
"Eh mama, kapan datang? Kok nggak ngabari?" Wisnu terkejut saat tiba di rumah makan mendapati Mama mertuanya ada di sana.
Waktu sudah menunjukkan pukul empat sore saat Wisnu tiba di rumah. Hari ini banyak tugas di kampus hingga membuatnya sibuk. Bahkan ia tidak sempat melihat ponselnya. Apakah istrinya tadi mengirimkan pesan atau tidak dirinya tidak tahu. Wisnu memilih segera pulang ke rumah setelah kelasnya usai. Rasa rindunya kepada sang istri sudah tidak terbendung lagi. Padahal hanya beberapa jam saja ia terpisah dengan istrinya.
Wisnu segera meraih tangan Mama mertuanya itu kemudian menciumnya dengan takzim.
"Siang tadi kami tiba. Kok jam segini baru pulang Wis?" Tanya mama Anja.
"Banyak tugas ma."
"Owh,"
"Wisnu ke belakang dulu ma." Wisnu segera berlalu setelah mendapat anggukan dari mama mertuanya.
Wisnu langsung menghampiri dad Nara yang sedang duduk di teras rumah bersama ayah Seno. Seperti halnya yang dilakukan kepada Mama Anja, Wisnu pun segera meraih tangan Daddy mertuanya itu untuk di cium.
"Dad, kok nggak bilang mau datang?"
"Memang sebelumnya nggak ada rencana." Sahut dad Nara. "Baru pulang?"
"Iya dad, banyak tugas di kampus."
"Owh, ya sudah."
"Wisnu masuk dulu dad." Pamit Wisnu sopan dan langsung masuk ke dalam rumah setelah dad Nara mengangguk.
Wisnu akhirnya bisa bernafas lega saat tiba di depan pintu kamarnya. Sejak tadi dirinya sudah ketar-ketir, takutnya kedua mertuanya itu tahu tentang kejadian kemarin. Dad Nara pasti akan menyalahkan dirinya karena tidak bisa menjaga istrinya dengan baik.
Setelah berhasil meredam detak jantungnya, Wisnu segera mendorong pintu kamarnya. Nampak sang istri masih terlelap. Wisnu melempar ranselnya ke atas sofa kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri terlebih dahulu sebelum bergabung dengan istrinya ke atas tempat tidur.
Direbahkannya tubuhnya di samping sang istri. Satu kecupan mendarat di kening istrinya, dan satu kecupan lagi mendarat di perut buncit istrinya. Radha masih belum menyadari keberadaan suaminya.
Wisnu memperhatikan istrinya yang masih tertidur lelap. Wisnu terkekeh, ia tidak menyangka kalau dirinya bisa memiliki seutuhnya wanita yang terbaring di hadapannya itu, yang tak lain adalah kakaknya sendiri. Meskipun bukan kakak kandung ataupun kakak sepupu. Dan yang lebih tak menyangka lagi, sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ayah di usianya yang masih sangat muda.
Namun begitu dirinya tetap bersyukur dan tidak mengingkari nikmat yang telah diberikan Tuhan kepadanya. Dia berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik untuk istri dan anak-anaknya nanti. Usia tidak menjamin seseorang menjadi dewasa. Tapi pemikiran dan perilaku lah yang menentukan kedewasaan seseorang.
Tanpa sadar Wisnu ikut terlelap di samping sang istri dengan memeluk istrinya.
*****
Radha bermaksud memindahkan tangan suaminya itu karena ingin pergi ke kamar mandi. Namun usahanya itu malah membangunkan sang suami.
"Mau kemana?"
"Mau ke kamar mandi."
"Ya sudah ayo, kita mandi sekalian." Wisnu segera beranjak dari tempat tidur dan langsung menggendong istrinya masuk ke dalam kamar mandi. Akhirnya mereka pun mandi berdua.
Makan malam bersama....
Bunyi dentingan sendok yang beradu dengan piring mengiringi setiap suapan mereka. Suasana nampak terasa hangat. Sayangnya Camelia dan suaminya tidak ada disana.
"Oh ya dad, semalam Daddy ngigau memanggil-manggil baby. Memangnya Daddy mimpi apa?" Tanya Mama Anja di sela makannya.
"Owh, entahlah. Perasaan Daddy sedang menggenggam tangan baby dan tiba-tiba saja terlepas." Ucap dad Nara mengingat mimpinya semalam.
"Terus?"
"Ya nggak ada terusannya, kan semalam Mama keburu bangunin Daddy."
Gelak tawa langsung memenuhi ruang makan tersebut. Memangnya sinetron apa, ada kelanjutannya segala. Begitulah kira-kira yang mereka tertawakan.
*****
*****
*****
*****
*****
Detik-detik end gaess π€ emak mau fokus nulis kisah Seruni yang nantinya pasti penuh dengan air mata. Oops keceplosan π€ππ
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, saweran kopi dan bunganya juga boleh ββπΉπΉ