
Wisnu tiba di rumah pukul tiga sore. Ya, seusai kelas Wisnu langsung melesat keluar dari ruangan mengabaikan teriakan teman-temannya yang tadi berencana ingin mengerjakan tugas bersama. Mereka semua nampak keheranan melihat sikap Wisnu akhir-akhir ini.
Wisnu memilih segera pulang ke rumah agar bisa melihat keadaan istrinya itu saat ini. Sejak tadi ia tidak tenang dan tidak fokus mengikuti kelas terakhirnya. Mungkin raganya ada di dalam kelas, namun jiwanya seolah terbang menghampiri sang pemilik hatinya.
Setibanya di parkiran kampus Wisnu langsung melesatkan motornya meninggalkan area kampus. Wisnu memacu kuda besinya itu dengan kecepatan tinggi agar segera tiba di rumah. Selama perjalanan, pikirannya hanya tertuju kepada sang istri. Apakah istrinya itu beneran marah kepadanya? Lalu apa penyebab istrinya itu marah? Apa karena istrinya itu merasa kesakitan dan kesulitan untuk berjalan? Ah entahlah, dari pada menerka-nerka lebih baik ia tanyakan langsung kepada istrinya nanti sesampainya di rumah.
*****
Tok.. tok.. tok..
"Sayang?" Teriak Wisnu dari depan kamar istrinya.
Ceklek!
"Eh," Hampir saja ia terjungkal saat memutar handle pintu ternyata pintunya tidak terkunci. Ia pikir kamar itu masih terkunci dari dalam seperti saat tadi pagi sebelum dirinya berangkat kuliah.
Wisnu melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar istrinya lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru kamar, namun ia tidak menemukan keberadaan istrinya. Terdengar suara gemericik air dari dalam kamar mandi membuat dirinya merasa lega.
Tak berselang lama pintu kamar mandi terbuka dan muncullah istrinya dari dalam sana.
"Eh, sudah pulang mas?" Radha sedikit terlonjak saat mendapati suaminya itu sudah berada di dalam kamar. Bukannya tadi suaminya itu bilang kalau akan pulang agak sorean? Terus kenapa sekarang sudah ada di rumah?
"Heem!" Wisnu melangkah mendekati istrinya dan langsung memeluknya dengan erat. Radha yang masih mematung di depan pintu kamar mandi sedikit bingung. Ada apakah dengan suaminya itu? Ah, tapi bukannya suaminya itu memang suka memeluk dirinya. Bukan hanya memeluk saja, tapi juga suka menciumnya seenak jidatnya.
"Ada apa?" Radha berusaha mengurai pelukan suaminya, namun suaminya itu seolah enggan melepaskannya.
"Jangan marah!" Lirih Wisnu. Radha terlihat mengernyitkan alisnya karena ia merasa tidak paham dengan ucapan suaminya.
"Siapa yang marah?" Kali ini Radha berhasil lepas dari pelukan sang suami. "Aku tidak marah!" Elak Radha.
"Tapi kamu mengabaikan ku."
"Sejak tadi pikiran ku gak tenang. Plis, jangan pernah mengabaikan ku sayang."
"Mengabaikan apa memangnya?"
"Kamu marah dan tidak mau membalas pesan ku lagi." Alis Radha kembali mengernyit. Ia segera meraih ponselnya yang masih tergeletak di atas nakas. Memang sejak tadi dirinya belum lagi memegang ponselnya. Dibukanya kembali pesan dari suaminya, yang ternyata masih ada pesan susulan.
"Oh ya ampun!" Radha jadi gemas sendiri dengan kelakuan suami bocahnya itu. "Dasar bocah, aku pikir apaan?" Ternyata hanya gara-gara dirinya yang tak membalas pesan suaminya itu membuat mereka salah paham. "Aku tidak marah mas, aku tadi kebelet pipis. Setelah dari kamar mandi aku langsung keluar dari kamar untuk makan siang dan nggak lihat ponsel lagi. Aku pikir tidak ada pesan lagi yang masuk. Dan ini aku baru pegang ponsel lagi." Radha mengangkat ponsel yang ada di genggamannya.
Akhirnya selesai juga kesalahpahaman di antara mereka. Sepertinya Radha harus extra sabar menghadapi suami bocahnya itu. Semoga saja masih tersisa banyak stok sabar dalam dirinya. Karena kesabarannya itu sudah ia kerahkan selama empat tahun terakhir ini hanya untuk menunggu seseorang yang pada akhirnya tetap menorehkan luka terdalam di dalam hatinya.
"Baiklah, kalau memang kamu tidak marah, sekarang buktikan!" Wisnu langsung mendorong tubuh istrinya hingga terlentang di atas ranjang. Kemudian ia langsung memagut bibir sang istri. Dan Radha yang memahami suasana hati suaminya saat ini segera membalas pagutan sang suami.
"Baiklah, sepertinya memang benar kata orang kalau persoalan rumah tangga memang bisa diselesaikan di atas ranjang." Dengan sepenuh hati Radha melayani suaminya sore itu. Ia tak lagi memberontak seperti kemarin sore yang merasa belum siap dan seperti tadi malam yang merasa kelelahan.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ