Detective Wasabi

Detective Wasabi
Case Closed



Keesokan harinya, di Kantor Polisi


Valent memberikan keterangan dan kesaksiannya. Inspektur Hendra yang masih sakit pun tetap semangat bekerja.


Ada alasan mengapa Valent tidak mengakui Tom dan Gio padahal mereka saling kenal. Karena Valent sangat takut jika berurusan dengan polisi. Ia trauma dengan polisi yang tidak percaya dengan dirinya padahal, Valent sudah berkata benar. Saat itu ia menghadapi kasus kematian adiknya, Vera.


Para polisi terus menyudutkan hingga Valent harus mengakui apa yang dituduhkan polisi. Valent tetap pada pendiriannya dia adalah saksi, bukan terdakwa. Maka dari itulah Valent mengatakan tidak kenal. Karena takut hal itu terulang lagi. Yang memenangkan benar berkata jujur malah dianggap bohong oleh polisi. Maunya polisi gimana? Apakah harus mengakui hal yang tidak ia perbuat?


"Jadi karena alasan itu, Kau tak ingin ambil pusing. Dan berbohong pada kami?"tanya Inspektur Hendra


"Ya, tapi maaf Aku tak bermaksud membohongi kalian," ucap Valent


"Lalu apakah benar saat itu Kau tidak ada pertandingan!?"


"Iya saat itu memang benar, Aku sedang tidak bertanding. Tapi Aku sehabis pulang dari party di rumah temanku. Aku mabuk malam itu, menunggu diriku untuk stabil lagi. Dan pagi itu aku pulang. Aku berbohong dan ijin dengan orang tuaku ada pertandingan di luar kota. Karena jika tahu aku mengikuti acara party itu. Dia pasti tak akan mengijinkanku, terlebih di pesta itu menyediakan minuman beralkohol. Tapi aku menyesal. Karena aku ikut pesta itu. Aku jadi kehilangan mamaku. Andainya aku ada disitu, dirumah ku dan menemani mamaku. Dia pasti tak akan bernasib Tragis seperti itu," ujar Valent


"Baiklah semua sudah terjawab. Aku harap Kali ini Kau tidak berbohong lagi. Tidak semua petugas polisi menyudutkan,"


"Tidak inspektur. Saat ini aku mengatakan yang sebenarnya, "


Bai berlari tergesa-gesa ke ruangan interogasi dan langsung membuka pintu dengan keras.


"Inspektur kami menangkap anak buah Tuan Ruji yang saat itu turut membuang Tuan Setya ke Sungai,"


"Bawa masuk kemari Bai!" ucap Inspektur Hendra seraya merapikan semua berkasnya


"Baiklah Nona Valent, sekian interogasi kita. Terimakasih Kau sudah berkata jujur kali ini. Nanti Kau kebagian sekretariat untuk penandatanganan jika sudah selesai," ujar Inspektur Hendra


"Baiklah. Aku permisi," ucap Valent


Valent keluar ruangan. Dan kemudian seorang polisi membawa masuk kedua anak buah Ruji. Sementara Bai mengantar Valent ke Bagian sekretariat.


Begitu kedua orang itu duduk.Inspektur Hendra memperhatikan keduanya sebelum memulai interogasi


"Biasa aja dong lihatnya!" seru Bodyguard 1


"Kenapa lihat-lihat? Aku ganteng kan?" ucap Bodyguard 2


Inspektur Hendra menggelengkan kepala


"Oke untuk mempersingkat waktu! Sudah berapa lama Kalian bekerja pada Tuan Ruji,"


"Aku bekerja dengannya sudah 5 tahun," ucap Bodyguard 2


"Aku baru 3 bulan," jawab bodyguard 1


"Kalian tahu? Apakah Tuan Ruji memiliki motif lain, sehingga melenyapkan seorang kliennya, yaitu tuanSetya?" ucap Inspektur Hendra


"Dia selalu melenyapkan kliennya jika kliennya tak menuruti keinginannya," jawab bodyguard 2 lalu teman sebelahnya menginjak kakinya


"Awww, Sakit ogeb!" seru bodyguard 2


"Bodoh kenapa kau mengatakannya!" bodyguard 1 berbisik


Inspektur Hendra memainkan bolpoinnya dengan memindah-mindahkannya ke jari-jari tangannya.


"Kalian tahu? Hukuman kalian akan diperingan jika kalian mengatakan semuanya dengan mudah dan tanpa ditutupi


'Huh, kalau cuma diperingan untuk apa! Kalau Kau melepaskan kami, maka aku akan mengatakan semuanya. Sampai nama gadis yang dia tiduri pun aku tahu semuanya!" ucap bodyguard 2


Inspektur Hendra mulai cenut-cenut menghadapi kedua makhluk astral didepannya.


"Sayangnya, Aku hanya bisa mengurangi masa tahananmu. Itu pun jika yang Kalian katakan benar," ucap Inspektur Hendra, Cepatlah! Jawab pertanyaan ku!" timpal nya lagi yang mulai emosi


"Aku memilih diam ketimbang aku dibunuh oleh Ruji," ucap bodyguard 1


Dor


Inspektur Hendra menembakka peluru tepat di tengah sandaran kursi panjang yang mereka berdua duduki


Sandaran kursi yang terbuat dari kayu itu bolong Suara tembakan yang tidak memakai peredam suara pun menggelegar memenuhi ruangan. Dan hantaman peluru kec yang menggetarkan bangku mereka cukup membuat mereka takut.


"Jadi kau tidak takut jika mati ditanganku?" tanya Inspektur Hendra.


"Jawab pertanyaan ku, Sekarang!" pekik Inspektur Hendra


"Aku akan mengatakan semua yang kita ketahui," ucap bodyguard 2


"A-aku juga," ucap bodyguard 1.


.


.


Sementara itu saat Valent keluar dari kantor polisi. Ia berpapasan dengan Fernandus. Fernandus memanggilnya namun Valent mengacuhkan papanya, Dia marah karena papanya ternyata selama ini menduakan mamanya.


"Valent, tunggu. Papa bisa menjelaskannya," Fernandus mengejar dan menarik lengan Valent


"Lepaskan! Menjelaskan apa? Menjelaskan kalau papa menunggu waktu yang tepat untuk menceraikan mama dan menikah dengan wanita murahan itu!


Plak


Tamparan keras mendarat di pipi Valent. Fernandus dengan murka menampar anaknya


"Aku tidak selingkuh! Dan sebenarnya Mama mu sudah tau aku memiliki kekasih lain. Dan Dia tidak ingin diceraikan," ujar Fernandus


"Apa bedanya? Memiliki wanita lain dengan ijin atau tidak, tetap saja awalnya dimulai dengan perselingkuhan," ujar Valent seraya mengelus pipinya yang memerah dan sakit


"Pergi lah jauh-jauh! Mama sudah tiada, Kau bisa menghabiskan waktu mu dengannya! Puas!Aku akan mengurus Bav. Tak usah khawatir atau sok perduli. Karena selama ini Kau juga tak pernah pulang ke rumah. Kau sudah mati bagiku, papa. Bye Oh ya dan satu lagi. Terimakasih untuk souvenirnya," ucap Valent seraya Menunjukkan bekas merah karena tamparan


Valent pulang dengan motor besar miliknya


"Fuuuh dasar anak tak tahu di untung," cerutu Fernandus


.


.


.


Sementara itu Inspektur Hendra mengecek penerbangan Ruji. Informasi ini dia dapatkan dari anak buah Ruji yang tertangkap. Kemudian Inspektur Hendra menyuruh polisi lain untuk bersiap dan menangkap Ruji di bandara sebelum keberangkatan


Wasabi datang dan melihat kesibukan masing-masing petugas polisi. Termasuk Inspektur Hendra yang ingin menangkap Ruji karena sudah mendapatkan lokasinya.


Awal penangkapan itu saat polisi melacak plat nomer mobil yang diberikan Sill. Dan ternyata mobil itu adalah mobil curian. Kemudian mereka menelusuri laporan catatan kendaraan pribadi yang hilang kapan dan dimana.


Ternyata kendaraan tersebut hilang didepan sebuah restaurant, dan wajah pencuri itu tidak terdata sama sekali. Dengan bantuan Andi, pagi tadi mereka tertangkap di sebuah rumah kecil yang mereka sewa.


"Kenapa kau tidak langsung mencari Tuan Ruji, kenapa harus dari anak buahnya? Bukankah Andi membuat program pelacak yang terbaru hanya dengan sebuah foto," ucap Wasabi


"Hemhh jika semudah itu, sudah dari kemarin ku tangkap dia. Andi tak bisa melacak keberadaannya," sahut Hendra


"Kalau begitu aku yakin kali ini dia tak akan tertangkap. Dia pasti lebih pintar. Kau bilang dia adalah buronan yang susah Kau dapatkan. Kalau begitu dia pasti punya banyak cara untuk melarikan diri. Dia sengaja mempermudah menjadikan anak buahnya tertangkap dan sementara mereka memberikan informasi yang salah dan kita fokus pada informasi yang diberikan anak buahnya itu," pikir Wasabi


"Padahal dia dengan santainya melarikan diri dengan jalan yang berbeda," ucap Wasabi lagi


"Kau benar, dia selalu bisa melarikan diri, "


"Jika begitu. Kita kepung di semua media transportasi, termasuk paralayang dan balon udara. Suruh anak buahmu mengecek apakah ada penumpang dengan nama Ruji. Dan kapan dia akan berangkat. Jika kita mengandalkan rekaman cctv kemungkinan dia sudah menghapus wajahnya atau saat dia lewat, dia sedang tidak tertangkap kamera atau tidak ada kamera disana. Inspektur, Kau terus lah ke Bandara dan Aku akan ke pelabuhan. Berikan aku foto wajahnya," ucap Wasabi


"Ini," Inspektur memberikan foto KTP


"Aku tak punya foto lainnya" timpal nya


"Ok, tak masalah,"


"Wasabi terimakasih atas saranmu," ucap Inspektur Hendra


Wasabi tersenyum dan pergi menuju pelabuhan sambil menunggu kabar terbaru. Sementara itu Inspektur Hendra mengerahkan anak buahnya berjaga di sisi lain. Dan memblokir akses jalan untuk Tuan Ruji.


Setelah melakukan pengecekan terhadap beberapa akses transportasi yang keluar kota atau pulau. Akhirnya apa yang menjadi dugaan Wasabi benar. Ada 5 nama pesanan tiket untuk akses yang menggunakan nama Tuan Ruji. Dan dengan data, pemesanan jam, waktu dan hari yang sama.


"Untung saja aku mengikuti saran Wasabi," gumam Inspektur Hendra.


Dengan memakai komunikasi radio di mobil polisi. Inspektur Hendra memberi perintah bawahannya supaya lebih awas


Di samping itu di Pelabuhan. Wasabi mengintai sendirian dan memakai earphone menghubungi Andi.


"Wasabi, Ku sudah mencarinya dan not found. Inspektur Hendra juga menghubungiku tadi," jawab Andi


"Hemm, bisakah Kau meretas ponselnya?" tanya Wasabi


"Aku tetap tidak bisa Wasabi. Ku dengar sebelum memasuki Dunia bisnis, Tuan Ruji sendiri adalah Programer. Jika demikian maka dengan mudah dia bisa menyembunyikan dirinya sendiri," sahut Andi.


Wasabi mengakhiri pembicaraanya di telephone. Penumpang kapal mulai menaiki tangga masuk ke dalam kapal. Semua berpenampilan mewah. Wasabi mendampingi petugas yang mendapat instruksi untuk memblokir Tuan Ruji.


"Rombongan orang kaya.Itu bukannya Miss Wyy," gumam Wasabi


"Hey Kau Wasabi kan? Suaminya Joy. Kau bekerja disini?" tanya Miss Wyy


"Nyonya, Aku tidak bekerja disini. Hanya kebetulan ada seseorang yang mencurigakan dan Aku turut mengintainya," ucap Wasabi


"Wow, berarti tempat ini tidak aman. Tapi Wasabi jangan memanggil ku Nyonya. Aku tidak ingin terlihat tua dan tidak pantas menyandang sebutan itu. Panggil aku dengan sebutan Miss Wyy saja, oke," ucap Miss Wyy


Lalu Miss Wyy, terdorong ke depan karena ada penumpang yang terburu-buru dan menabraknya.


"Hei! tolong sabar sedikit.!" celetuk Miss Wyy


Orang itu pun tanpa bersuara hanya membungkukkan badannya tanda minta maaf. Kemudian Dia terus melewat Miss Wyy dan Wasabi setelah melakukan pengecekan tiket oleh Petugas.


Orang yang menabrak itu terlihat sedikit lusuh, bukannya memandang rendah tapi rata-rata kapal yang dia tuju itu kapal mewah, hemm mencurigakan. batin Wasabi


Wasabi menghentikan langkah pria yang berjalan tergesa-gesa tersebut.


"Maaf, Tuan bisakah berhenti sebentar!" ucap Wasabi sedikit berteriak


Tapi orang itu tak mengindahkan ucapan Wasabi. Dia terus berjalan menaiki tangga.


Wasabi menghilang dengan kekuatan teleportasinya dan muncul di hadapan pria berkumis dan berbaju lusuh.


"Maaf, bisakah Anda turun kembali. Ada pemeriksaan yang belum selesai,"


"Hah, bagaimana Kau bisa tiba-tiba muncul didepan ku?" tanya pria tua itu


"Ya, tolong turun sebentar. Dan mohon kembali ke tempat pengecekan data," ucap Wasabi


"Apa!?" ucap Pria itu


Wasabi mengulang perkataannya dengan nada keras


"Maaf saya tidak dengar, pendengaran saya kurang baik," ucap pria tua itu


Wasabi lalu mengisyaratkan dengan tangan untuk turun kebawah. Ketika mereka sudah sampai di bawah. Wasabi mulai memeriksa kembali.


Miss Wyy belum naik ke kapal. Dia menunggu Khun yang sedang membeli obat mual karena Khun mabok kapal.


"Tolong lakukan pemeriksaan sidik jari kembali dan tempelkan jari Anda disini," ucap Wasabi dengan mengisyaratkan dan mempraktekkan dengan tangannya


Lalu saat pria itu menempelkan ibu jarinya. Komputer membaca pria itu adalah Doni. Persis seperti KTP nya. Tapi Wasabi melihat ada kulit yang sedikit mengelupas. Wasabi lalu meraih tangan pria itu. Dan membalikkan telapak tangannya.


"Mau apa lagi Kau! Aku sudah melakukan cek ini dua kali," ucap Doni


"Ponsel Anda jatuh, " ucap Wasabi dengan suara pelan, kali ini ia tak memakai Isyarat


"Hah mana!?" ucap Doni


"Ternyata pendengaranmu cukup baik," sahut Wasabi sambil tersenyum dan mulai memaksa pria itu untuk mengambil kulit yang terkelupas tepinya


"Wasabi Aku duluan ya," sapa Miss Wyy sari kejauhan


"Ok, silahkan Miss Wyy,"


Kulit yang menempel di ibu jarinya itu, sangat menyerupai kulit orang. Setelah terlepas. Wasabi kembali menempelkan ibu jari itu pada alat sensor sidik jari dengan paksaan meskipun orang itu menolak. Dan ternyata komputer kali ini membacanya sebagai Tuan Ruji.


"Hah mau menipu ku ya!" ucap Wasabi dengan cepat menarik kumis dan rambut palsu


"Sialan!" umpat Ruji


Wasabi mengambil borgol dan memborgol tangannya Tuan Ruji yang satu.


"Tempatmu sudah seharusnya berada di sel, oh tidak itu terlalu bagus. Seharusnya Kau dibakae di neraka!"


Begitu Miss Wyy melewati Wasabi dan pria di sampingnya. Ruji menyeret Miss Wyy dan mendekap Miss Wyy dari belakang lalu menodongkan pisau kecil ke leher Miss Wyy sambil mengancam.


"Mommy! Hey lepaskan mommy ku!" teriak Khhn


"Hahaa jangan mencoba-coba menangkap ku. Atau Nyonya ini akan celaka!" ucap Ruji


Dengan cepat Miss Wyy mengambil pistol yang dia ikat di paha yang tertutup roknya. Dan langsung menembakkan tepat di kaki Tuan Ruji.


"Ahh kakiku!" Ruji berteriak kesakitan


"Wow ternyata Miss Wyy hebat juga" gumam Wasabi.


Wyy terlepas dari dekapan Tuan Ruji dan menjauh dengan tangan yang masih menodongkan pistolnya.


Wasabi mendekat dan mulai memasang borgol di tangan satunya lagi ke arah belakang. Sementara Ruji meronta kesakitan.


"Dimana Bodyguard mu!? Apakah mereka sudah bosan bekerja denganmu. Apa Kau sengaja tak membawa mereka agar aksi mu tak di curigai," terka Wasabi


"Hah tunggu saja sebentar lagi mereka akan datang untukku,"


"Coba saja kalau bisa," tantang Wasabi dengan kekuatan teleportasinya ia membawa Tuan Ruji, langsung ke kantor polisi.


Whuuuss


Dikantor polisi.


Ruji terkejut, ia langsung di masuk kan ke dalam Sel tahanan.


Tak berapa lama polisi lain datang bersama bodyguard Tuan Ruji. Mereka berhasil menangkap dari informasi anak buahnya yang tertangkap. Kemudian Inspektur Hendra kembali dengan wajah senangnya.


Inspektur Hendra berterima kasih banyak pada Wasabi, Andi dan Emi. Jika bukan karena mereka, kasus berat itu bisa saja tertutup tanpa tahu kebenarannya.


"Aku berterimakasih banyak padamu Wasabi"


"Sama-sama Inspektur. Aku juga senang membantu mu,"


"Pak Walikota memberikanmu kuliah jalur cepat. Kau bisa menyelesaikan kuliahmu dalam setahun. Sebagai ucapan terimakasihnya. Sebentar akan ku ambil kan suratnya,"


"Hah Pak Walikota baik sekali. Tapi aku juga tak bisa menemukan pelaku jika bukan Karena Andi dan Emi," ujar Wasabi


"Ya penghargaan dan pendidikan itu diberikan Pak Walikota untuk kalian bertiga. Kalian juga mendapatkan uang dari pak Walikota, juga dariku pribadi serta gaji kalian. Dan juga, ini hari terakhir ku bekerja disini," ucap Inspektur Hendra


"Makannya aku senang. Karena semua kasus berakhir," timpal nya lagi seraya memeluk Inspektur Hendra


"Hari terakhir. Maksudmu? Kau akan pensiun dini? Atau naik jabatan?" tanya Wasabi


"Haha aku workaholic tentu saja aku masih ingin bekerja. Dan pengangkatan jabatan itu akan dilakukan besok,"


"Selamat Inspektur Hendra. Dan tugas mu akan semakin berat,"


"Terimakasih Wasabi,"


Setelah itu Inspektur Hendra memberikan sertifikat pendidikan dan Piagam penghargaan dari Walikota. Juga uang yang diberikan Pak Walikota untuk Wasabi, Andi dan Emi. Mereka juga menerima upah dari pekerjaannya. Tak lupa pula selama mereka masih bekerja dengan kepolisian, kesehatan mereka di asuransikan. Jumlahnya jika dibilang cukup fantastis tapi itu tak seberapa jika dibandingkan dengan pekerjaan Wasabi yang mempertaruhkan nyawa


"Dan ini dariku pribadi untuk calon cucu ku hehe, aku akan memberikannya Andi dan Emi nanti secara pribadi. Jangan dilihat jumlahnya ya. Anggap saja sebagai permintaan terimakasih ku untuk terakhir kali," ungkap Inspektur Hendra


"Kau jangan mengatakan seolah-olah ini hari terakhir kita bekerja sama," ucap Wasabi.


"Hemm penggantiku akan jauh lebih muda dan baik. Tidak emosian seperti ku,"


"Tapi ku rasa tidak ada polisi bersih seperti mu. terimakasih Inspektur. Aku akan menggunakan uang ini sebaik mungkin," ucap Wasabi.


Alhamdulillah modal nikah batin Wasabi


"Akhirnya Case Closed," ucap Inspektur Hendra


THE END


Bonus part next chapter