Detective Wasabi

Detective Wasabi
Turn The Brain



Wasabi kembali ke rumah sakit setelah mengetahui kebohongan yang ditutupi oleh sahabatnya. Pria itu masih menunggu Ayahnya yang sedang menjalani operasi.


Pasti kalian tahu kan bagaimana rasanya dibohongi dengan sahabat sendiri atau orang terdekat. Rupanya orang yang dianggap Wasabi itu mendekati Wasabi karena tidak enak dengan perbuatan mereka sendiri. Ada rasa ingin memperbaiki hubungan, tetapi alangkah lebih baiknya hal itu tidak dimulai dari kebohongan.


"Bagaimana dokter keadaan Ayah saya," Wasabi langsung beranjak dari duduknya dan langsung menyerbu dokter yang baru keluar dari ruang operasi dengan sebuah pertanyaan.


"Syukurlah Operasinya berjalan lancar dan lukanya begitu cepat tertutup. Tetapi, dia kehabisan banyak darah dan perlu tranfusi secepatnya. Stok darah nya langka AB negatif. Tadi Saya menyuruh perawat untuk menemui mu dan menyampaikan hal ini, tetapi kamu tidak ada disini, dia sampai mencari mu kemana-mana," ujar Dokter yang namanya tertera di label jas putih dengan tulisan Dr. Sunardi tetapi perawat dan suster memanggilnya Dr. Sun


"Ambil darah saya saja, Saya juga AB negatif," ujar Wasabi


"Baiklah mari ikuti saya. Kita lakukan tranfusi darah sekarang," ajak sang dokter yang langsung bertindak


Wasabi memasuki ruangan tranfusi darah. Lorong itu sangat sepi dan tidak ada satupun suster atau dokter atau bahkan pasien yang terlihat


Kenapa tempat ini sepi sekali. Mungkin karena bukan ruang periksa dan bukan kamar pasien sehingga jarang di lalui pasien lain, batin Wasabi seraya melihat sekelilingnya


Sepanjang lorong ini ada ruangan radiologi, laboratorium dan tranfusi darah. Pantas saja sepi karena memang benar dugaan Wasabi. Lorong ini adalah lorong yang jarang dilalui, apalagi kalau jam malam seperti ini.


Wasabi mengikuti dokter yang berjalan di depannya. Sesampainya di dalam ruangan, kemudian dia duduk dan darah siap diambil. Tak berapa lama Wasabi mengantuk dan dia pun tertidur


"Wasabi...Wasabi...Bangun!" Emi memanggil Wasabi dengan suara berbisik


Wasabi kemudian terbangun, namun sangat berat sekali untuk membuka mata. Emi juga sedikit mengguncangkan tubuh Wasabi agar pria itu segera terbangun.


"Emi, ngapain kamu disini?" tanya Wasabi masih kesal


"Sstts....Jangan keras-keras. Wasabi kita harus segera pergi dari sini, ceritanya panjang. Percayalah padaku," pinta Emi


"Percaya...Setelah kebohongan itu?" tanya Wasabi


"Ahh suara sepatu. Ada seseorang yang menuju kemari. Kumohon kali ini saja percaya padaku," pinta Emi dengan wajah memelas


"Oke. Kali ini saja,"


Emi membantu mencopot selang tranfusi darah. Kemudian Wasabi menggenggam pergelangan tangan Emi dan langsung berteleportasi dengan kekuatannya menuju taman di depan rumah sakit.


"Ku kira kamu membawa kita pergi dari rumah sakit ini," ujar Emi karena ia masih merasa tidak aman disekitar rumah sakit tersebut. Tetapi Wasabi tidak menaruh curiga sama sekali.


"Ada apa sebenarnya. Ugh kepala ku pusing," keluh Wasabi seraya menyentuh kepalanya yang pening


"Aku sungguh tidak tenang. Aku mengikutimu kemari dengan GPS yang terpasang di ponselmu. Tetapi saat aku


menemukanmu. Kamu berada ruangan itu dan saat dokter memasukan selang tranfusi, kamu juga diberi suntikan bius. Aku membaca nama cairan yang mereka masukan Chloroform," ungkap Emi


"Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri. Dan aku menguping pembicaraan dokter itu dengan seseorang di telepon," timpalnya


Wasabi mengernyitkan dahinya, "Memangnya apa yang kamu dengar?"


" Aku juga mendengar dia berkata akan membawamu ketempat mereka. Kamu di rumah sakit ini ada apa? kamu sakit?"


"Apa..? Kamu tidak bohongkan?" tanya Wasabi memastikan


"Tidak Wasabi, aku tidak bohong," jawab Emi


Wasabi masih berusaha menyadarkan dirinya, jujur saja tubuhnya dan pikirannya belum bisa menyatu dan belum bisa mendengarkan dengan seksama apa yang Emi ceritakan.


"Oh iya, tadi Aku juga berpapasan dengan Pak Setya, dia dibawa ke mobil dengan tergesa-gesa. Dia terbaring lemah masih menggunakan pakaian operasi," jelas Emi


"Apa kamu tahu kenapa Pak Setya di sini?" tanya Emi lagi namun Wasabi tidak menghiraukannya


"Ayah...Sial. Aku lupa kalau Ayah masih menjadi incaran. Pantas saja dulu dia membawaku ke Dokter Lee karena tidak percaya dengan dokter lain. Tunggu apakah dokter Lee dapat dipercaya?" gumam Wasabi sementara Emi kebingungan


"Ayah?" tanya Emi mengulang kata Ayah, memastikan jika ia tidak salah dengar


"Pak Setya adalah Ayah biologisku,"


Emi ingin bertanya lebih jauh, namun ia tidak berani. Karena Wasabi masih menyimpan marah. Dia pun diam dan menunggu Wasabi sendiri yang bercerita


Wasabi duduk di halaman berumput sambil menarik benang merah. Ia berpikir dalam hatinya.


Pertama Chaky mengatakan Tuan Paldo menjadi beringas ketika dia menerima kotak yang ternyata isinya cincin yang sama dengan milik Mama. Sedangkan cincin milik Mama hilang saat dirinya tewas.


Kedua, Jeep penyok yang aku lihat ternyata adalah milik Ayah. Aku sempat menuduhnya. Tetapi Mama menulis sebuah teka teki di bukunya. Buku puisi dan surat yang dikirim dari Ayah. Itu artinya Mama memberi pesan kepada Ayah, atau kepadaku. Jadi Ayah bukanlah pembunuhnya.


Ketiga kontak lens Mama terjatuh dan saat Mama tergantung mulutnya mengeluarkan darah. Itu artinya ada pukulan keras di kepala dan di bagian perut.


Ke Empat, saat Mama ingin menyimpan berkas dan barang-barangnya dia menyuruh Martis untuk cuti. Itu artinya Martis bukanlah orang yang bisa dipercaya. Jadi Martis adalah mata-mata untuk mencari tahu dimana berkas tersebut. Berkas penting


Ke Lima lukisan yang tidak boleh di pindah. Kemungkinan Ada sesuatu di dalamnya, mungkin saja berkas itu tersimpan di dalamnya


Ke Enam. Ayah terus menjadi incaran karena keberhasilan formula yang mereka ciptakan itu. Mereka tidak memiliki salinan formula karena laboratorium itu habis terbakar. Dan saat mereka tahu Ayah memiliki Anak, akupun ingin dijadikan bahan penelitian juga.


Ke Tujuh. Apa hubungannya Wonk dengan pesan yang ditulis Mama? Apakah ada kaitannya dengan brangkas milik Pak Kiyoshi. Shi.....Astaga Shi.. bisa jadi nama kecil Pak Kiyoshi.


"Emi, terimakasih. Sekarang Aku harus mencari Ayah,"


"Iya Wasabi. Katakanlah jika kau butuh bantuanku. Aku akan membantumu,"


"Hemmh Kamu ingin benar-benar membantu ku?" Wasabi tersenyum miring. "Emi, Aku begitu percaya dan bahkan berhutang budi padamu karena kamu sering menolongku dari pembully, tapi apakah kamu salah satu dari mereka?" tanya Wasabi yang langsung menodongkan pistol ke arah Emi. Pistol yang saat itu diberikan oleh Mayang untuknya.


"Ka-Kamu mau membunuhku?" Emi tergagap karena tak menyangka jika Wasabi akan menodongkan pistol ke arahnya.


Tidak Wasabi tidak sekejam itu, dia hanya menggertak.


"Emi, ingatan seseorang akan mudah lupa. Tapi aku mengingat hal sekecil apapun yang aku lihat, di hari kematian orang tua ku. Aku ingat sewaktu sekolah. Tepatnya saat jam istirahat. Ada seseorang yang menemuimu dan Andi di gerbang sekolah. Siapa dia?" Wasabi mengingat hal yang sempat ia abaikan.


Emi baik padanya tetapi kenapa tiba-tiba gadis itu ikut mengurung Wasabi di kamar kecil. Pasti ada yang menyuruhnya, begitulah pikir Wasabi


"Aku tidak kenal dia. Dia memakai masker penutup hidung saat berbicara. Dia memberi ku sejumlah uang yang banyak hanya untuk mencegahmu pulang terlambat. Itu saja," ucap Emi dengan lancar karena dia takut di tembak


"Kemudian Andi memiliki ide. Aku hanya mengikuti rencana usilnya. Aku melakukannya demi uang itu. Kamu tahu kan Aku sangat membutuhkannya untuk pengobatan Ibuku saat itu," timpal Emi lagi


Wasabi mulai mencerna maksud dan alasan Emi mengunci dirinya, tak lain adalah hanya untuk menghambat Wasabi untuk pulang. Siapa yang akan menyangka jika orang tuanya akan mati saat itu.


"Wasabi Aku menyesal....Sungguh!! Kumohon ijinkanku membantumu dalam misi ini. Aku juga ingin tahu siapa yang mencelakai orang tuamu. Selama ini aku tersiksa karena ulahku sendiri," ungkap Emi dengan wajah memerah karena menangis.


Wasabi menurunkan pistolnya.


"Aku tidak melihat wajahnya, aku hanya lihat sepatunya dan aku ingat, dia mengenakan sepatu kulit edisi terbatas," sahut Wasabi


"Itu Dia Wasabi. Kejar dia!" teriak Dokter Sun yang melihat Wasabi duduk di taman berumput


"Emi pegang tanganku. Cepat!" seru Wasabi lalu menghilang dengan kekuatan teleportasinya.