
Hari yang di tunggu-tunggu oleh Nara akhirnya telah tiba. Ya, hari ini adalah hari di mana Nara akan menikah dengan wanita pujaan hatinya. Anja sudah di rias sejak pagi oleh MUA ternama di kota tersebut. Acara prosesi ijab kabulnya akan dilaksanakan pukul sembilan nanti.
Di samping Anja saat ini sudah ada Laras yang sejak tadi tangannya di genggam erat oleh Anja. Ya, Laras dan Radit suaminya beserta Bu Mayang dan juga ketiga pekerja rumah makannya juga ikut di boyong ke Jakarta atas permintaan Mama Rosi. Dan jangan lupakan Seno dan baby Camelia yang saat ini sudah berusia dua tahun juga turut hadir untuk menyaksikan pernikahan Anja. Mereka semua sudah datang sejak kemarin sore. Laras, Radit, Bu Mayang dan Seno serta baby Camelia langsung di antar oleh supir jemputan menuju ke kediaman Wijaya. Sedangkan ketiga karyawan rumah makan Bu Mayang langsung diantar oleh mobil jemputan yang lainnya ke hotel milik kaluarga Wijaya yang akan menjadi tempat berlangsungnya acara resepsi pernikahan Nara dan Anja nanti malam.
"Tangan loe dingin amat Nja. Perasaan pas dulu loe nikah sama Zian gak setegang ini." Ucap Laras tanpa sadar yang membuat Anja menitikkan air matanya.
"Aduh kak, kok nangis, nanti kalau makeup-nya belepotan gimana?" Ucapan MUA tersebut menyadarkan Laras akan ucapannya.
"Maaf Nja, gak seharusnya gue ngomong gitu." Laras menunduk sendu menyadari kesalahannya.
"Selama ini gue belum pernah mengunjungi makam mas Zian. Gue takut! Gue jahat kan Ras? Dan sekarang gue udah mau nikah lagi."
"Sssstttt! Jangan bicara seperti itu, Zian pasti bahagia disana saat melihat kalian bahagia." Laras meraih tissu yang ada di meja rias kemudian perlahan menghapus jejak-jejak air mata di pipi Anja.
Pintu kamar Anja di buka dari luar, nampak mama Rosi masuk dengan menggendong Radha dan juga Bu Mayang yang sedang menggendong baby Camelia.
"Sudah siap?" Tanya mama Rosi.
"Sudah Bu!" Jawab sang MUA.
"Mama tantik kayak dedek." Ucap Radha mengulurkan kedua tangannya ke arah Anja.
"Eits, gak boleh minta gendong mama dulu. Nanti kalau sudah selesai baru boleh minta gendong." Mama Rosi menjauhkan Radha dari mamanya.
"Buna dendong!" Sekarang gantian baby Camelia yang mengulurkan kedua tangannya ke arah Laras. Ya, sejak pertemuan pertama kemarin, baby Camelia langsung memanggil Laras dengan sebutan bunda. Laras pun tak keberatan dengan panggilan tersebut. Laras segera meraih baby Camelia yang ada di gendongan ibunya.
"Ayo, pak penghulu sudah menunggu." Mama Rosi segera menggandeng tangan Anja untuk keluar bersama-sama.
Ruang tengah kediaman Wijaya sudah disulap sedemikian rupa untuk digunakan acara prosesi ijab kabul pagi ini. Nampak Nara sudah duduk tegak di depan pak penghulu. Mama Rosi segera membimbing Anja untuk duduk di sebelah Nara. Hanya ada beberapa orang saja disana. Diantaranya papa Hadi dan mama Rosi. Bima dan Radit sebagai saksi. Laras, Seno, Bu Mayang, mbok Parni dan mbak Tini serta pak Mun, supir keluarga Wijaya.
"Sudah siap mas?" Tanya pak penghulu kepada Nara.
"Baiklah, kita mulai saja. Karena saudari Anja sudah tidak memiliki wali, maka walinya akan diwakilkan kepada wali hakim." Semua orang yang ada di sana mengangguk. Nara segera menjabat tangan Pak penghulu yang sudah terulur di atas meja.
"Bismillahirrahmanirrahim, saudara Narayan Hadi Wijaya bin Hadi Wijaya. Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan saudari Anjani Pramesti binti almarhum Mulyadi yang walinya di wakilkan kepada saya, dengan mas kawin sebuah hotel Prasasti yang ada di kota Surabaya di bayar tunai!"
"Saya terima nikah dan kawinnya, Anjani Pramesti binti almarhum Mulyadi dengan mas kawin tersebut tunai!" Ucap Nara dengan satu kali tarikan nafas.
"Bagaimana saksi? Sah?"
"Saaaaaaaaahhh!" Ucap orang-orang yang ada di sana serempak.
"Alhamdulillah, barokalloh." Pak penghulu langsung melantunkan doa sesudah ijab kabul.
Akhirnya, Nara dan Anja sudah dinyatakan sah sebagai pasangan suami istri.
*****
*****
*****
*****
*****
Lope-lope sekebun Pare πππ€ͺπ€ͺ
Jangan lupa Like Komen dan Votenya, kopi juga boleh ββππ