I Love You My Baby

I Love You My Baby
ILYMB 153



Menjelang Maghrib Bayu tiba di kediaman Wisnu, lebih tepatnya di rumah makan. Karena Bayu langsung masuk ke dalam rumah makan saat tiba di sana.


Bayu yang sejak tadi sudah menyusuri jalanan entah sudah yang ke berapa puluh kali, namun masih belum menemukan keberadaan Radha. Bayu berniat menghubungi Wisnu untuk memberitahukan bahwa dirinya tidak berhasil menemukan keberadaan istri sahabatnya itu. Namun sayangnya Wisnu tidak mengangkat teleponnya. Jadi ia memutuskan untuk datang ke rumah Wisnu saja untuk memastikan.


"Wisnu ada Bu?" Tanya Bayu kepada Bu Sih. Rumah makan nampak terlihat sepi karena menjelang Maghrib adalah waktu yang di hindari oleh sebagian orang untuk keluar rumah. Orang Jawa menyebutnya Sandeolo atau surup. Yang mana konon waktu inilah para makhluk halus keluar dari sarangnya.


"Ada di belakang mas." Jawab Bu Sih yang sedang duduk manis menonton TV.


Bayu langsung melesat ke belakang lewat pintu samping. Bayu sudah terbiasa datang ke sana bersama Wisnu. Jadi ia sudah tidak sungkan lagi keluar masuk rumah makan.


Bayu mengetuk pintu rumah Wisnu bertepatan dengan Wisnu yang baru saja keluar dari kamarnya. Wisnu pun langsung melangkah menuju ke pintu rumahnya tanpa memperhatikan keadaan dirinya yang acak-acakan dan hanya menggunakan kolor serta kaos oblong. Dengan menguap lebar, Wisnu membuka pintu rumahnya dan mendapati sahabatnya berdiri tegak di depan pintu.


Bayu langsung mendelik saat melihat keadaan sahabatnya itu yang sudah dipastikan baru bangun tidur. Enak saja, dirinya sejak tadi pontang-panting menyusuri jalanan untuk mencari istri sahabatnya itu, eh malah sahabatnya itu enak-enakan tidur di rumah. Begitulah kira-kira arti delikan Bayu yang ditujukan kepada Wisnu. Namun sepertinya Wisnu belum menyadarinya.


"Ngapain sore-sore ke sini? Kayak nggak ada kerjaan aja." Ucap Wisnu santai.


Ingin rasanya Bayu mencekik sahabatnya itu. Enak bener dia ngomong. "Cuci muka dulu sana, biar loe sadar!" Ujar Bayu sinis setengah dongkol.


"Emang gue baru bangun, tunggu ya?" Wisnu langsung membalikkan tubuhnya. Namun belum juga kakinya melangkah, bajunya sudah ditarik oleh Bayu dari belakang hingga membuat Wisnu hampir saja terjengkang.


"Apa sih, ah!" Wisnu mengibaskan tangan Bayu yang masih mencengkram bajunya tanpa menyadari raut wajah Bayu yang sudah merah padam.


"Gue sejak tadi muter-muter menyusuri jalan, entah sudah berapa puluh kali. Dan ternyata loe malah enak-enakan tidur di rumah. Pinter banget loe ya! Di telpon nggak diangkat." Geram Bayu.


Kening Wisnu nampak mengernyit. Rupanya kesadarannya belum kembali 100%. Bayu yang melihat itu nampak semakin geram. Ingin rasanya ia mencopot sepatunya kemudian menimpukkan ke kepala sahabatnya itu agar tersadar.


"Istri loe bagaimana? Udah ketemu belum?"


"Astaghfirullah! Nyebut bener punya temen kek begitu." Bayu mengelus dadanya dramastis kemudian mendudukkan tubuhnya di kursi teras. Mencoba mengatur emosinya yang sempat naik.


Tak lama kemudian Wisnu sudah kembali menghampirinya. Wisnu berdiri di samping Bayu sambil menggaruk kepalanya. Ia baru tersadar, ternyata dirinya itu belum mengabari Bayu kalau istrinya sudah ditemukan.


"Maaf ya Yu, gue benar-benar lupa, suwer!" Wisnu mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk angka V dengan tampang dibuat semelas mungkin agar sahabatnya itu tidak marah kepadanya.


Bayu hanya bisa menghela nafasnya kasar. Meskipun sahabatnya itu sudah membuatnya jengkel setengah mati, namun Bayu tetap bersyukur karena istri sahabatnya itu sudah ditemukan.


"Ya sudah, gue mau pulang! Sepet gue lihat muka loe!" Bayu langsung berlalu meninggalkan kediaman Wisnu. Dan sekarang giliran Wisnu yang terbengong memperhatikan sahabatnya itu hingga menghilang dari pandangannya.


Wisnu kembali menggaruk kepalanya. Dengan cengengesan karena menertawakan tingkah konyolnya sendiri, Wisnu masuk ke dalam rumah dan menutup pintunya.


*****


*****


*****


*****


*****


Lope-lope sekebun Pare 😘😘πŸ€ͺπŸ€ͺ


Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh β˜•β˜•πŸŒΉπŸŒΉ