
Keesokan paginya, di rumah Hugo. Lebih tepatnya pria itu menyewa rumah di Jakarta. Ia tengah dilanda kesakitan, karena kakinya terluka.
"Ah sakit sekali, pelan-pelan membersihkan luka ku," pekik Hugo
"Ini sudah pelan kakek," sahut Takashi
"Setelah itu oleskan obat cina itu. Pelan-pelan karena sangat perih," perintah Hugo
"Apakah Kakek yakin obat ini aman?" tanya Takashi
"Tidak apa-apa, meskipun obat ini lebih perih dari obat kimia dokter. Tapi lebih cepat membuat luka ini kering dan tertutupi," ucap Hugo
Ting.. Tong...
Seseorang menekan bel rumahnya namun Hugo dan Takashi tidak langsung beranjak.
"Ahhhh perih perih... aaahhh," Hugo makin berteriak hebat
"Cepat balut dengan perban agar perihnya berkurang," perintah Hugo pada Takashi
"Iya kek," sahut Takashi "Aku akan buka pintu dulu, sepertinya ada tamu,"
"Tidak perlu, aku sudah masuk. Kakek, ada apa dengan kakimu?" ucap Wasabi yang sudah masuk tanpa permisi
"Kamu masuk tanpa permisi tidak sopan," ucap Takashi
"Maaf aku langsung masuk begitu mendengar ada yang berteriak, tapi bukankah ini rumah kakekku sendiri jadi aku rasa kakek tidak akan marah jika aku masuk tiba-tiba," ucap Wasabi melihat kaki Kakek Hugo yang terluka. Hugo belum menjawab pertanyaan Wasabi. Dia masih terengah-engah karena menahan sakit. Obat China yang baru saja masuk ke dalam lukanya sedang bereaksi. Rasanya panas, dan sangat perih.
"Ya Wasabi benar, tidak apa jika langsung masuk. Aku tidak akan marah,"
"Kenapa kaki kakek Hugo?" tanya Wasabi mengulang pertanyaannya
"Aku mendapat kecelakan kecil. Semalam hujan hingga jalanan banjir. Saat berjalan ke warung, aku melewati pinggiran troroar. Tidak tahu kalau disitu ada perbaikan got. Aku terjatuh. dan kakiku terkena besi," cerita hugo
"Untung saja gotnya tidak dalam jadi bisa segera tertolong," timpal Takashi
"Astaga miris sekali. Aku ngilu mendengarnya," sahut Wasabi tetapi raut mukanya datar, tidak menunjukkan jika dirinya panik, khawatir ataupun ngilu seperti yang di katakannya.
"Boleh ku lihat lukamu Kakek?"
"Nanti sore saja ketika pergantian perban baru. Karena aku baru saja menggantinya," sahut Takashi, "Ngomong-ngomong kamu kemari sendirian?"
"Tidak, Aku juga kemari. Aku ingin melihat apakah aku benar memiliki anak kembar? Kembarannya Wasabi dan juga....Astaga Ayah, Kakek Hugo?" sahut Setya yang terkejut melihat Hugo, dia seperti hidup kembali
"Ah Ayah," Takashi langsung berlari kecil memeluk Setya.
Setya merasa aneh dengan pelukan itu. Kemudian ia melepaskan tangan Takashi yang memeluknya dan ingin melihat wajah itu dengan seksama. Wajah Takashi dan Wasabi hampir sama namun sedikit berbeda.
"Hemm ya benar aku Hugo, aku masih hidup. Apa kamu mau jadi anak durhaka yang tidak mengakui Ayahnya sendiri?" sahut Hugo yang masih duduk di kursinya.
"Maaf Ayah...lalu apakah dia benar anakku?" tanya Setya pada Hugo kemudian berjalan mendekati Hugo dan memeluknya melepaskan kerinduan.
"Kemarilah anakku," ucap Hugo seraya memukul pelan lengan Setya sebelum memeluknya.
"Wasabi dia benar Ayahku, Kakekmu. Dia masih saja kasar," sahut Setya
"Benarkah? Sungguh sangat sulit aku mempercayainya. Terlebih dengan dirinya," ucap Wasabi sambil menunjuk ke arah Takashi
"Kamu juga seperti itu kepada Ayah saat kamu tahu identitas Ayah," ucap Setya pada Wasabi sementara Wasabi hanya tersenyum kecil
"Itu berbeda, karena sedari kecil Mama tidak pernah menceritakan soal Ayah kandungku. Tapi aku melihat dengan mata kepalaku sendiri jika kakek Hugo meninggal lalu dikuburkan. Jadi aku sulit meyakini persoalan ini," ucap Wasabi sembari menatap ke arah Hugo kemudian Takashi yang sama sekali tidak mirip Wasabi
"Dia benar-benar anakmu Setya. Takashi adalah kembarannya Wasabi. Saat itu karena kamu berpesan jika akan memberi anakmu dengan nama Wasabi. Maka yang satu aku berikan nama yang menyerupai nama Jepang,"
Mendengar alasan kakek Hugo, Wasabi ingin sekali tertawa, namun ia menahannya.
"Ayah, Aku ingin dekat denganmu yah, Aku ingin merasakan kasih sayangmu. Bolehkah aku tinggal dirumahmu juga?" ucap Takashi sembari memeluk Setya, tapi di tepisnya.
"Tunggu, jangan memelukku seperti ini. Sungguh aku belum bisa mengakuinya. Bukan aku tak percaya hanya saja kenapa Alma tidak pernah mengatakan kalau anak ku kembar. Aku perlu bukti valid seperti tes DNA," ucap Setya
"Yasudah lambat laun kamu pasti akan mengakuinya. Ceritanya panjang kenapa saat itu Alma tidak menceritakannya padamu dan semua itu karena ide ku," jelas Hugo
"Oh ya kalian sudah makan?" tanya Hugo mengalihkan pembicaraan
"Belum, tapi aku kemari membawa sup kesukaan Ayah," ucap Setya
"Sup kesukaan ku?" Hugo mengernyitkan kening
"Sup kacang merah," ucap Wasabi yang melihat kejanggalan.
"Oh iya, sup kacang merah. Terimakasih Setya," sahut Hugo dengan senyuman
"Bukankah itu favoritmu? Kenapa kamu mengernyitkan dahi?" tembak Wasabi
Hemm dia seperti tidak suka mendengarnya, berbeda dengan kakek Hugo saat beliau masih hidup. Jika mendengar kata sup kesukaan, dia langsung berantusias lalu mengambil mangkok ingin cepat-cepat memakannya. Tetapi ini...., batin Wasabi sambil menaikkan alis satunya
"Bukan begitu wasabi. Ada banyak jenis sup dan aku bertanya untuk mengetahui sup apakah itu? Kamu ini sejak menjadi detective, kamu terus mencurigai semua orang," jelas Hugo
"Haha iya, entah kenapa aku merasa harus selalu waspada," Wasabi tersenyum miring
Mereka pun semua duduk di ruang makan. Takashi membantu menyiapkan sup yang di bawa Setya. Mereka semua makan sup kacang merah buatan Setya.
"Hemm ini sungguh enak. Aku sudah lama tak memakannya disini sangat jarang orang menjual kacang merah," sahut Hugo
"Ah... kakiku terasa perih lagi," ucap Hugo seraya memegangi kakinya. Ia pun menghentikan makan siangnya.
"Takashi tolong ambilkan obatku," pinta Hugo
Takashi langsung mengambilkan obat, tanpa bertanya lagi obat apa yang harus ia ambil seakan-akan dia tahu apa yang harus diberikan. Sementara Wasabi curiga jika yang diambilnya itu adalah obat alergi.
"Apa sebaiknya kita kedokter?" tanya Setya sedikit panik
Lukanya pun sama persis di tempat aku menembak komplotan blue kemarin. Makanan kesukaan dan obat ini menandakan dia Hugo palsu. Namun, sikap dan ekspresi Ayah yang mengakui jika dia Hugo, membuat ku dilema, batin Wasabi
"Aku sudah selesai makan," sahut Wasabi
"Kamu langsung ke kampus sekarang? Tapi, Aku masih ingin disini," ucap Setya
"Iya Ayah, baiklah jaga diri Ayah. Kakek, Aku pamit ke kampus dulu," pamit Wasabi
"Takashi juga akan ke kampus, kalian berangkat bersama saja, Hati-hati dijalan," ucap Hugo
"Iya Kakek, Aku juga pamit. Ayah.. jaga Kakek Hugo ya," sahut Takashi yang langsung bersiap pergi
Wasabi pergi duluan meninggalkan Takashi. Takashi mengejarnya tetapi Wasabi sudah menghilang entah kemana. Sementara Takashi pergi dengan mobilnya.
Dengan kekuatan tak terlihatnya, Wasabi masuk kembali kerumah Hugo. Ada yang ingin dia selidiki.
Ia mengambil beberapa obat yang tadi diminum Hugo. Dan juga sample rambut yang menempel pada sisir di salah satu kamar. Setelah itu dia pergi dengan kekuatan teleportasinya.
Sebelum ke kampus, Wasabi mampir ke suatu tempat. Ia pergi ke kafe dekat kampus untuk bertemu dengan Dr. Mia, sebelumnya mereka sudah janjian.
Sesampainya di kafe, Wasabi melihat Audi putih.
"Bukan mobil ini, plat nomernya berbeda dengan semalam, KF5 D9M," gumam Wasabi sembari mengingat plat nomer mobil tersebut
Wasabi kemudian masuk kedalam. Dia mencari sosok Dr. Mia yang sudah duluan berada didalam. Tetapi Wasabi malah menemukan sosok Joy dan seorang pria yang duduk ditengah.
Dr. Mia melambaikan tangannya, dia duduk di ujung pojok kafe, Wasabi lalu menghampirinya. Ketika dia melewati meja Joy, Wasabi masih belum melihat wajah pria itu. Yang dia lihat hanyalah sebuah Tatto di leher dan di tangan. Ia berharap dapat melihat wajah pria itu ketika dia duduk. Tentu saja ada perasaan tidak senang di hatinya. Mau marah, mau cemburu tapi siapa Wasabi. Dia bukan siapa-siapanya Joy.
Joy sibuk dengan handphone di tangannya sehingga dia tidak melihat kedatangan Wasabi. Begitu Wasabi duduk di kursinya. Joy dan Pria itu sudah beranjak dari duduk dan pergi dari kafe itu.
"Hai Dokter Mia," sapa Wasabi sambil mengulurkan tangannya
"Hai Wasabi, duduklah. Mau pesan apa?" Dokter Mia balas menyapa dan menawari Wasabi ingin memesan apa.
Wasabi masih memperhatikan Joy dan pria yang bersamanya, hingga mereka keluar dan naik mobil putih yang tadi di lihat Wasabi. Rasa penasaran sekaligus cemburu sampai-sampai dia tidak mendengarkan Dr. Mia yang duduk dihadapannya.
"Wasabi?" Panggil Dokter Mia
"Oh maaf Dr. Mia. Hmm, terimakasih sudah menyempatkan kemari," ucap Wasabi
"Tidak apa Wasabi, saya juga sedang dalam perjalanan ke rumah sakit jadi ya sekalian. Kamu mau pesan apa?" tanya Dokter Mia kembali
"Terimakasih atas tawarannya, tetapi aku tidak ingin memesan apapun," jawab Wasabi
"Langsung saja Dokter. Ini obat yang aku katakan tadi dan ini sampel rambut Ayahku dan juga Aku tidak tahu itu sisir Kakek ku atau orang yang mengaku kembaran ku," ucap Wasabi
"Ok, baiklah sample ini aku masukkan kedalam tas dulu. Hemmm obat ini, ini seperi obat alergi," ucap Dokter Mia
"Alergi??"
Dokter Mia tidak langsung menjawab, ia mengambil kacamatanya dan membaca komposisi yang tertera di label kemasan botol obat, meskipun label nama obat itu sudah terkelupas namun komposisi pada bagian belakang masih tertera jelas.
"Ya benar, komposisinya sama dengan obat alergi. Biasanya orang itu meminum obat ini, jika alergi itu datang menyerangnya. Alerginya macam-macam bisa jadi dia gatal-gatal atau muncul kemerahan dan bahkan bisa juga bentol-bentol di kulit tubuhnya," jelas Dokter Mia semakin menambah keyakinan pada Wasabi
"Dia minum obat ini setelah makan sup kacang merah. Mungkinkah dia alergi terhadap kacang-kacangan," terka Wasabi
"Bisa jadi,"
Berani-beraninya dia membohongiku, batin Wasabi.
"Dr. Mia aku akan menunggu hasil tes rambut itu, kapan hasilnya akan keluar?" tanya Wasabi
'Aku usahakan secepatnya. Tapi aku tidak janji, karena setelah ini jadwalku padat. Atau kamu mungkin bisa mengujinya sendiri di lab lain?"
"Aku tidak percaya orang lain yang baru dikenal," sahut Wasabi
"Bukankah kita juga baru kenal Wasabi. Haha..."
"Ya, tapi berbeda, kamu adalah adik kandung Dr. Lee. Dan aku mengenalnya,"
"Haha terimakasih jika kamu percaya padaku. Kalau begitu, Kita bisa bersahabat. Aku sering di sini setiap pagi. Aku suka kopinya dan kafe ini milik temanku Tegar. Dia baru menikah dan baru merilis usaha ini. Kamu tahu, istrinya itu seorang artis yang masih sangat muda,"
"Benarkah. Siapa nama istrinya?" tanya Wasabi
"Namanya Monday. Astaga kita mengobrol sampai kemana-mana arahnya haha.."
(Mengandung iklan hehe, Takdir cinta sang penari dengerin audiobook Wenny Wulandari, Promo terussss)
"Aku senang Dr.Mia sangat terbuka dan bersahabat,"
"Sama-sama Wasabi. Oh ya hanya ini yang ingin kau ketahui?"
"Sebenarnya ada lagi, kemarin aku bersama tim inafis dari kepolisian mengambil sample DNA dan sidik jari. Mereka memberiku informasi bahwa DNA dan sidik jari itu berasal dari orang yang sama. Tetapi setelah dimasukkan ke dalam program. Program itu membaca ada dua orang yang berbeda,"
"Apakah kamu bisa memberikan padaku sample itu?"
"Ah iya, kebetulan untuk berjaga-jaga aku mengambil kembali samplenya. Namun tidak utuh," ucap Wasabi
"Aku juga bisa mengujinya sendiri. Kemungkinan malam ini. Kamu tidak keberatan kan?" ucap Dokter Mia
"Baiklah. Terimakasih sebelumnya. Maaf sebelumnya aku harus undur diri, sebentar lagi jam kuliahku,"
"Oh kalau begitu kita sama-sama saja. Aku juga sudah selesai minum,"
Mereka lalu pergi meninggalkan kafe itu dengan tujuan yang berbeda. Keduanya tidak sadar, bahwasannya sedari tadi Dr. Mia dan Wasabi sedang di mata-matai.
.