Detective Wasabi

Detective Wasabi
Involved



Wasabi pergi ke kafe tempat Dimas bekerja. Sebelum masuk, ia mengamati kafe yang bernuansa klasik itu. Semua perabotan dan pernak pernik hiasannya model buatan jaman dahulu khas betawi.


Wasabi pun duduk setelah puas melihat dekorasi kafe tersebut. Tak berapa lama datang seorang pelayan laki-laki, menghampirinya sambil memberikan daftar menu.


"Selamat datang, silahkan mau pesan apa? berikut daftar menunya," ucap pelayan pria


"Terimakasih," ucap Wasabi seraya mengambil daftar menu lalu membacanya sekilas.


Paket hemat untuk anak pelajar dan mahasiswa. Pas banget di kantong ku, batin Wasabi


"Maaf, Apakah saya bisa bertemu seseorang yang bernama Dimas? Dia berkerja disini," tanya Wasabi to the poin


"Oh ya itu saya, Maaf Anda siapa ya?" tanya si pelayan yang tak lain adalah Dimas.


"Saya kakaknya Qisty. Kamu kenal Qisty?" bohong Wasabi


"Oh iya saya kenal Qisty. Tapi setahu saya, Qisty tidak memiliki kakak. Saya pernah kerumahnya dan...., " ucapan Dimas terhenti karena Wasabi langsung menyelanya


"Saya kakak tirinya. Oh ya kapan kamu ke rumah? karena saya juga belum pernah bertemu kamu," sahut Wasabi


Dimas merasa aneh sambil memandangi Wasabi dari atas kepala hingga kaki.


"Maaf maksud kedatangan Kakak apa ya, karena kalau hanya untuk berbincang saya tidak punya waktu, karena saya harus kembali bekerja. Setelah ini saya bernyanyi di depan," jelas Dimas


"Tunggu, sebenarnya maksud kedatangan Saya kesini, ingin kamu berpacaran dengan Qisty. Saya tidak tahan melihat dia terus bersedih karena orang yang dicintainya sangat mencintai sahabatnya," ucap Wasabi berbohong. Dia sengaja berkata demikian agar bisa lebih dekat dengan Dimas


"Ahh benarkah itu? Saya tidak tahu kalau Qisty menyukai saya, jika benar begitu saya akan memikirkannya. Karena, saya merasa saya telah salah mencintai Adel, "


"Adel sahabat Qisty? Jadi sahabat yang sudah membuatnya bersedih itu Adel?" ucap Wasabi berlagak sok tidak tahu


"Iya, Qisty bilang pada saya bahwa Adel mempermainkan saya. Tapi tenang saja saya sudah membalas perbuatan Adel,"


"Maaf saya tidak mengerti arah pembicaraan yang kamu katakan,"


"Ah sudahlah tidak usah dibahas. Oh ya menjawab pertanyaan kakak saat itu, saya ke rumah Qisty kalau tidak salah tanggal 5," ucap Dimas


"Tanggal 5, itu adalah hari sebelum dilakukan penculikan?" sahut Wasabi


Tak berapa lama ada telepon berdering. Wasabi pun meminta ijin untuk mengangkat teleponnya.


"Maaf sebentar saya ingin mengangkat telepon,"


"Silahkan, nanti teman saya yang akan mengantarkan pesanan Anda, saya permisi mau ke panggung," pamit Dimas


Wasabi menganggukkan kepala kemudian mengangkat teleponnya sembari mengamati wajah Dimas. Senyum dan bentuk wajahnya mirip dengan Wasabi


"Ya Hallo,"


"Wasabi kamu pasti terkejut setelah mendengar ini,"


"Oh ya? Langsung saja Andi, apa itu?" tanya Wasabi penasaran


"Orang yang sengaja membakar kantor polisi dan membuang puntung rokok dekat bensin sitaan itu ialah Inspektur Hendra sendiri," ucap Andi


"Apa! Tidak mungkin. Jikapun Inspektur melakukan itu dia pasti memiliki alasan lain,"


"Aku akan mengirimkan video rekamannya padamu," sahut Andi kemudian mengakhiri pembicaraan dan mematikan teleponnya


Beberapa menit kemudian Wasabi melihat video rekaman yang tertangkap di kamera cctv.


"Astaga itu benar Inspektur Hendra, apa maksudnya membakar kantor polisi seperti itu," gumam Wasabi


Wasabi langsung menelepon Andi untuk menanyakannya lebih detail


"Sudah kamu lihat? Kamu pasti tidak akan percaya bukan?" ucap Andi


"Ya sedikit, tapi aku ingin tahu dari mana rekaman itu diambil? Maksudku apakah itu dari kamera cctv di dalam kantor polisi atau dari kamera lain seperti komputer atau kamera ponsel seperti program yang baru saja kamu buat, "


"Kamera CCTV saat itu sedang dalam perbaikan. Jadi polisi lain tidak tahu kejadian pastinya. Aku mengambilnya dari kamera komputer, "


"Hmm itu keren, Oh ya Plat nomer GG 1 apa kamu sudah melacaknya?"


"Tidak bisa terlacak Wasabi. Sepertinya itu plat khusus dan rahasia, "


"Ya kamu benar. Itu plat khusus yang di jual dan sempat booming di kalangan remaja Malaysia, "


"Pasti harganya sangat mahal,"


"Ya harganya fantastis, tetapi harga mahal sebuah plat nomor kendaraan bukan-lah halangan bagi penggemar otomotif," sahut Wasabi


"Anak muda berdompet tebal di Malaysia. Kalau aku punya banyak duit. Aku lebih baik mengupgrade pacarku dan naik haji bersama orang tuaku,"


Yang di maksud pacar adalah komputernya.


"Semoga keinginanmu terwujud,"


"Amiin," sahut Andi cepat


"Kamu tahu Andi, selain mendongkrak penampilan mobil, mereka juga senang jika mempunyai identitas karena akan meningkatkan gengsi si pemilik mobil. GG yang artinya Great Generation,"


"Yang penting asal bisa meningkatkan citra, semahal apapun benda itu, pasti akan dibeli. Menurutku itu suatu hal gila,"


"Pencitraan. Tentu saja," ucap Wasabi yang langsung menyeringai lebar. Dari sebuah percakapan dia menemukan suatu petunjuk


"Terimakasih Andi, kamu membuka jalan pikiranku. Orang yang gila akan suatu pencitraan, "


Wasabi mematikan ponselnya. Dia menikmati minuman dan makanan pesanannya yang baru datang. Dimas yang bernyanyi di atas panggung lalu turun dan berganti pakaian. Kali ini dia memakai kaos lebih santai.


Wasabi lalu menelepon Inspektur Hendra, ia mengajaknya untuk makan siang di kafe gaul.


"Aku akan mengirim lokasinya setelah ini," ucap Wasabi dari seberang telepon dan hendak mematikan ponselnya


"Apakah ini penting? Sudah ku katakan kita bisa membahasnya lewat telepon," sahut Inspektur Hendra


"Ya ini penting. Ku tunggu.." paksa Wasabi


Sembari menunggu Inspektur Hendra, Wasabi menikmati alunan musik dari penyanyi kafe. Penyanyi itu tak hanya Dimas, tetapi ada beberapa.


Setengah jam kemudian.


Kafe itu di padati dengan kehadiran anak SMA. Diantaranya ada Lulu, Adel dan Qisty. Adel dan Qisty terkejut saat mendapati Wasabi yang juga berada di kafe itu. Mereka pun bergabung dalam satu meja.


Begitu pula Inspektur Hendra juga datang selang beberapa menit setelah anak SMA tersebut.


"Wah wah wah ada apa ini. Kamu ulang tahun Wasabi? Sampai-sampai kamu juga mengajak anak SMA ini?" sahut Inspektur Hendra


"Haha tidak Inspektur Hendra. Duduk lah aku akan memulainya sebentar lagi. Keberadaan mereka juga suatu kebetulan," sahut Wasabi, padahal yang sebenarnya adalah ia telah meminta Lulu untuk mengajak temannya itu ke kafe


"Pesanlah minuman atau makanan dahulu aku akan mentraktir kalian," sahut Wasabi


(Harganya murah sih, coba kalau mahal mana mau Wasabi traktir mereka semua)


"Wah benarkah..terimakasih Detektif Wasabi," seru Adel dengan suara lantang


"Wah asyik..." Lulu kegirangan


"Detektif?" gumam Dimas yang saat itu ingin menghampiri Adel dan Qisty yang berada di satu meja dengan Wasabi


Tetapi gumaman kecilnya terdengar oleh Wasabi, "lya Aku seorang Detektif, duduklah Dimas," ucap Wasabi yang langsung mengubah bahasanya menjadi non-formal


Dimas menelan ludah dia seperti merasa ketakutan. Ditambah saat ia melihat ada seorang polisi yang duduk di meja itu. Dimas lalu duduk sambil melirik ke arah Qisty.


"Sebenarnya ada hal apa yang ingin kamu bicarakan Wasabi?" tanya Inspektur Hendra yang masih memakai seragam kerjanya


"Aku sudah tahu siapa orang yang mempunyai ide penculikan," ucap Wasabi


"Siapa dia?" tanya semuanya hampir serempak


"Aku akan mengatakannya nanti,"


"Ceritakan sekarang aku tidak punya banyak waktu, " ucap Inspektur Hendra seperti tidak nyaman seakan-akan takut dibuntuti seseorang


"Astaga siapa dia?" pekik Qisty memasang raut wajah terkejut


"Tadinya, aku mencurigai Ray orang yang menaruh hati pada Qisty. Kalian mengatakan bahwa Ray bertatto di leher tetapi saat aku tak sengaja bertemu dengannya, dia juga mempunyai tatto di lengan, sepertinya baru dibuat. Namun jika itu Ray kenapa dia berbuat jahat kepada Adel juga. Lalu aku menyelinap mencari tahu tentang kalian," sahut Wasabi, menunjuk Adel dan Qisty dengan cara melemparkan pandangannya kearah dua gadis yang duduk bersebelahan.


"Aku bertanya ke beberapa guru, mereka mengatakan bahwa kalian sahabat tetapi Adel lebih berprestasi ketimbang Qisty. Aku beranggapan bahwa Qisty tidak suka jika selalu dibanding-bandingkan terlebih lagi Adel dan Paman Qisty akan merencanakan pernikahan bertambahlah perasaan tak suka itu," sahut Wasabi, "


"Omong kosong apa ini," sahut Qisty tetapi ucapan Qisty tidak mendapat respon dari Wasabi


"Disisi lain ternyata Qisty mengetahui hubungan Adel dan Dimas yang baru beberapa minggu. berjalan. Adel selingkuh, Qisty bertambah dendam dia merasa pamannya dipermainkan. Benar kan apa yang aku katakan Qisty?" ungkap Wasabi


"Hmmm Ya....Aku akui....benar aku benci padanya! Aku benci padamu Adel!" Aku Qisty


"Adel kamu harus tahu, Qisty dan Dimas lah yang merencanakan penculikan itu. Mereka bekerja sama dengan Mr. Vin," tuding Wasabi


"Aku! Itu tidak benar! Jangan sembarang menuduh ya?" Dimas mengelak sambil menggebrak meja hingga mengundang sedikit perhatian para anak remaja yang berada di dalam kafe tersebut.


"Tenanglah Dimas, Detektif Wasabi belum selesai berbicara," sahut Inspektur Hendra


"Untuk menyempurnakan jalan, mereka membuat skenario yang begitu apik. Seolah-olah tak saling kenal dan agar Qisty tidak dianggap terlibat, ia pun ikut menjadi orang yang di culik. Aku ingat hari dimana aku menemukan kalian di dalam kamar hotel. Keadaan Qisty bersih, rapi, tidak berantakan tapi berbeda dengan Adel, seperti orang yang ketakutan,"


"Astaga tuduhan apalagi ini, aku memang membencinya tapi bukan berarti aku merencanakan penculikan itu. Karena aku juga diculik," ucap Qisty


"Persis seperti inilah yang aku katakan tadi. Dia bersikap dirinya tidak terlibat karena alasannya dia juga ikut diculik," Wasabi berhenti sejenak mengatur napasnya


"Qisty, dalam keterangan kesaksian yang telah disampaikan saat itu bahwa kalian di culik saat menaiki taksi. Lalu pingsan setelah menghirup asap rokok yang digunakan si pengemudi. Setelah itu kamu pingsan dan tidak tahu apa-apa?" ucap Wasabi menatap mata Qisty


"Padahal yang terjadi adalah hanya Adel yang pingsan. Sementara Nona Qisty sudah bersiap menutup lubang hidungnya dan saat asap itu menyebar, dia segera menahan nafas. Ketika Adel sudah pingsan, Qisty langsung membuka kaca jendela. Orang yang berpura-pura menjadi supir taksi itu adalah Mr. Vin," ucap Wasabi yang kemudian menatap ke arah Adel, Lulu dan Inspektur Hendra


"Astaga benarkah itu Qisty?" tanya Adel sembari mencengkeram lengan Qisty


"Aku tidak berbuat itu, kamu lebih percaya dengan detektif abal-abal itu ketimbang aku? Lepasin itu sakit," ujar Qisty sembari melepaskan cengkeraman Adel


"Iya jelas aku lebih percaya dengannya, dia pernah menyelamatkan kita," jawab Adel menatap sinis ke arah Qisty


"Maaf jangan bertengkar sendiri. Dan bicaralah saat ku tanya, untuk saat ini kalian dengarkan aku dulu," pinta Wasabi


"Agar penculikan itu terjadi dengan baik, transaksi jual beli dilakukan, seolah-olah kalian akan dijual oleh orang Jepang. Dan orang itu adalah anak buah Mr.Vin yaitu Kevin dan Irgi. Dengan teknologi canggih yang dimiliki Vin, membuat topeng lalu mencetaknya persis dengan wajah seseorang,"


"Aku baru menyadari dari kesaksian Andri, dia mengatakan kalau Qisty tidak mengenalnya. Dan ekspresimu sangat tegang seperti orang yang berjaga jarak. Bukankah orang yang dibawah pengaruh hipnotis itu wajahnya lebih rileks dan minim ekspresi, jumlah kedipan mata juga semakin sedikit, lambat merespon pertanyaan tetapi ku perhatikan juga dari kamera CCTV, Qisty bertingkah sebaliknya,"


"Tunggu sedari tadi kamu mengatakan Mr. Vin siapa Vin?" tanya Dimas


Wasabi memperlihatkan sebuah foto ke atas meja dari galeri ponselnya. Terlihat ada sebuah taman bermain, ada anak kecil berlarian dan sosok Dimas tak sengaja tertangkap kamera si fotografer. Ia sedang duduk berbincang dengan Mr. Vin. Sebuah kebetulan seakan takdir yang menjawab.


"Aku mendapatkan foto itu dari seorang fotografer. Aku mengenal Mr.Vin tapi aku tidak tahu siapa pria yang ada di sampingnya. Dan rupanya itu dirimu kan," ucap Wasabi


"Boleh aku menyela, sedari tadi aku ingin membela diri. Aku bahkan tidak sadar, saat di kafe itu Aku bersama siapa. Karena aku tidak ingat," ucap Qisty


"Menu favorit. Qisty memesan Tomyam apakah orang yang terhipnotis dapat memilih menu makanan favorit nya?" ucap Wasabi


Jadi inilah terjawab sudah, kenapa Wasabi meminta daftar penjualan hari itu, karena dia ingin melihat kebenaran, dari apa yang di pesan oleh mereka saat itu.


"Hah astaga dari mana kamu tahu itu pesanan ku? Mereka yang ada bersamaku itu juga bisa memesannya kan?" tanya Qisty


"Aku sudah menyelidikinya, Kevin alergi terhadap udang dan Adel alergi makanan laut, sementara Irgi, dia vegetarian," sahut Wasabi


"Dan yang lebih mengejutkan adalah orang yang memperkosa Adel adalah Dimas," ungkap Wasabi


Dimas memucat, matanya membelalak lebar dia terkejut ketika namanya disebut.


"Tidak itu tidak benar!" pekik Dimas yang sudah ketakutan


"Adel aku tidak pernah memperkosamu, mana mungkin aku melakukan hal tersebut," ujar Dimas


"Aku rasa tuduhan Detektif yang satu ini kelewat batas. Mereka suka sama suka kalau pun Dimas menginginkan hal itu, dia tinggal memintanya pada Adel tidak perlu memperkosanya seperti itu," sahut Qisty yang terdengar membela Dimas


"Kamu pikir aku wanita seperti apa?" sahut Adel


"Kamu kan playgirl, sudah pacaran dengan pamanku, masih juga pacaran sama Dimas," cibir Qisty


Adel ingin membela diri namun ditahan Lulu, sementara Dimas terus menolak tuduhan Wasabi tanpa bukti


"Aku punya buktinya. Kancing mu terlepas," ucap Wasabi


Dimas diam seperti mencari alasan lagi.


"Tapi bisa sajakan itu kancing jas orang lain. Bukan kancing jas milik ku,"


"Aku tidak mengatakan itu kancing Jas? dari mana kamu tahu itu kancing jas?" sahut Wasabi


Wasabi memperlihatkan sebuah bungkusan kecil di atas meja, di dalamnya ada sebuah kancing jas dengan tulisan timbul bertuliskan merek jas tersebut.


"Ok dengan tidak sengaja kamu mengakuinya, "


Inspektur Hendra tersenyum, sementara Adel geram namun Lulu menahannya.


"Dimas menggunakan wajah ku atas perintah seseorang aku tidak tahu suruhan siapa, bisa saja si Vin atau Bosnya Vin. Karena takut terungkap olehku, mereka sengaja menjebak ku masuk ke dalam hotel. Kemudian membuat berita seolah-olah Adel mati. Namun rupanya Adel pura-pura mati, ia masih hidup walaupun tubuhnya lemah. Adel masih memiliki akal untuk kabur dari tempat itu. Dia segera lari lewat balkon dan masuk ke kamar Qisty. Aku datang disaat yang tepat. Saat pembeli sebenarnya ingin membawa Adel. Kamu tahu, Adel akan dijual bukan hanya untuk di nikmati melainkan untuk diambil organ tubuhnya dalam keadaan fresh," jelas Wasabi membuat keadaan menjadi hening. Sesungguhnya Qisty dan Dimas tidak tahu jika yang mereka incar adalah organ tubuh.


"Karena berita itu pemerkosaan dan kabar bahwa Adel meninggal. Aku masuk ke dalam penjara. Saat itu aku tidak bisa menunjukkan keberadaan Adel dan Qisty. Salah satu pengantar pizza menyamar menjadi Ayahku untuk mengetahui keberadaan kalian. Tetapi aku tak mudah ditipu. Dan hal itu membuat Bos mafia geram. Dia menyuruh Gibran untuk membakar rumah Qisty. Untung saja Inspektur Hendra telah memindahkan Adel dan Qisty ke tempat rekanku Andi,"


"Adel kamu tahu, kamu terkena racun yang sama dengan Andri. Qisty mencoba meracuni mu dalam perjalanan ke rumah Andi. Saat kamu meminta minum kepada Inspektur Hendra. Tentu saja Qisty yang membukakan tumbler minum itu, tapi sebelum menaruh racun, dia menghirup minuman apa didalamnya, karena jika itu Kopi atau teh, racun itu harus banyak takarannya. Sayangnya lipstik Qisty tertinggal di tumbler itu. Qisty tak berani berulah saat aku berbohong mengenai CCTV di dalam kamar. Apakah aku benar Qisty?"


"Sudah ku katakan aku tidak terlibat dengan semua ini, aku bisa memenjarakan tuan detektif ini atas tuduhan pencemaran nama baik," ujar Qisty kesal


"Aku memang membenci Adel yang selingkuh di belakang pamanku. Tapi aku tidak terlibat soal penculikan ini. Sudahlah jangan asal menerka-nerka," timpalnya lagi


"Aku tidak menerka-nerka. Karena DNA dan sidik jari yang saat itu aku ambil adalah sidik jari kevin dan DNA mu. Aku lebih percaya pada Andi ketimbang hasil lab Dokter Mia. Saat itu Andi bilang bahwa DNA itu ada dirumahnya. Siapa lagi kalau bukan dirimu. Dan saat di batam juga ada sensor DNA mu. Kamu juga ada di sana bukan. Kalian sengaja membuat bukti yang berbeda-beda. Tetapi tetap saja kebenaran akan terungkap,"


"Tapi itu tidak benar. Adel kamu sahabatku kan. Jangan percaya pada karangannya Detektif itu,"


"Aku sungguh kecewa padamu Qisty, juga terlebih padamu Dimas. Kau... Arrghh," teriak Adel kesal. Ia beranjak dari duduknya dan menghampiri Dimas.


Plaakk...


Adel menampar Dimas dengan wajah memerah karena marah.


"Kamu berani menamparku? Aku tidak melakukannya Adel!" teriak Dimas


"Masih mau mengelak? Buka lengan bajumu hingga keatas bahu, biar Adel sendiri yang lihat apakah benar itu tatto yang sama, dengan tatto orang yang memperkosanya atau tidak,"


Dengan ragu Dimas membukanya perlahan, namun pada akhirnya dia memilih kabur. Tetapi aksinya terhalang oleh anak buah Inspektur Hendra yang berjaga di depan. Sebelum Dimas dibawa, Detektif Wasabi menaikkan lengan bajunya dan semua orang terkejut. Terlebih Adel, karena yang dilihatnya itu benar tatto yang sama.


"Astaga! Benar, itu Tatto yang sama dengan orang yang memperkosaku. Kenapa kamu melakukan itu padaku! Kenapa!!!Hiks," Adel mencengkeram kerah baju Dimas dan berteriak keras di depan wajahnya kemudian menangis.


"Maaf Adel, Aku marah padamu. Kamu mempermainkan aku," ucap Dimas sambil menunduk malu


"Tapi sungguh aku tidak tahu jika dirimu akan benar dijual. Aku pikir semuanya hanya rekayasa," imbuhnya lagi


"Jadi saudara Dimas, kamu mengakui kalau kamu dan Qisty yang merencanakan semuanya?" sahut Inspektur Hendra


"lya...," jawab Dimas dengan ragu


"Sialan kamu Dimas. Itu idemu bukan ideku!" Qisty kesal karena Dimas buka suara


"Astaga sahabatku sendiri, musuh terbesar ku!!," ucap Adel kini ia mendekati Qisty


"Tapi kamu juga mengikuti permainannya Qisty, aku masih tidak percaya atas apa yang kamu lakukan padaku. Sebegitu marahkah kamu padaku? Hah?" ucap Adel namun Qisty hanya diam dengan wajah kesal


"Nona Qisty, kamu juga ikut ditahan. Jelaskan semuanya di kantor polisi," ujar Inspektur Hendra


"Terimakasih Detektif Wasabi, Satu persatu penjahat yang terlibat sudah tertangkap. Aku harap Bos mafia pasar gelap kali ini juga bisa segera tertangkap,"


"Bagaimana bisa tertangkap, kalau ada yang melindunginya," ucap Wasabi sengaja menyindir


"Wasabi, Aku tahu kamu sudah melihat ku di kamera itu. Perhatikan lagi Wasabi. Aku yakin kamu bisa menangkap maksud ku," ucap Inspektur Hendra dengan berbisik


Inspektur Hendra pergi berlalu dari pandangan Wasabi, meninggalkan pesan misteri.