
"Selamat pak, ibu Anja saat ini sedang mengandung enam minggu." Ucap dokter yang bername-tag Lusi tersebut. Tadi sebenarnya dokter Lusi menyarankan Anja untuk melakukan tes urine terlebih dahulu. Namun Nara yang tidak sabaran meminta untuk langsung melakukan USG saja agar lebih jelas. dan ternyata istrinya itu saat ini memang sedang hamil anaknya.
"Yess!" Teriak Nara mengungkapkan kebahagiaannya kemudian menghujani wajah istrinya dengan banyak kecupan, hingga membuat dokter Lusi dan juga perawat yang ada di sana geleng kepala melihat aksi suami dari pasiennya tersebut.
Nara tadi juga sempat bingung saat tiba di rumah sakit, istrinya itu mengajaknya mengantri di poli kandungan. Namun sedetik kemudian ia mulai paham dengan apa yang terjadi pada dirinya. Nara bukanlah orang awam yang tidak tahu apa-apa. Sedikit banyak ia tahu tentang masalah kehamilan, karena ada juga di antara temannya yang mengalami hal seperti yang dialaminya saat istrinya sedang hamil.
"Bagaimana cara menghilangkan mual dan muntah saya dok?" Tanya Nara saat mereka sudah kembali duduk di kursi depan dokter Lusi.
"Tidak ada pak. Kalau yang mual Bu Anja, saya bisa resepkan obat mual buat ibu hamil. Tapi kalau sang suami yang mengalami mual muntah serta ngidam, itu namanya couvade syndrome atau biasa di sebut kehamilan simpatik. Jadi jalani dan nikmati saja pak." Dokter Lusi tersenyum ramah.
"Biasanya berapa lama dok?" Nara mulai resah.
"Biasanya hanya awal kehamilan saja Pak atau trimester pertama. Tapi juga ada yang sampai istrinya melahirkan." Seketika itu bola mata Nara membulat sempurna karena terkejut dengan ucapan dokter Lusi. Apa jadinya kalau ia harus mual muntah selama sembilan bulan? Baru sehari saja rasanya badan sudah lemas tak bertulang. Apa kabar kalau sampai benar-benar ia mengalami mual muntah selama sembilan bulan?
Sepulangnya dari rumah sakit, mereka sudah dicegat oleh mama Rosi di teras rumah.
"Bagaimana?" Tanya Mama Rosi saat Nara dan Anja sudah tiba di dekatnya.
"Yess, berhasil ma." Nara langsung memeluk mamanya.
"Selamat ya sayang." Mama Rosi beralih memeluk menantunya setelah melepas pelukan anaknya.
"Terimakasih ma!"
"Sudah berapa bulan?"
"Enam minggu ma!" Bukan Anja yang menjawabnya namun Nara yang menjawabnya dengan antusias. "Itu berarti sekali tembak langsung jadi." Ucap Nara menggebu-gebu yang langsung mendapat timpukan dari mama Rosi. Sedangkan Anja hanya menunduk malu dengan ucapan suaminya.
"Dedek mana ma?"
"Habis makan tadi langsung tidur. Kalian makan siang lah dulu setelah itu baru istirahat." Mama Rosi membimbing menantunya masuk ke dalam rumah menuju ke ruang makan. Sedangkan Nara mengekor di belakang mereka.
"Mas, jangan lebay dech!" Anja mencebikkan bibirnya.
"Ingat kata dokter sayang, kamu nggak boleh kelelahan. Jadi jangan naik turun tangga, kalau perlu sesuatu tinggal ngomong sama aku. Aku akan menjadi suami siaga buat kamu." Nara mengusap-usap perut istrinya yang masih rata. Saat ini mereka sedang tiduran di atas ranjang.
"Kalau mas Nara lagi kerja dan nggak ada di rumah terus aku minta tolong sama siapa?"
"Mbak Tini atau mbok Parni kan bisa."
"Mbak Tini pasti sibuk ngurusin dedek, kalau Mbok parni pasti sibuk ngurusin dapur sama rumah. Kalau minta bantuan Mama kan nggak enak mas."
"Iya juga ya." Nara nampak berfikir. "Apa perlu tambah pembantu lagi buat ngurusin kamu?"
"Mas," Anja memiringkan tubuhnya menghadap suaminya kemudian tangannya terulur mengelus rahang tegas sang suami. "Aku kan hamil, bukan lagi sakit. Jadi gak perlu segitunya. Ibu hamil itu juga harus banyak gerak biar janinnya sehat. Aku janji akan hati-hati." Perlahan Anja mendekatkan wajahnya ke wajah suaminya lalu mendaratkan kecupan di bibir sang suami. Nara yang menerima perlakuan manis dari sang istri tidak menyia-nyiakan itu. Ia langsung m3lum@@t habis bibir sang istri hingga keduanya kehabisan nafas baru Nara melepaskan pagutannya.
"Baiklah, tapi janji harus hati-hati." Nara akhirnya mengalah. Anja pun mengangguk.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ