Detective Wasabi

Detective Wasabi
Fraternal Twins



Pria itu mendekati Wasabi sembari melepaskan masker penutup wajahnya. Wasabi pun langsung mengenalinya.


"Hah! Benarkah ini Kakek Hugo?" tanya Wasabi memastikan


"Bagaimana mungkin? Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri. Detak jantung Kakek berhenti saat itu, tak hanya itu saja, aku pun turut menyaksikan pemakaman....," ucapan Wasabi terhenti karena pria tua didepannya itu tertawa


"Hahaa...Apa kamu tidak mau menyambutku dengan pelukan nak?" ucap pria tua itu


"Kakek Hugo. Aku tak tahu harus menyambutnya dengan bagaimana? Karena aku masih belum percaya," jawab Wasabi


Dia menoleh pada pria yang masih terduduk di bawah. Wasabi bertanya pada Kakek Hugo, menunjuk dengan dagunya.


"Dia siapa?"


"Dia Takashi," jawab Kakek Hugo


"Kenapa dia menyerangku? Dan kenapa kamu memiliki kekuatan yang sama,"


"Kemarilah nak, peluk aku dulu. Aku merindukanmu. aku akan menceritakan semuanya setelah itu,"


Wasabi mendekati kakeknya dan memeluknya. Pelukan yang sudah lama tak dia rasakan. Namun Wasabi merasakan pelukan itu sedikit berbeda. Mungkin karena sudah bertahun-tahun tak bertemu.


"Bagaimana kalau melanjutkan obrolan ini dirumahku," ucap Kakek Hugo


Wasabi langsung teringat dengan urusannya. Dia tak punya banyak waktu. Karena gadis yang di perjual belikan itu bisa saja dalam bahaya. Kasus kemarin belum selesai dan masih menggantung, kini sudah muncul masalah lain yaitu kemunculan seorang kakek yang mengaku dirinya Hugo juga seorang pria yang memiliki kekuatan yang sama dengannya


"Maaf kek, Aku sedikit sibuk hari ini. Berikan saja nomer telepon atau alamat rumahmu. Ketika urusanku selesai Aku akan mengunjungi mu Kek,"


"Oh common! Kakek rindu padamu. Tunda saja urusanmu. Dan hari ini kita akan menghabiskan waktu bersama,"


"Maaf Kek, ada hal yang lebih penting untuk segera diselesaikannya. Tapi tolong beritahu aku. Siapa dia sebenarnya," ucap Wasabi dan diakhiri dengan pertanyaan


"Untuk apa aku beritahu sekarang. Kalau kami tidak penting bagimu?" ucap Hugo


Kemudian Wasabi memperhatikan kakek Hugo, setiap wajahnya, kerutannya, semuanya hampir mirip Kakek Hugonya yang telah meninggal


Aku tidak boleh langsung percaya, ini benar-benar permainan. Aku akan ikuti sampai dimana permainan itu batin Wasabi


"Jelas kau bukan Kakek, Kakek tidak pernah merendah diri seperti itu," ucap Wasabi sengaja memancing agar Hugo mengatakan langsung


"Apa!? Kenapa Mama, Papa dan Ayah Setya tidak menceritakannya padaku?"


"Kalau ku ceritakan panjang jadinya. Ayolah ikut bersamaku," pria tua itu bersikeras mengajak Wasabi untuk kerumahnya


"Astaga Aku benar-benar dilema. Tidak kek, tidak untuk saat ini," jawab Wasabi


"Dan Kamu sungguh kah kamu adikku? Wajah kita tidak sama. Tentunya wajahku lebih tampan darimu," ucap Wasabi pada Takashi dengan sombongnya.


"Kamu memiliki tingkat kepercayaan diri yang luar biasa Wasabi," ujar Takashi


"Ya itu bukan kesombongan tapi kenyataan. Dan jujur saja meski saat ini aku menyebut dirimu Kakek Hugo. Aku belum bisa percaya dan lagi wajahmu sedikit lebih muda,"


"Terimakasih, aku anggap itu pujian. Aku selalu menjaga staminaku dan minum vitamin,"


"Itu baik untuk kesehatanmu. Kakek, tolong tulis alamatmu disini. Aku harus segera pergi," Wasabi memberikan kertas kecil yang selalu ia bawa di sakunya


"Baiklah. Tidak perlu ku tulis, ini kartu namaku, ambillah. Jangan lupa datanglah secepatnya. Kakek menunggu kedatanganmu," jawab Kakek itu


"Aku janji akan menyelesaikan urusanku secepatnya. Maaf aku permisi,"


Whusss


Wasabi menghilang begitu saja dari hadapan Kakek Hugo dan Takashi.


Kakek Hugolah tahu tentang kekuatan Wasabi karena ia yang mengajari Wasabi untuk mengontrol kekuatannya dan mengajarinya cara berkelahi.


"Sempurna," ucap Hugo


"Tak sia-sia kau...." ucapan Takashi terpotong karena Kakek Hugo menyelanya


"Huss jangan bicara sembarangan. Tetap jaga lisanmu itu. Besok kamu sudah mulai kuliah,"


"Satu kampus yang sama dengannya?" tanya Takashi


"Ya... Aku ingin kamu lebih unggul darinya. Mengerti!


"Apapun untuk Kakekku tersayang akan ku lakukan," ucap Takashi sambil memeluk kakeknya dengan manja.