Detective Wasabi

Detective Wasabi
Terpojok



"Cukup saya, jangan pukul aku. Aku tidak tahan atas tuduhan kamu itu. Aku sudah bilang kan kalau aku tidak meracuni dirimu," ucap Nyonya Mayang pada tuan Paldo


Nyonya Mayang kemudian beranjak berdiri. Ada botol kecil yang keluar dari kantongnya. Semua mata tertuju pada obat yang jatuh. Tuan Paldo mengambil obat itu.


"Antidepresan," gumamnya sambil melihat kemasan botol tersebut, "Siapa yang depresi? Kamu!?" terka Tuan Paldo


"Obat antidepresan?" Wasabi berfikir keras.


Semua hening, menunggu jawaban Mayang sementara Wasabi berfikir sejenak.


"Astaga...Dugaan saya semakin kuat. Saya fikir ini memang obat yang diminum untuk menenangkan diri jika ada masalah. Yang pasti saya menduga ini bukan untuk Nyonya Mayang. Melainkan untuk Desi," terka Wasabi


"Hah gampang sekali anda bicara," ucap Nyonya Mayang sambil menunjuk Wasabi


"Saya mencermati obat ini, jika dikonsumsi terlalu banyak, akan mengalami hilang ingatan. Bahkan menjadi susah berkonsentrasi. Kemudian Nyonya Mayang mengganggu pikiran Desi dan terus mencuci otaknya hingga Desi menjadi patuh, mudah dikontrol dan mengikuti keinginan Nyonya Mayang. Seperti pulang larut malam, mabuk-mabukan bahkan berani dengan orang tuanya," ucap Wasabi menganalisis tujuan digunakannya obat tersebut.


⚠️Warning harap reader tidak menirunya dirumah


"Benar, sebelumnya Desi anak yang baik, tapi setelah saya menikah dengan Mayang, Desi tampak berubah," ucap Tuan Plado seraya berpikir kemudian ia menoleh ke arah Mayang


Menatapnya dengan tatapan sinis, "Aku tak menyangka kamu sejahat ini,"


"Itu kan hanya dugaan saja. Apa yang dikatakan Wasabi tidak benar. Tidak ada bukti jika saya memakainya seperti yang dia tuduhkan. Yang sebenarnya adalah itu hanya obat despresi saja. Karena aku lihat Desi sering pulang larut, mabuk-mabukan, pasti dia depresi. Itupun aku dapat dari resep dokter," ucap Mayang


"Tolong Wasabi kamu jangan memfitnah saya," sahut Nyonya Mayang


"Jadi.. Anda membenarkan itu obat untuk Desi?"


"lya ini untuk Desi. Tapi bukan seperti itu alasan yang kamu bilang. Intinya adalah saya ingin Desi kembali membaik. Dia menjadi depresi sejak kehilangan Ibu kandungnya," ucap Nyonya Mayang


"Haha...." Wasabi tertawa kecil ada yang lucu baginya


"Lalu dimana Desi?" timpal Wasabi setelah tertawa kecil


"Bukankan dia sudah menghilang selama 3 bulan. Tapi, kenapa obat itu sampai sekarang ada dikantong Anda?" ucap Wasabi yang sebenarnya dia hanya mempermainkan perkataan dan membolak balikkan kata membuat para reader kebingungan


Nyonya Mayang menunduk mengepalkan tangan dan tidak bisa mengelak


"Katakan Nyonya Mayang. Apakah Anda ini mengantongi obat itu selama tiga bulan? Atau anda lupa mengeluarkan obat itu dari kantong celana Anda selama tiga bulan terakhir? Haha lucu sekali. Dan lagi Anda terlihat sedang berbohong," ucap Wasabi


"Terlihat jelas di kedua bola mata Anda, semakin lama berkedip, itu menandakan saat ini anda sedang berbohong," imbuhnya lagi


Nyonya Mayang terdiam dan tidak bersuara lagi


"Benarkah begitu Mayang?! Benarkah yang dikatakan Wasabi!!!! Aku menyesal menikahimu, di mana Desi sekarang hah!" ucap Tuan Paldo dengan nada meninggi


"Paldo...Hiks," Mayang mulai menangis


"Lanjutkan Wasabi," perintah Tuan Paldo


Tak berapa lama para pekerja berkumpul diruangan itu.


"Sebelum saya melanjutkan. Saya ingin bertanya kepada kamu," Wasabi menunjuk Shandian.


"Ah iya saya," ucap Shandian maju selangkah ke depan dengan takut


"Disitu saja," pinta Wasabi, "Dimana Nyonya Mayang meluangkan waktunya,"


"Saat ini Nyonya sering meluangkan waktu bercocok tanam, di rumah kaca yang baru dibangun ini," jawab Shandian


"Lalu tadi malam, jam berapa kamu beranjak tidur?" tanya Wasabi lagi


"Butuh berapa lama kamu mengantarkan cokelat panas itu?" tanya Wasabi


"Mungkin sekitar 3 menit, setelah itu saya langsung keluar,"


"Kamu yakin hanya 3 menit. Karena yang terekam di kamera adalah kamu keluar dari kamar Nyonya Mayang selama 30menit," ucap Wasabi


Shandian kebingungan wajahnya nampak jelas jika dia sedang berbohong.


"Tuan Paldo bisakah Anda memperlihatkan Ibu Jari sebelah kanan. Masih terlihat ada sedikit warna ungu," ucap Wasabi


Tuan Paldo melihat ibu jarinya dan mengamati


"Sebelum saya mandi warnanya terlihat sedikit jelas dari ini," ucap Tuan Paldo mengerutkan dahi


"Menurut saya Nyonya Mayang dibantu oleh Shandian untuk memperoleh sidik jari Anda. Saya menemukan tinta dan ban tinta di laci kamar Anda," ungkap Wasabi sambil melirik ke arah Nyonya Mayang.


"Kamu mau membuat masalah denganku," gumam Tuan Paldo


"Aku bisa jelaskan," ucap Mayang


"Wasabi langsung saja dengan apa yang kau ketahui, jangan bertele-tele buka saja semua yang kau ketahui dengan analisamu!" perintah Tuan Paldo


"Baik Tuan Paldo," Wasabi membungkuk hormat, "Menurut analisa dan hasil pencermatan saya. Aksi ini dilakukan malam hari saat tuan Paldo bertengkar hebat dengan Desi. Nyonya Mayang mengambil kesempatan.


"Malam itu seorang pembantu datang membawa segelas susu ke kamar Desi. 15 menit kemudian dia keluar. Pertanyaannya, apa yang dilakukan seorang pembantu didalam kamar selama 15 menit?" tanya Wasabi dia diam sejenak memperhatikan semua orang yang ada diruang tengah


"Dugaan saya, pembantu itu bertukar pakaian dengan Desi, dan menyuruh Desi untuk keluar kamar dan pergi dari rumah. Desi lalu keluar kamar dengan memakai baju pembantu dan badannya sedikit sempoyongan. Dia menuju dapur dan disanalah Nyonya Mayang menuntunnya untuk keluar ke halaman belakang menuju suatu tempat," lanjut Wasabi


"Sedangkan si pembantu lompat dari balkon dan mendarat kebawah. Mengenai pot bunga. Seperti yang Tuan Paldo katakan dia tidak ingin siapapun masuk ke kamar Desi agar tidak menghilangkan bukti, termasuk tanaman yang ada di bawah kamar Desi. Terimakasih Tuan Paldo karena Anda pot tersebut masih terlihat jatuh,"


"Lalu kalau benar Desi masih ada dirumah ini. Dimana dia Saya berfikir Nyonya Mayang menyembunyikannya di tempat baru, rumah kaca. Lokasi yang tidak terlihat kamera CCTV dan ditambah keterangan salah satu pembantu bahwa Nyonya Mayang senang menghabiskan waktu di sana. Ada serpihan bunga Edelweiss setelah keluar dari rumah kaca tersebut padahal tidak ada bunga Edelweiss disana. Apalagi kalau bukan Desi didalamnya, yang senang dengan bunga Edelweiss," jelas Wasabi


Meskipun hanya dugaannya saja tetapi terasa benar.


"Dan soal pembantu yang mengantar coklat panas untuk Nyonya Mayang, dia membantu Nyonya Mayang untuk mendapatkan sidik jari tuan Paldo," jelas Wasabi lagi


"Kita ke rumah kaca sekarang! Kita harus membuktikannya," Tuan Paldo beranjak berdiri dan berjalan ke rumah kaca.


"Tidak ada apa-apa disana," ucap Nyonya Mayang


"Pagi tadi anda menarik pelatuk, dan saya sedikit mendengar ada suara menggedor-gedor dari dalam. Jika angin sungguh tak mungkin. Karena saat saya disana saya pun tidak merasakan angin. Saya juga telah menyuruh rekan saya untuk mengawasi di sekitar rumah kaca tersebut. Diapun mendengar hal yang sapa seperti suara menggedor-gedor. Ditambah lagi ada Bunga Edelweis di baju Anda saat itu. Tetapi dari mana asalnya bunga Edelweis itu. Di dalam rumah kaca itu tidak ada tumbuhan Edelweis," ujar Wasabi


"Tak usah buang waktu kita ke rumah kaca sekarang dan Katakan dimana kamu menyembunyikan Desi hah!" tanya Tuan Paldo yang meraih lengan Mayang dengan paksa sambil berjalan menuju ruang Kaca


"Aku sungguh tidak tahu dimana Desi. Kalau tidak percaya ayo kita kesana," ucap Nyonya Mayang


Wasabi curiga Nyonya Mayang telah memindahkan Desi. Ini bisa membuatnya kalah.


Tuan Paldo menyuruh Bass alias Wisnu memegang tangan Nyonya Mayang dan ikut membawanya menuju rumah kaca.


"Lepasin. Aku bisa jalan sendiri. Aku tidak akan kemana-mana karena aku tidak salah," ucap Nyonya Mayang


"Ikuti saja maunya," ucap Tuan Paldo


"Baik Tuan," jawab Wisnu


Wisnu melepasnya dan mengikutinya dari belakang. Mereka semua bergegas menuju rumah kaca.