
Di Kediaman Qisty. Gibran mengintainya dari luar. Dilihatnya lampu rumahnya sudah padam pertanda penghuni rumah sudah terlelap tidur.
Sebelum membakar rumah ini aku harus membunuhnya terlebih dahulu, batin Gibran
Gibran masuk lewat pintu depan. Pintunya terkunci. Dia lalu mencongkel daun pintu, dengan mudahnya
Ceklek
Pintu telah terbuka, dia pun pergi ke kamar tidur.
"Ini mungkin kamar Qisty, ada poster yang menempel dan banyak barang remaja di meja riasnya. Haha makanan empuk," pikir Gibran yang sudah melepas seragam polisinya. Pria itu memakai kaos lengan panjang, celana panjang dan penutup kepala hingga menutupi wajahnya dan semua serba hitam.
Kamar itu gelap karena mereka tidur dengan lampu yang dimatikan, tetapi kamar itu mendapatkan sinar cahaya remang dari jendela yang tidak bertirai.
Dua gadis itu tidur dengan selimut yang menutupi seluruh badan hingga kepala. Tetapi salah satu kaki terlihat betis yang putih. Membuat Gibran sedikit menelan ludah. Gibran pun mengelus betis itu dengan pelan. Tapi dia merasakan ada sedikit bulu-bulu kaki pada betis itu.
Siapa nih yang kakinya berambut. batin Gibran
Kaki itu sedikit bergerak karena sentuhan Gibran. Gibran menarik tangannya dan berhenti menyentuhnya. Dia lalu mengeluarkan pisau dan bersiap menerkam. Dalam hitungan ke tiga Gibran menusukkan pisaunya tetapi ada yang menepis dibalik selimutnya
Wasabi muncul dalam selimut dan menahan serangan Gibran. Gibran terkejut, meskipun dia memakai penutup muka, tetapi dia ketakutan karena berhadapan dengan Wasabi. Segera Gibran menarik tangannya dan bergegas kabur. Tetapi tiba-tiba pintu kamar itu tertutup, entah siapa yang menutup. Semua terlihat terang, saat lampu dinyalakan. Ternyata Inspektur Hendra lah yang menutup pintu itu.
Inspektur Hendra berjalan mendekati Gibran, dan Gibran mundur perlahan tetapi dibelakangnya ada Wasabi.
Gibran bingung, lalu dia pun melihat ke arah jendela yang tak berpalang dan tidak berteralis. Gibran bisa keluar lewat jendela, dengan sedikit tabrakan pasti kaca jendela akan pecah. Ia pun berinisiatif kabur dengan melompati jendela.
Dia mengambil ancang-ancang dan kemudian lari, tetapi badannya di tahan oleh Wasabi. Dia tertangkap dalam pelukan Wasabi. Inspektur Hendra membuka penutup kepalanya. Dan terungkaplah semua, Gibran ikut serta dalam aksi penculikan tersebut.
"Aku tak menyangka ternyata dirimu, apakah kamu terlibat dengan kasus penculikan ini. Hemmh kamu bisa menjelaskan semuanya nanti," ucap Inspektur Hendra
"Sialan kalian menjebakku," gumam Gibran
"Tentu. Memangnya Aku bodoh. Untung saja aku mendengarkan ide Wasabi," ucap Inspektur Hendra
"Pantas saja aksi penculikan ini sangat susah dicari. Ada turun tangan seorang polisi, mungkin tidak hanya kamu. Pasti banyak kan diantara kalian hah?" ucap Wasabi
"Jelaskan semuanya di kantor polisi. Ku harap kamu bisa berkata jujur Gibran," Inspektur Hendra membawa keluar Gibran menuju mobilnya yang terparkir sedikit jauh dari rumah Qisty.
Sementara Wasabi setelah pamit dengan Inspektur dan penghuni rumah, ia pergi kerumah Andi. Inspektur Hendra membawa Gibran ke kantor polisi. Wasabi lalu bergegas kerumah Andi sebelum larut.
Ditangkapnya Gibran tak lantas kekurangan Gibran-gibran yang lain. Aksi penangkapan itu langsung terdengar di telinga penjahat bagian atas.
Beberapa kali ketukan, barulah pintu kamar terbuka. Si Bos nampak sedikit geram
"Bos maaf menganggu ritual mu. Malam ini mereka telah meringkus dua tikus. Apa yang harus kita lakukan Bos?" tanya Blue
"Arghh...kemasi semua barang, malam ini kita pindah ke markas Bandung," ucap Bos
"Hubungi sekretaris ku dan suruh dia menjual mansion malam ini," perintah Bosnya
"Maaf Bos, sekretaris Bos yang mana ya? Sekretaris kantor atau sekretaris lapangan? Jani atau David," tanya Blue
"Sekretaris yang bekerja di kantorku, Jani. Dan lagi segera cari orang yang tau pemrograman sepintar Revi," ucap Bos
"Baik Bos segera laksanakan,"
Setelah itu Blue pergi dan bergegas untuk berkemas. Sementara sang Bos melanjutkan aktivitas ranjangnya yang sempat tertunda. Sayang kalau dihentikan.
Mereka harus mengosongkan mansion yang mereka tempati malam itu juga. Dalam waktu dua jam mansion itu laku terjual dengan seorang turis, itupun jauh dari harga yang ditawarkan. Mereka mendapatkan keuntungan yang tidak sedikit.
Janimenghubungi Bosnya lewat ponsel Blue.
"Bos, mansion sudah laku. Malam ini dia akan pindah kesana. Jadi harap kosongkan mansion itu segera. Dia telah mentransfer uangnya dari beberapa rekening yang berbeda dan sudah masuk. Bos bisa mengeceknya setelah ini," Jani menelepon sang Bos
"Ya, Saya sudah mengeceknya. Mansion juga sudah siap ditempati. Terimakasih Jani kerjamu bagus," puji sang Bos
"Ini keahlian Jani Bos, jangan lupa bonusnya,"
"Hahaha pasti Jani cantik," ucap sang Bos
Telepon di tutup, Blue mengambil ponselnya kembali.
"Blue, jika sudah memindahkan semuanya, kita berangkat sekarang juga," perintah Bosnya yang juga sudah siap untuk pergi
"Baik Bos,"
"Oh ya Blue rekrutlah polisi baru untuk menjadi mata-mata kita di kantor polisi itu,"
"Siap Bos,"
"Cih berurusan dengan polisi lagi," gerutu Blue dalam hati sambil pergi meninggalkan Bosnya.