Detective Wasabi

Detective Wasabi
Telepathic Skill



Sementara itu, di ruang kerja Inspektur Hendra di rumah Sill


"Hey. Aku sudah mandi lagi. Kamu gak mandi?"ucap Sill


"Sebentar aku sedang berfikir,'


"Ayo cepatlah mandi, setelah itu kita lanjutkan pencarian dan bertanya ke pelapor,'


"Tidak perlu Sill,"


"Tidak perlu bagaimana..? Ada 20 orang lagi yang belum kita datangi,"


"Aku sudah mendatangi mereka dan bertanya semua informasi yang ku butuhkan,"


"Serius..! Sejak kapan? cepat sekali?,"


"Lihat ini. Aku juga sudah membuat skema.. Jika dilihat dari lokasi hilangnya seperti yang mereka bilang hilang saat pulang sekolah, tempat warnet, tempat les mereka kebanyakan melalui pertokoan ini. Dan, mereka yang hilang rata-rata telah mengikuti pelajaran hingga selesai


"Lalu.. Apa maksudmu?"


"Ini artinya. Pelaku bekerja diatas jam 12 siang hingga malam,"


"Aku masih curiga ada yang aneh di lokasi pertokoan itu,"


"Aku akan berusaha semampuku. Maafkan aku Wasabi," lirih Sill


"Pegang tanganku Sill," pinta Wasabi


"Untuk apa!?" Sill mengernyitkan dahinya


"Entahlah aku ragu. Tapi kita coba saja. Aku ingin menyerap kepintaranmu,"


"Apa! Hahaha Aneh kamu Wasabi. Haha...Mana bisa dengan memegang tanganku. Kalau pun bisa, paling tidak yang kamu pegang itu kepalaku, bukan tangan,"


"Oke kita coba saja. Mendekatlah,"


Sill dengan ragu mendekat. Wasabi mulai memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Diam...hening... yang terdengar hanya detakan jantung. Dan itu bunyi debaran jantung Sill.


Wasabi tertawa kecil.


"Kenapa?" Sill curiga penuh waspada


"Kau jangan berfikir sembarangan. Aku hanya ingin menyerap kepintaranmu soal komputer. Kenapa jantungmu berdetak sangat kencang Sill. Tenanglah.. Aku butuh konsentrasi," ungkap Wasabi


Sill pun diam karena malu.


Tak berapa lama ada energi yang masuk kedalam tubuh Wasabi. Memory Sill yang terekam juga dapat dilihat Wasabi. Mereka kini bisa bertelepati. Wasabi melepaskan tangannya setelah dia merasa sudah memiliki ikatan bathin dengan Sill. Wasabi sendiri tak percaya akan kemampuan yang dimiliki.


Lalu?


"Wasabi.. kenapa kau tersenyum. Aku takut, aku menjadi bodoh setelah kamu serap kepintaranku,"


"Hah. Apa.. Aku tak percaya. Coba tebak aku sedang memikirkan apa?" tanya Sill ragu


Dasar Wasabi. Memangnya aku gampang dibodohi. bati Sill dalam hati


"Kamu bilang, 'Dasar Wasabi. Memangnya aku gampang dibodohi'. Benar kan?" ucap Wasabi


"Ih. Aku gak mau ya. Balikin pikiran aku. Nanti kamu malah pergunain macam-macam,"


"Aku tak sejahat itu. Aku mandi dulu. Bikinkan makan malam. Oke,"


"Ih seenaknya menyuruh. Memangnya ini rumah siapa?" gumam Sill


"Ini rumah ayahmu Sill. Lagian kamu kan perempuan atau kamu tidak bisa masak?" cibir Wasabi


"Beli sajalah. Aku tidak pandai memasak," sahut Sill dengan malu. Ya benar Sill tidak bisa masak


"Kalau begitu buatkan mie instan saja. Terima kasih sebelumnya.,"


Sementara Sill membuat Mie. Wasabi bukannya mandi. Tetapi Dia pergi ke rumah Andi.


Whuuuuss


"Wasabi. Ada apa?" Andi terkejut dengan kedatangan Wasabi yang tiba-tiba


"Maaf Andi aku butuh kepintaranmu. Aku akan membuat pikiranmu menjadi satu denganku,"


"Apa maksudmu?" tanya Andi bingung


"Aku mencoba bertelepati denganmu. Tenang saja ini tidak berbahaya,"


"O oke baiklah," dengan ragu Andi pun menuruti perkataan Wasabi.


"Wow Amazing," ucap Wasabi seakan-akan pikiran Andi menyatu dengannya


"Kalau begini caranya buat apa aku sekolah hehehe," gumam Wasabi


"Wasabi.. Bagaimana? Apakah sudah. Aku tak merasakan apapun,"


"Kamu tidak, tetapi Aku bisa. Coba kamu pikirkan sesuatu," sahut Wasabi


"Aku capek dan aku lapar," pikir Andi dalam hati


"Kamu baru saja bilang kalau kamu capek dan lapar," sahut Wasabi dengan tepat


"Ya benar..... Wow, kekuatan mu makin bertambah bertambah Wasabi. Tapi berhati-hati lah. Aku takut jika tubuhmu tak mampu menopang kekuatan yang kamu miliki. Konsultasi kan soal ini dengan seorang proffessor," ungkap Andi


"Iya kamu benar.. Terimakasih," ucap Wasabi


Setelah itu dia pun pamit untuk mandi di rumah Andi. Dia membersihkan dirinya yang seharian berkeliaran di jalanan.