Detective Wasabi

Detective Wasabi
Rekaman Tersembunyi



Di Rumah Sakit


Kondisi Andi yang sudah sedikit membaik, mulai membantu penyelidikan yang terjadi di rumah sakit itu.


Segala kebutuhannya mulai dari komputer dan juga hardisk baru.


"Untuk apa Hardisk baru?" tanya Izuna


"Untuk cadangan backup. Karena Aku ingin merusak sistem ini dahulu kemudian memperbaikinya kembali," ujar Andi


"Hah? Kau yakin akan merusaknya? Jika sistem ini gagal maka habis sudah," protes Izuna


"Percayalah padaku, tujuanku bukan merusak sistem tapi aku ingin merusak parasit yang menempel itu agar kita bisa kembali melihat rekaman yang tidak terlihat itu. Aku sudah melihatnya dan mengetahui penyebabnya. Rekaman ini tidak terhapus. Tapi tertimbun oleh rekaman lain. Aku bisa mengembalikannya maka dari itu Aku meminta hardisk cadangan backup itu agar Kau sepenuhnya percaya padaku. Jika tidak berhasil, Kau masih punya backupnya," jelas Andi


"Ok, aku akan menyediakan hardisk itu,"


Cling


Wasabi datang tiba-tiba di ruang perawatannya


"Andi maaf Aku terlambat. Ada sedikit urusan di kantor polisi," ujar Wasabi


"Hey, dari mana Kau masuk?" tanya Izuna kaget, ia jadi teringat hari kemarin namun Izuna tidak begitu mempedulikannya karena kasus pembunuhan yang terjadi membuatnya sedikit shock


"Aku masuk dengan kekuatanku, kenapa?" jawab Wasabi


"Dia punya kekuatan teleportasi, Kau tidak tahu?" ujar Andi


"Kekuatan? Wasabi mempunyai kekuatan teleportasi? Bagaimana bisa? Ah Aku ingat saat itu Kau dan Inspektur Hendra masuk ke kamar pasien dengan tiba-tiba. Hoh rupanya Kau mempunyai kekuatan. Sungguh manusia langka," sahut Izuna yang langsung membuat Andi tertawa kesenangan.


Sementara Wasabi hanya tersenyum paksa, ia membatin semoga Andi tidak mendengar kabar jika Joy memutuskan dirinya. Bisa-bisa Andi terus menertawainya


Izuna pun pamit untuk membawakan hardisk baru yang diminta Andi


"Ayolah, Aku tak mengejekmu. Kenapa kau memasang tampang cemberut begitu?" sahut Andi


"Tidak Aku tidak marah. Aku hanya tak bersemangat saja,"


Tak berapa lama Izuna datang kembali dengan Hardisk barunya. Andi langsung membackup semua data rumah sakit ke hardisk baru. Membutuhkan waktu beberapa menit karena RAM yang dimiliki komputer rumah sakit itu terbilang sangat besar sehingga tak butuh waktu lama untuk mengakses atau mengerjakan apapun


"Selesai. Sekarang aku akan merusak sistemnya dan setelah itu mari kita mulai. Dan lihat siapa orang yang menculik anak itu," ujar Andi


Wasabi duduk dan memperhatikan Andi sambil mempelajari apa yang dilakukannya. Tapi entah kenapa hatinya tak tenang. Seperti ada sesuatu yang buruk terjadi.


Sedangkan Satpam Izuna kembali bekerja


Disamping itu Setya membawa Sill ke kamarnya. Kemudian Dia ke kamar tamu, tempat Dia dirawat tadi. Di rapikannya ranjang dan peralatan infus. Tak berapa lama Inspektur Hendra menelepon Setya.


"Kau sudah sadar?Kau dimana sekarang?" tanya Inspektur Hendra


"Aku masih dirumah mu, sedang bersiap untuk pulang," ucap Setya


"Aku sedang diperjalanan. Tunggulah! Jangan pulang dulu, " Inspektur Hendra mematikan ponselnya lalu menginjak pedal gas, melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi


Setya yang masih memakai piyama milik Inspektur Hendra, duduk diruang tamu menunggunya.


Tak berapa lama Inspektur Hendra datang.


"Setya? Apa Kau sudah membaik," sapa Inspektur Hendra


"Akhirnya kau datang juga Inspektur Hendra. Ya sudah membaik. Hanya sedikit sakit pada bagian bahu," jawab Setya


"Baguslah!" Inspektur Hendra berjalan mendekat sambil mengepalkan tangan kanannya dan kemudian meninju Tuan Setya.


Debuuk


"Arggh Kau kenapa?!" keluh Setya


"Kau tahu? kau sedang berurusan dengan siapa?! Dia itu buronan yang kejam dan sekarang kau melibatkan putriku! Bagus sekali Setya!" ujar Inspektur Hendra yang marah karena kini putrinya berurusan dengan buronan itu.


"Hey Kau salah paham! Aku tak pernah menyuruhnya untuk membantuku!"


"Kau...!" Inspektur Hendra mengepalkan tangannya geram dan melepaskannya. Ia lalu menyibakkan rambutnya kebelakang dengan kedua tangannya dan memegangi kepalanya yang mau pecah.


"Aku tahu, maaf Aku hanya kesal karena Dia satu-satunya yang ku punya. Dia sangat mandiri tapi dia terlalu nekat! Dia selalu ingin menjadi polisi dan berhadapan dengan penjahat. Tapi Aku tak mengijinkannya. Aku tak ingin dia terluka dan kehilangan dia," curhat Hendra


"Aku juga tak ingin kehilangan Sill. Aku akan menjaganya untukmu," ucap Setya


"Maksudmu? Kau akan menjaganya dan menjadi bodyguardnya?" tanya Hendra


"Aku tak keberatan jika Kau menyuruhku untuk menjadi bodyguardnya. Mungkin ini terdengar konyol. Tapi...Aku ingi menikahi Sill, itupun jika Sill mau dan kau menyetujuinya," sahut Setya


"What!?" Inspektur Hendra terdiam sejenak, "Haha..sudahlah jangan bercanda,"


"Aku serius, apakah tampangku kurang meyakinkan?"


Inspektur Hendra menatap Setya dengan serius. Mereka berbicara dengan bathin masing-masing. Kemudian Inspektur Hendra memeluk Setya.


"Aku senang jika kau serius. Tapi semua keputusan ada pada Sill. Ahh buat apa menanyakannya lagi. Bukankah Kita sudah tahu perasaannya padamu," ucap Inspektur Hendra lalu melepaskan pelukannya sebagai kawan.


"Jagalah dia, sayangi dia, tapi jika kau menyakitinya. Tanganku sendiri yang akan memasukkan mu ke kandang buaya," ucap Hendra


"Pasti aku akan menjaganya," Setya tersenyum tersipu malu


"Dimana Sill?" tanya Hendra


"Dia di kamarnya, pingsan saat Aku melamarnya," ucap Setya


"Haha Anak itu. Kau pulanglah beristirahat. Besok jangan lupa kekantor untuk memberikan kesaksian tentang orang yang mencelakaimu,"


"Siap komandan. Oh ya Aku mohon jangan beritahukan Wasabi soal kejadian aku dicelakai Ruji,"


"Ok rahasia aman,"


Setya pulang dan kembali kerumahnya dengan kekuatan blackholenya yang sudah kembali. (Karena saat di celakai Ruji kekuatannya menghilang)


.


.


.


Disisi lain, di rumah sakit.


Artisya kesusahan mencari Izuna, ponselnya juga tidak dapat dihubungi. Setelah sekian lama ponselnya baru tersambung.


Izuna pun langsung menuju kamar perawatan Andi, karena Andi telah berhasil memulihkan rekaman yang hilang


"Dia sudah datang, ayo putar lagi rekamannya," ucap Artisya.


"Ya kita bisa melihatnya sekarang. Wasabi jalankan," ucap Andi


"Lihatlah ini, sangat sadis. Dan tak hanya itu. Dia juga memperlihatkan wajahnya didepan kamera," ucap Andi



"Jadi penculik yang dengan sadis membunuh mereka adalah benar laki-laki! Bisakah kalian melacak siapa Dia?" tanya Izuna


"Ya Aku sudah mendapatkan datanya. Sudah ku kirimkan pesanku ke Inspektur Hendra," ucap Wasabi


"Kerja bagus! Terimakasih Andi. Aku akan merekomendasikanmu untuk bekerja disini," ujar Izuna


"Bisakah? Karena Aku belum lulus kuliah," tanya Andi


"Ijazah bisa menyusul. Kau pintar Aku yakin kepala Direktur akan menerimamu, tanpa melihat status pendidikan. Kau bisa mengambil shift saat kerja bukan," ucap Artisya


"Ya semoga," ucap Andi yang terlihat bahagia karena baru saja dia mendapatkan rekomendasi tawaran kerja


Ponsel Wasabi berdering, ia mendapat panggilan dari Inspektur Hendra. Ia sudah mendapatkan lokasi penculik tersebut. Saatnya penangkapan, karena yang dihadapi adalah seorang sniper jadi mereka butuh lebih banyak tenaga polisi, atau orang yang hebat seperti Wasabi


Wasabi pun berpamitan pada yang lainnya dan meninggalkan rumah sakit menuju kantor polisi


Andi dan Satpam Izuna tersenyum senang karena sebentar lagi penjahat itu tertangkap. Sedangkan Artisya terkagum-kagum dengan kekuatan yang dimiliki Wasabi


Namun dilain sisi Wasabi berpikiran lain, kenapa penculik itu memperlihatkan wajahnya, dan juga kenapa lokasinya mudah dicari. Ataukah ini semacam jebakan?