
"Sayang," Panggil Wisnu saat memasuki ruang UGD diikuti oleh Buna Laras dan ayah Seno. Nampak Radha masih terbaring lemas di atas brankar.
"Mas!" Radha mencoba untuk mendudukkan tubuhnya.
"Sudah, baring saja kalau masih pusing." Cegah Wisnu. "Kata dokter kamu hamil?" Radha mengangguk. "Kenapa gak bilang?" Wisnu mengusap kepala istrinya kemudian membenamkan kecupan hangat di dahi sang istri.
"Aku juga baru tahu mas."
"Terimakasih sudah memberikan ku kejutan yang luar biasa." Wisnu kembali mengecup istrinya. Namun kali ini bukan di dahi ataupun di pipi, melainkan di bibir hingga membuat istrinya itu melotot.
"Mas, ish!" Radha memukul bahu suaminya pelan karena malu. Ayah Seno dan Buna Laras hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya yang tidak melihat tempat.
"Permisi pak!" Dokter yang menangani Radha mendekat. "Untuk lebih jelasnya sebaiknya diperiksakan saja ke dokter kandungan." Saran sang dokter. "Saya memang seorang dokter Pak, tapi saya dokter umum. Akan lebih baik bila diperiksa langsung oleh ahlinya. Namun saya bisa pastikan kalau Bu Radha saat ini memang sedang mengandung." Lanjut sang dokter.
Sesuai dengan saran sang dokter, brankar yang membawa Radha didorong oleh beberapa perawat memasuki sebuah ruangan dokter kandungan. Dan benar saja setelah dilakukan tes dan juga USG, sesuai dengan dugaan dokter yang sebelumnya menangani Radha, bahwa saat ini Radha memang sedang mengandung dan usia kandungannya baru memasuki tiga minggu.
Ucapan syukur tak henti-hentinya terlantun dari bibir mereka. Tak terasa Buna Laras sampai menitikkan air mata. Ia tak menyangka kalau dirinya akan mendapatkan dua cucu sekaligus dalam waktu dekat. Saat ini mereka sedang menantikan kelahiran cucu pertama mereka dari anak pertamanya, yaitu Camelia yang saat ini usia kandungannya sudah mendekati HPL. Dan tak lama lagi mereka juga akan mendapatkan cucu dari anak laki-lakinya itu.
Karena kondisi Radha yang baik-baik saja, maka ia langsung diperbolehkan pulang oleh sang dokter. Radha ikut bersama Ayah Seno dan Buna Laras karena Pak Selamet sudah mereka suruh pulang sejak tadi. Sedangkan Wisnu akan membuntuti mereka dari belakang dengan motornya.
Sesampainya di rumah, Radha langsung mendapat sambutan ucapan selamat dari para pekerja rumah makan. Mungkin mereka tahu berita kehamilan Radha dari Pak Selamet, karena Pak Selamet juga ada di sana.
Wisnu langsung membawa istrinya itu masuk ke dalam rumah agar sang istri bisa langsung beristirahat. Namun sebelum itu mereka terlebih dahulu makan siang karena memang sudah waktunya makan siang.
Setelah makan siang berdua karena Ayah Seno dan bunda Laras masih berada di warung, mereka berdua langsung masuk ke dalam kamar untuk beristirahat.
Ya, saat tadi istrinya itu sibuk menerima ucapan selamat dari para pekerja rumah makan, ayah Seno sempat berbicara berdua dengannya mengenai penyebab istrinya sampai dilarikan ke rumah sakit. Seketika itu emosi Wisnu langsung melonjak naik. Kalau sebelumnya dirinya sudah tahu penyebab istrinya itu dilarikan ke rumah sakit, ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan untuk menghajar orang yang tadi dijumpainya di pintu masuk lobby rumah sakit.
"Sekarang istirahatlah, aku tidak akan kemana-mana." Radha kembali mengangguk dan langsung menyamankan posisinya seperti biasanya yaitu di bawah ketiak sang suami.
"Buka bajunya!" Pinta Radha dan Wisnu pun menurut dan langsung membuka bajunya. Sekarang Wisnu tahu kalau perubahan sikap istrinya itu disebabkan oleh kehamilan sang istri.
Radha kembali menyamankan posisinya setelah suaminya kembali berbaring di sampingnya. Wisnu juga langsung merengkuh tubuh istrinya ke dalam pelukannya. Mereka berdua sama-sama memejamkan mata, menikmati kehangatan yang tercipta di antara keduanya. Hingga mereka berdua akhirnya sama-sama terlelap.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ