
Lyn datang kerumah yang disewa Wasabi, karena tahu Wasabi akan balik ke Jakarta
"Kok cepet banget bro. Baru juga dua hari ini," desis Lyn
"Misi ku sudah selesai. Aku juga harus balik karena ada kuliah kan?"
"Ini kunci rumahnya, Terima kasih Lyn,"
"Sama-sama. Oh ya... Ternyata Adikku pernah melihatmu saat berteleportasi. Namanya Febriana. Apakah kamu kenal?"
"Aku lupa yang mana. Tapi ada satu wanita yang pernah melihatku. Dia mengira aku setan. Rumahnya dekat kantor polisi kah?"
"Haha iya.. itu adikku. Dia tinggal di rumah kos-kosan. Ini fotonya," ucap Lyn seraya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan wajah adiknya dari galeri foto.
"Ah iya benar itu orangnya. Jadi namanya Febriana. Maklum bro ada banyak cewek yang kenalan sama aku. Jadi aku lupa hehe," Wasabi berujar dengan penuh kesombongan
"Dasar kamu, sok ganteng," sahut Lyn
"Haha percuma juga banyak kenalan cewek, tapi ujung-ujungnya jomblo. Haha," Andi tertawa terbahak-bahak
"Haha Jleb banget,"
"Awas loh Wasabi jangan terlalu pemilih nanti dapatnya tinggal yang jelek. Haha
"Udah deh stop ngomongin cewek. Paling males kalau bahas soal pacar atau cinta. Ntar kalau dah dapet, langsung ku nikahin tuh tanpa pacaran," sahut Wasabi
"Mantap ya bi..," kekeh Lyn
"Amiiin" seru Andi dan Emi bersamaan
" Itu Mobil di tinggal disini atau di kirim? Lewat mana?" tanya Lyn
"Di kirimlah, lewat laut. Sudah diurus sama si Chaky, asistennya Tuan Paldo," ucap Wasabi
Lyn menganggukkan kepala, sudah beres semua berarti tidak ada yang perlu di khawatirkan. Kemudian Lyn pun menawarkan diri untuk mengantarkan mereka ke Bandara
Semua bergegas pulang, Wasabi berjalan duluan membuka pintu. Terlihat Desiani datang menghampirinya dengan berlari kecil dan langsung memeluk Wasabi.
Pluk
Wasabi terkejut sekaligus risih, "Des, ada apa?"
Pria itu menyentuh kedua lengan Desi dan mendorongnya pelan, tetapi Desi sepertinya enggan dan malah gadis itu semakin menarik punggungnya erat.
Desi mengangkat wajahnya yang sedari tadi ia benamkan di dada Wasabi. Dengan wajah sedih dan sedikit air mata membasahi bulu matanya. Sepertinya Desi baru menangis
"Jangan pergi. Aku belum sempat mengenal seseorang yang sudah menyelamatkanku,"
"Maaf...Aku harus pulang. Kita bisa berkomunikasi lewat telepon kan?
"Hemm cewek lagi nih yang nempel, pake pelet apa sih Wasabi," Sahut Andi berbisik di telinga Emi
"Hihi biarin lah sayang, jomblo kan bebas," sahut Emi balas berbisik
Setelah itu barulah Desi melepaskan pelukannya lalu mengambil ponselnya, menyuruh Wasabi menuliskan nomernya di sana
"Sudah," ucap Wasabi sambil mengembalikan handphone milik Desiani
"Kalau ada waktu, kamu ke Bali ya? Rumahku terbuka untukmu,"
"Termasuk hati juga gak nih. Hehe," goda Lyn
Desiani hanya terkekeh kecil sambil tersipu malu
Wasabi dan temannya pun langsung pamit pergi dan meninggalkan Desiani yang masih berdiri di depan pintu.
Lyn mengunci pintu setelah semuanya keluar. Lalu dia berlari kecil dan duduk di bagian kemudi. Wasabi dan Andi sibuk memasukkan koper ke bagasi. Sedangkan Emi sudah duduk di kursi bagian tengah.
Setelah beres, Wasabi dan Andi masuk kedalam mobil sambil melambaikan tangan ke Desiani. Tetapi tatapan Wasabi sangat datar tanpa senyum.
Mobil Lyn melaju sangat pelan. Dan saat berada di jalan raya dia mulai mempercepat lajunya.
Lyn menawarkan temannya untuk jalan-jalan di kota Bali. Andi tergiur dia ingin, tetapi takut jika tiket pulangnya hangus. Sementara Wasabi tidak masalah jika temannya mau jalan-jalan tetapi dia sendiri tidak karena punggungnya masih terasa sakit.
"Hemm gak seru lah kalau kamu gak ikutan, kapan-kapan ajalah," desis Andi
"Ok deh langsung ke Bandara aja ya ni," sahut Lyn
Emi sedari tadi diam dan melihat jalanan sepanjang jalan di Bali. Wasabi mencuri pandangannya ke arah Emi. Cinta pertamanya yang tak akan pernah menjadi miliknya. Lantas Wasabi beralih melemparkan pandangannya keluar jendela menatap suasana jalanan di Bali. Mereka melewati Pantai, seketika kenangan bersama kakeknya muncul. Saat dimana Wasabi mengalami kondisi shock yang hebat, Kakek membawanya ke pantai menenangkan hati dan pikirannya. Rindu pun datang menyapa....
Sesampainya di Bandara mereka langsung Cek In. Sedangkan Lyn hanya mengantar mereka sampai pintu masuk.
Sambil menunggu jam terbang. Wasabi dan temannya sudah duduk di kursi pesawat. Ada rasa traumatis dengan apa yang menimpa mereka saat menuju Bali. Mereka semua berdoa semoga selamat sampai tujuan.
Terdengar suara pramugari meminta penumpang untuk memakai sabuk pengaman karena pesawat akan berangkat.
"Bali... Aku pulang ...Tunggu aku disana," sahut Emi
"Bali yang indah," ujar Andi
"Goodbye Bali," gumam Wasabi