
Diruang tamu
Naomi mendengar suara Wasabi di dalam. Tanpa ijin terlebih dahulu dengan si empunya rumah, ia langsung berlari dan ingin memeluk Wasabi, tetapi Wasabi mengambil langkah mundur dengan memberi isyarat "jangan" dengan tangannya.
"Hah Dia ingin mengambil kesempatan dalam kesempitan. Mau ambil perhatian Wasabi dari ku? jangan harap!" gumam Joy yang masih berdiri di depan pintu ruang tamu
"Maaf Naomi, sebaiknya kau duduk dan minum dahulu. Setelah itu ceritakan apa yang terjadi.Hiks...Dan kenapa menemui ku kemari?" tanya Wasabi
"Tidak sopan, belum ku ijinkan masuk sudah nyelonong saja," gerutu Joy kemudian duduk di samping Wasabi
"Maaf Joy... Hmmmm bagaimana mengatakannya padamu," ucak Naomi kebingungan dia terlihat panik
"Mama, Mama terbunuh. Hiks.. Hiks.." Naomi menangis tersedu-sedu
"Bagaimana bisa?" Wasabi terkejut
"Harusnya kau lapor pada polisi, kenapa pada Wasabi, " keluh Joy
"Aku tidak tahu. Siang itu setelah pulang kuliah Aku tidak melihatnya dirumah. Aku pikir Dia sedang pergi. Hiks.. hiks," Naomi menangis dia tidak menghiraukan ucapan Joy
"Sore ini Aku ke kamarnya dan melihatnya sudah tergeletak tak bernyawa dengan darah yang sudah hampir mengering. Aku melapor ke polisi dan sepulangnya dari sana Aku melihatmu kemari. Wasabi Aku ingin kau menemukan pelaku yang membunuh Mama ku," ucap Naomi
"Kau sudah melaporkan kepada polisi kan? sementara ini biarkan polisi yang bekerja mencari tahu dahulu. Setelah Aku menyelesaikan kasus Joy, Aku akan fokus pada kasusmu," ucap Wasabi
"Kasus Joy? Aku melihat dia baik-baik saja. Wasabi urusanku lebih penting semakin banyak orang yang mencari tahu, pelaku itu akan segera cepat tertangkap. Kita tidak tahu maksud tujuannya membunuh, jika Dia seorang psikopat bagaimana? Apa Kau akan membiarkan banyak korban berjatuhan lainnya," sahut Naomi dengan nada tinggi
"Kau salah paham, Aku tak bilang tidak akan mengurusnya. Semua kasus itu penting. Hanya saja Aku harus fokus terhadap satu Kasus yang lebih dahulu ku selidiki,"
"Huh Kau membuat ku kecewa Wasabi. Aku pulang!" Naomi pun pulang malam itu dengan perasaan kecewa
.
.
"Sepertinya Dia salah paham," sahut Joy
"Dia pikir Aku akan mengabaikannya. Tentu saja Aku akan mencari tahu bersamaan dengan Penyelidikan terhadap kasusmu. Kalau begitu Kita percepat saja," ucap Wasabi
Wasabi melihat arloji ditangannya. Dan mulai berpikir sebentar.
Wasabi lalu meminta Tuan Samy mengundang Tuan Barchie Willie dengan alasan urusan bisnis sambil makan malam. Padahal tadinya rencana itu harusnya untuk besok siang.
"Aku baru saja ingin mengajak nya makan siang," ucap Samy
"Ada perubahan rencana Sayang, Aku akan membantu menyiapkan makan malam. Untung saja Jesslyn hari ini memasak lebih banyak," ucap Noura
Saat Nyonya Noura keluar dari kamarnya Dia terkejut melihat Joy yang berdandan seperti orang sakit.
"Astaga Joy, kenapa Kau berdandan seperti ini Apakah ini bagian dari rencana Wasabi?" tanya Noura
'Haha iya Mom, Aku akan berpura-pura lemah dan berbaring di tempat tidur," jawab Joy
"Yasudah, jangan lupa makan dulu ya. Oh ya kemana Wasabi?" sahut Noura
"Dia tadi pamit ke rumah Tuan Barchie," jawab Joy
"Mau apa dia disana," pikir Noura
.
.
.
Sesampainya Wasabi di rumah Tuan Barchie.
Dia memarkirkan mobilnya agak jauh dari rumah Barchie. Seperti biasa Wasabi memulai penyelidikan dengan kekuatan teleportasi dan tak kasat matanya
Wasabi mulai memasuki rumah Tuan Barchie di lantai Tiga nya.
"Sepertinya ini kamar Ray," batin Wasabi
"Terlihat sekali bagaimana Dia membenciku," gumam Wasabi
Wasabi berpindah ke ruangan lainnya. Sebelah kamar itu terdapat ruang baca yang sangat besar.
Dia mulai mencari tahu sesuatu lainnya entah sebuah petunjuk bisa saja berbentuk apapun. Tak ada yang mencurigakan.
"Sayang cepatlah. Aku tak ingin keluarga Samy menunggu kita begitu lama," seru Barchie Willie
memanggilnya dari lantai dasar.
"Iya sayang, Aku hanya tinggal mengenakan sepatu," jawab Istri Tuan Barchie yang bernama Nyonya Princess
Wasabi mengikuti di belakangnya
"Waw Kau sangat cantik malam ini Princess Ku," puji Barchie
"Ah Barchie, untuk malam ini sajakah? Berarti kemarin Aku jelek ya?"
"Kau selalu cantik dimataku,"
"Terimakasih sayang. Aku malas kerumah Samy, gara-gara mereka anak kita masuk bui,"
"Itu kesalahan Ray sendiri, biar dia menanggung semuanya. Aku tidak akan membantunya, biar dia belajar dari kesalahannya," ucap Barchie dengan Tegas.
Keduaanya pergi meninggalkan rumah itu. Wasabi merasa leluasa untuk bertindak namun ia harus berhati-hati
Ketika Wasabi membuka laci di ruang kerja Tuan Barchie, Dia menemukan sebuah pistol dengan peluru di dalamnya yang berisi hanya satu
"Pistol ini!? Semoga selongsong peluru yang terlepas didepan rumah Joy masih tertinggal disana. Sehingga Aku bisa tahu apakah ini dari peluru yang sama atau tidak. Hanya pistol yang ku temukan. Tak ada, obat tak ada racun. Huft....," gumam Wasabi
Wasabi kembali lagi kerumah Joy
***
Sambil menyetir mobilnya Wasabi menelepon Andi.
"Hallo Andi. Bagaimana kabarmu? Apa Kau sedang sibuk?" tanya Wasabi
"Hallo Wasabi, Aku sedang sakit sekarang. Aku kecelakaan sore ini," ucap Andi
"Apa!? Kenapa kau tak mengabariku?" seru Wasabi
"Aku baru saja sadar dari operasi. Masih lemas," sahut Andi
"Maaf kan Aku, setelah jam makan siang. Aku akan menjengukmu,"
"Besok saja, sekalian ada yang ingin ku ceritakan padamu. Ini soal Emi. Penting," ucap Andi
"Oke besok Aku akan ke rumah sakit. Lekas sembuh Andi. Untuk saat ini istirahat lah,"
"Kau menelepon ada apa? Apakah soal kamera pengintai?" tanya Andi tiba-tiba
"Ah ya sebenarnya Aku ingin menanyakan soal itu, tapi kau sedang terkena musibah,"
"Maaf Wasabi Aku tak bisa membantumu jika soal Kamera itu. Semua peralatan ku rusak. Butuh waktu satu bulan untuk memperbaikinya. Maafkan Aku," ucap Andi
"Iya terimakasih Andi. Lekaslah pulih,"
"Oke, thanks. Jika butuh bantuanku yang lain bilang saja tak perlu sungkan," sahut Andi
"Ok," Wasabi menutup teleponnya
Ia mengemudi sambil memikirkan sesuatu. Musibah demi musibah
Tunggu! Saat itu Ayahku kecelakaan, Joy sempat kritis, Nyonya Cen meninggal, Andi juga kecelakaan. Apakah ini semua ada kaitannya? - batin Wasabi
Ahh Sial.. kenapa jalanan ini begitu macet.
Wasabi lalu segera memakai kekuatan teleportasinya. Dia tidak peduli apa kata orang. Yang penting Dia harus sampai sebelum Tuan Barchie sampai.