itu sedang duduk di depan televisi bersama baby Radha pun berlarian menghampiri mereka.
"Ada apa ini? Ya Allah sayang." Mama Rosi seketika panik melihat keadaan menantunya yang meringis seraya memegangi perutnya. "Ayo Ra, cepetan bawa istri mu ke rumah sakit." Kepanikan Mama Rosi malah semakin membuat Nara panik. Nara langsung menggendong istrinya kemudian berlari keluar rumah dan masuk ke dalam mobil. Bima langsung melesatkan mobilnya menuju rumah sakit di mana tempat Anja biasanya periksa kandungan.
"Tolong!" Teriak Bima memanggil petugas yang berada di depan. Seorang scurity serta beberapa perawat langsung mendorong brankar ke arah mobil. Nara dengan sigap mengangkat tubuh istrinya dengan dibantu oleh Bima, kemudian merebahkan tubuh sang istri ke atas brankar. Mereka kemudian bersama-sama mendorong brankar tersebut menuju ke UGD.
Tak berselang lama, terlihat Mama Rosi bersama Pak Mun berlarian menyusuri selasar Rumah Sakit menuju ke UGD.
"Bagaimana keadaan Anja Ra?" Tanya Mama Rosi panik dengan nafas yang ngos-ngosan.
"Masih ditangani dokter di dalam ma." Nara meraup wajahnya kasar.
"Maaf! Maafkan saya boss, maafkan saya bu." Bima menunduk dalam di kursi tunggu depan ruang UGD karena merasa bersalah. Ia tidak menyangka kalau perkataannya tersebut akan didengarkan oleh Anja.
"Sebenarnya apa yang terjadi?" Mama Rosi mendudukkan dirinya di samping Bima. Bima pun langsung menceritakan kejadian yang baru saja terjadi, yang tak lain adalah karena kecerobohannya.
*****
*****
*****
*****
*****
Ini timingnya bareng sama jatuhnya foto di novel "Candamu Canduku" Bab Seno & Baby Camelia dan juga novel "Luka Hati Luka Diri" Episode 67 ketok palu perceraian Laras & Radit π€π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ