
Sudah sebulan ini laki-laki yang mengklaim dirinya sebagai kekasihnya itu pergi. Namun tak kunjung ada kabar beritanya, padahal Radha sudah membuka blokir pada kontak laki-laki tersebut. Ingin rasanya ia menghubungi Elmer terlebih dahulu, namun rasa gengsinya yang setinggi menara Eiffel itu mengalahkan gejolak hatinya.
Radha menjalani hari-harinya dengan malas, seperti tidak ada semangat yang berkobar dalam jiwanya. Dia juga datang ke hotel suka-suka, sesuai dengan moodnya hari itu. Tapi meskipun begitu, ia tetap membantu Bunanya di warung.
"Kakak kenapa sih?" Camelia menyeret satu kursi mendekat ke arah Radha lalu mendudukinya. Saat ini warung sudah dalam keadaan sepi karena waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Sebenarnya gadis itu ada kuliah nanti jam sebelas, tapi kan lumayan masih ada waktu untuk ngobrol dengan kakaknya. "Akhir-akhir ini Camel perhatiin kakak kayak nggak semangat gitu. Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran kakak?" Radha menggeleng membuat Camelia menghembuskan nafasnya kasar. "Kalau kakak ada masalah itu cerita, jangan dipendam sendiri. Apa kakak tidak percaya sama Camel? Meskipun Camel nanti tidak bisa memberikan solusi, tapi kan setidaknya beban dalam pikiran kakak sedikit berkurang."
Tiba-tiba saja air mata menetes di kedua pipi Radha tanpa permisi. Radha benar-benar bingung dengan hatinya sendiri. Di satu sisi ia benci dengan Elmer yang hampir saja merenggut mahkotanya. Tapi disisi lain ia juga masih sangat mencintai Elmer. Katakanlah dia gagal move on.
Sekarang setelah laki-laki itu mengklaim dirinya sebagai kekasihnya, bukannya berusaha untuk meluluhkan hatinya kembali, malah menghilang bagai ditelan bumi.
"Kakak ke belakang dulu ya, bukannya sebentar lagi kamu ada kuliah?" Radha bangkit dari duduknya seraya mengusap air matanya.
"Ya sudah kalau kakak belum mau cerita, Camel tidak akan memaksa. Yang penting jangan terlalu banyak pikiran, nanti kakak bisa sakit. Nanti kalau sampai kakak sakit, dikira Daddy kakak nggak diberi makan di sini." Camel berusaha membuat kakaknya itu tersenyum dengan candaannya, dan itu berhasil! Radha nampak menyunggingkan senyumnya.
"Bisa aja kamu, ayo ke belakang!" Radha langsung merangkul bahu Camelia. Mereka berdua berjalan beriringan menuju ke rumah.
*****
Sore itu angin berhembus cukup kencang menerbangkan surai rambut seorang gadis yang berdiri di ujung rooftop, lebih tepatnya di pinggir pembatas. Di sanalah terakhir kalinya ia bertemu dengan kekasihnya sebulan yang lalu.
Tadi siang saat Radha melihat Camel keluar dari rumah dengan menenteng tasnya, gadis itu langsung ikut menyambar tasnya dan mengejar Camelia. Dan disinilah Radha berada saat ini. Pandangannya jauh menatap ke depan, tapi pikirannya melalang buana entah ke mana.
"Apa kamu baik-baik saja El?" Lirihnya dengan pandangan yang masih menatap jauh. "Dimana kamu saat ini? Kenapa kamu tidak memberi ku kabar sama sekali? Apa aku tak cukup penting bagi mu? Jika aku tak penting bagi mu, terus kenapa kamu meminta ku untuk menunggu?" Lagi dan lagi air matanya kembali membasahi kedua pipinya.
Pluk!
"Kak!"
Satu tepukan mendarat di bahunya persamaan dengan suara yang sudah dikenalinya. Saking larutnya dalam lamunan, Radha sampai tak menyadari kalau Wisnu sudah berada di dekatnya.
Radha mengusap air matanya terlebih dahulu sebelum membalikkan tubuhnya.
"Ayah sama Buna khawatir karena kakak belum pulang."
"Memangnya ini jam berapa?" Radha mengalihkan perhatiannya pada jam yang melingkar di tangan kirinya.
"Hampir Maghrib!" Sahut Wisnu cepat.
"Astagaaaaa! Berapa lama aku berdiri di sini?" Tak terasa Radha sudah berdiri di sana dari pukul empat sore tadi.
"Apa kakak merindukannya? Apa dia tidak pernah menghubungi kakak atau sekedar mengirimkan kabar?" Radha menggeleng, air matanya kembali lolos. Wisnu langsung merengkuh tubuh kakaknya itu ke dalam pelukannya. "Mungkin saja dia sibuk kak, atau mungkin ponselnya hilang dan dia nggak hafal nomor kakak. Apa kakak sudah coba menghubunginya?" Radha kembali menggeleng dalam pelukan Wisnu. Radha menumpahkan tangisannya itu dalam dekapan adiknya hingga ia merasa beban di hatinya sedikit berkurang. Entah mengapa ia lebih nyaman bercerita dengan Wisnu yang notabenya adalah seorang laki-laki, kenapa bukan Camelia saja? Entahlah, mungkin karena Wisnu yang tahu hubungannya dengan laki-laki itu.
Setelah merasa tenang dan jauh lebih baik, Radha memutuskan untuk segera pulang agar Ayah dan bunanya tidak semakin khawatir. Radha bersama Pak Selamet mengendarai mobil, sedangkan Wisnu mengekor di belakang menggunakan motornya.
*****
*****
*****
*****
*****
Elmer oh Elmer, kamu di mana sih? Emak pusing sebulan ini nyariin kamu nggak ketemu π€π€π€
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ