
Satu bulan berlalu. Sekembalinya dari Surabaya, Nara kembali disibukan dengan pembangunan cabang hotel Prasasti. Hari ini adalah hari Minggu, sudah pasti semua orang sedang menikmati hari liburnya. Tak terkecuali Nara dan Anja.
Nara mencoba usul dari Bima sang asisten yang diucapkan dua bulan yang lalu, yaitu me time. Hari ini ia akan menemani serta menuruti semua keinginan ibu dari anak-anaknya itu. Dan disinilah mereka berada, di dalam salah satu restoran yang ada di dalam mall, setelah setengah harian ini mereka memutari pusat perbelanjaan tersebut. Mereka terlebih dahulu meletakkan barang-barang belanjaan ke dalam mobil. Mereka hanya pergi berdua saja tanpa membawa anak-anak bersama mereka.
"Mas, aku ke toilet dulu ya?" Pamit Anja kemudian melangkah mencari toilet yang masih berada di dalam restoran tersebut.
"Heemm, jangan lama-lama." Sambil menunggu pesanan mereka, Nara membuka ponselnya yang sengaja di silent agar tidak mengganggu waktunya bersama sang istri. Beruntung tidak ada chat atau pun panggilan masuk.
Tak berselang lama, seorang pramusaji datang dengan senampan makanan dan minuman pesanan mereka. Setelah kepergian pramusaji tersebut, Nara melihat jam yang melingkar di tangannya. Sudah lima belas menit berlalu, tapi istrinya itu tak kunjung kembali dari toilet. Nara pun memutuskan untuk menunggu lima menit lagi. Jika dalam waktu lima menit istrinya tak kunjung kembali, Nara akan mencarinya ke dalam toilet.
"Papi!" Teriak bocah laki-laki sekitar umur lima tahunan. Bocah itu berlari menghampiri meja yang diduduki oleh Nara, bersamaan dengan Anja yang baru saja kembali dari toilet. Seketika itu Anja mematung di tempatnya, saat melihat bocah itu memeluk erat suaminya yang nampak terkejut. Dan yang lebih membuat Anja terkejut adalah mami sang bocah yang berjalan mendekat ke arah suaminya. Selena! Ya orang itu adalah Selena, dan bocah laki-laki yang memeluk suaminya adalah Excel teman dari anaknya.
Tanpa bisa berkata sepatah kata pun, Anja berlari keluar dari restoran tersebut dengan air mata yang bercucuran. Dan seketika itu Nara baru tersadar dari keterkejutannya. Ia langsung bangkit berdiri hingga membuat Excel terjatuh ke lantai dan menjadi pusat perhatian orang-orang yang ada di dalam restoran tersebut. Nara yang menyadari keadaan sekitar, segera membantu Excel berdiri dan lupa untuk mengejar istrinya yang sudah menaiki sebuah taksi.
"Selena?" Nara semakin terkejut saat melihat Selena, anak dari Pak Handoko rekan bisnisnya berdiri di dekat mereka. Selena hanya menyunggingkan senyumnya. "Apa maksud semua ini?" Nara bertanya lirih dengan gigi yang bergemelatuk menahan amarahnya.
"Papi? Ini papi yang ada di ponsel Mami kan?" Tanya Excel yang sama sekali tidak mendapat jawaban dari keduanya.
"Tanyakan saja kepada mami mu!" Jawab Nara lirih namun penuh dengan penekanan. Nara segera keluar dari restoran tersebut untuk mencari sang istri. Nara mencoba menghubungi nomor sang istri namun tidak diangkat. "Aaaaargh! Br3n9$3k!" Nara segera menuju ke tempat parkir. Hanya satu tujuannya yaitu rumah, karena tidak mungkin istrinya itu pergi ke tempat lain. Nara langsung melesatkan mobilnya menuju ke rumahnya.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam lamanya karena terjebak macet, Nara akhirnya tiba di rumah. Nara langsung melesat masuk ke dalam rumah dan langsung disambut oleh tatapan tajam mama Rosi yang memang sedang menunggu kedatangan anaknya itu.
"Ma, Anja dimana?"
"Aku tidak melakukan apapun, sumpah!" Nara mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya membentuk huruf V.
"Lalu kenapa kamu membiarkan istri mu pulang sendirian dalam keadaan menangis?"
"Hanya kesalahpahaman saja ma, aku akan menjelaskannya." Nara berlari menaiki tangga tanpa menghiraukan kemarahan Mama Rosi.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ