
Disisi lain, dalam waktu bersamaan. Sill berhasil menemukan titik koordinat Asoka. Dia memindahkan bocah-bocah ke lokasi lainnya.
Bocah-bocah itu dipindahkan dengan menggunakan bus yang bertuliskan bus pariwisata. Mereka sudah terhipnotis. Seakan-akan mereka akan berwisata.
Bus itupun berhenti di sebuah bangunan yang bertuliskan panti asuhan.
"Hah panti asuhan?" gumam Wasabi
"Kabar baik Sill. Wasabi berhasil menemukan Joy dan menangkap pelakunya. Dan juga orang yang terlibat dalam jual beli anak itu,"
"Wasabi sangat hebat. Syukurlah ada yang tertangkap, dengan begitu lama-lama kita juga bisa menangkap semuanya. Lalu dua gadis sebelumnya?" ucap Si yang diakhiri dengan pertanyaan
"Itu PR kita besok,"
"Huft," desisnya
"Oh ya Ayah. Kita bersiap sekarang ke koordinat ini. Aku akan membawa peralatan intaiku.
"Kerja bagus nak. Ayah dan anak buah lainnya akan menyergap ke lokasi depan dan belakang. Kamu sebaiknya disini saja, dirumah," pinta sang Ayah
Karena sebenarnya Sill bukanlah polisi, dia hanya anak magang yang ahli IT.
"Tidak. Aku ingin ikut dan menghajar penjahat itu,"
"Kamu keras kepala. Baiklah kamu boleh kesana tapi dengan Wasabi,"
Inspektur Hendra menelpon Wasabi menyuruh nya kerumah dan melakukan penyergapan dengan Sill
"Aku sudah menelponnya. Ingat jangan kesana sendirian. Tunggu Wasabi. Ayah berangkat dulu," pamit Inspektur Hendra dan pergi keluar.
Menunggu Wasabi? Ahh dia pasti lama. Maaf Ayah aku. akan kesana sendirian. batin Sill tidak sabaran
Sesampainya di lokasi para penculik itu. Inspektur Hendra memasuki tempat panti asuhan. Dia menyamar sebagai orang yang ingin menjadi orang tua asuh di panti asuhan tersebut.
Inspektur Hendra kaget. Pengurus panti yang bernama Asoka itu menawarkan harga yang sangat tinggi. Itu bukanlah prosedur panti asuhan tetapi jual beli anak dibawah umur.
Segera Inspektur Hendra menangkapnya. Dia pun bergelut dengan Asoka hingga akhirnya Asoka kalah. Penjahat lainnya yang berjaga-jaga pun segera ditangkap oleh anak buah Inspektur Hendra yang bersembunyi diam-diam.
Penyergapan berhasil
"Dasar rubah licik, mengaku ingin mengadopsi rupanya mau menangkap kami ya, langkahi dulu mayatku," gerutu Asoka
"Apa kau bilang,"
Asoka yang tangannya telah terborgol di depan. Ketika dipapah masuk ke dalam mobil polisi. Langsung menyeruduk Inspektur Hendra hingga terjatuh. Asoka terburu-buru kabur dan lari sejauh mungkin.
Dia bersembunyi di sebuah gang sempit. Polisi lainnya sedang mencarinya. Asoka mencari sebuah jepit rambut dalam saku celananya. Dia selalu membawanya jika suatu saat dia tertangkap. Segera dia buka borgol itu sambil mengatur nafasnya.
Dari kejauhan dia melihat seorang wanita mengendap masuk ke dalam panti. Asoka mengenal wajah itu.
"Bukankah dia wanita yang menyelidiki pertokoan tadi siang. Haha makanan empuk," gumam Asoka
Setelah berhasil membuka borgolnya, Asoka mengeluarkan pisau lipat dan mendekati Sill diam-diam dari belakang. Dia memeluk Sill dari belakang.
Tangan kirinya memeluk erat bahu Sill dan satunya lagi menodongkan pisau ke arah lehernya.
"Hay cantik. Apa kamu mencari Asoka yang tampan ini?" bisik Asoka
Sill terkejut, dengan segera di sikutnya perut Asoka dari belakang. Asoka kesakitan. Sill berhasil lepas dari pelukannya. Dia kemudian meninju muka tampan Asoka. Tinju yang dilayangkan Sill mengenai hidungnya hingga berdarah.
"Nah kamu tampan sekali jika bonyok begini haha," kekeh Sill
Asoka melihat darah yang menetes keluar di bawah jalanan paving. Pria itu pun menjadi marah jika wajah tampannya menjadi bonyok. Di hujamkannya pisau itu ke arah muka Sill.
Wasabi datang menepis tangan Asoka yang sedang membawa pisau itu. Ujung tajam pisau itu hanya berjarak 5 centi dari wajah Sill. Jika Wasabi tak sempat datang. Wajah Sill akan tergores.
Wasabi memutar balikkan tangan Asoka, kali ini mata pisau itu menghadap ke perutnya. Asoka menahannya. Wasabi terus mendorongnya. Seperti adu panco.
Asoka terlihat berkeringat. Tangannya mulai licin memegang pisau. Dia ingin melepaskan pisau itu tapi tangan Wasabi berada di atas jemarinya. Asoka tak mampu menandingi kekuatan Wasabi. Pisau itu pun menancap cepat kearah perut Asoka. Asoka teriak kesakitan. Kemudian polisi lainnya berlari kearah suara teriakan tersebut.
Sill masih berdecak kagum dengan ketangkasan Wasabi. Dia terus memandangi Wasabi tanpa kedip
"Dasar keras kepala," Wasabi marah sambil menoyor pelan kepala Sill hingga membuat Sill tersadar. Ia pun mengusapkan kepalanya yang terkena tonjokan meski pelan namun tetap sakit
"Bukannya Inspektur Hendramenyuruhmu untuk menungguku?"
"Maaf Wasabi. Aku tak sabar menunggu,"
"Wasabi, Sill," teriak Inspektur Hendra memanggil namanya
Sill langsung berbisik ke Wasabi, "Awas kalau kamu mengadu pada Ayahku,"
"Akan ku adukan," balas Wasabi berbisik
"Ku mohon jangan. Nanti Ku buatkan ramen lagi," pinta Sill
"Oke. Rahasia aman,"
"Hei main bisik-bisik apa kalian?" tanya Inspektur Hendra
"Bukan hal penting Inspektur, tadi Sill berterimakasih dan berjanji membuatkan mie ramen untukku," jawab Wasabi
"Ah ya Wasabi. Saya juga berterimakasih padamu dan Sill. Kerjasama kalian luar biasa.
"Sama-sama Inspektur. Tapi masih ada dua orang komplotannya yang kabur juga membawa uang klien mereka,"
"Sepertinya itu tugas polisi lain. Dan juga dua remaja yang sudah terlanjur di beli. Kita harus mengevaluasi lagi. Siapa pembeli itu,"
"Saya akan berusaha menyelidikinya. Hemm sudah jam 10 malam. Inspektur saya permisi,"
"Ya berhati-hatilah," sahut Inspektur Hendra
"Oh Wasabi. ini kunci mobilmu. Kamu meninggalkan mobilmu begitu saja di rumahku. Sejak kapan kamu memiliki kekuatan itu?" tanya Sil seraya melemparkan kunci mobilnya
"Panjang ceritanya. Kapan-kapan ku cerita. Aku buru-buru," pamit Wasabi setelah menangkap kunci mobil yang dilemparkan ke arahnya
"Kamu mau kemana
"Ke rumah Joy. Dia tenggelam lalu dibawa Ayahku ke rumah sakit. Tapi barusan Ayah mengabari jika Joy sudah pulang kerumahnya," jelas Wasabi
"Joy. Anaknya Tuan Samy?"
"Iya. Sudah dulu ya. Inspektur, Sill. Saya permisi,"
Wasabi langsung menuju mobil yang terparkir dekat panti asuhan. Dan pergi melajukan mobilnya dengan sangat kencang hingga pasir-pasir berterbangan membentuk kabut tebal.
Sill yang mulai menaruh hati. Langsung melihat jelas tingkah Wasabi. Dia pun mengurungkan hatinya dan menutupnya kembali. Dan tidak jadi mengejar Wasabi. Sill tersenyum dan berkata dalam hati.
"Semoga aku dipertemukan jodoh yang hebat dan lebih tampan seperti Wasabi," ucap Sill dalam hati
"Ehemm.. sepertinya ada yang cemburu,"
"Ih Ayah..."