
Wasabi kini menaruh kecurigaan pada Qisty. Dia segera kembali kerumah Andi, tetapi rasa lapar menggerogoti perutnya.
"Ahh... Aku lupa belum mengisi perutku," gumam Wasabi
Ia pun mencari kedai makan yang masih buka. Tetapi sepanjang jalan yang dia lewati semua kedai makanan sudah tutup, akhirnya Wasabi menuju minimarket yang melayani 24 jam. Dia membeli tiga roti dan satu botol air mineral.
Saat Wasabi akan menyelesaikan pembayaran di kasir. Ada seseorang yang menabraknya dari belakang seperti terburu-buru ke kasir.
Wasabi mengenali sosok yang menabraknya itu. Lantas dia langsung memanggilnya.
"Hey..! Kamu blue kan?!" sahut Wasabi
Blue menengok ke belakang.
"Masih ingat orang yang kamu serang di kamar mandi?" tanya Wasabi
"Maaf, siapa?" Blue pura-pura lupa
Mereka pun adu pandang, saling tatap dan saling mengawas. Wasabi melihat sekeliling dengan melirikkan matanya tanpa menggerakkan kepalanya. Ada bodyguard yang menjaga blue di sudut pintu masuk, di bagian rak makanan dan di dekat kasir.
Begitu pembayaran selesai dilakukan. Blue mengambil barang belanjaannya dan kembali pulang.
Tentu saja Wasabi tak akan membiarkannya.
"Hey urusan kita belum selesai," Wasabi menghentikan Blue lalu mencengkeram kerah Blue
Spontan semua tiga bodyguardnya mengarahkan pistol kearah Wasabi saat ia menarik kerah Blue.
Dengan bersamaan dan gerakan cepat, Wasabi melemparkan botol mineral ke muka bodyguard yang berada di dekat kasir. Bodyguard itu jatuh kesakitan. Di lain sisi dia melemparkan makanannya ke arah bodyguard yang berdiri di dekat rak makanan. Tidak membuatnya jatuh tapi setidaknya bisa mengalihkan perhatiannya. Secara bersamaan pula Wasabi melempar Blue ke arah pintu masuk hingga terpental jatuh dan menubruk bodyguard yang berjaga di depan pintu masuk.
Bodyguard yang dilempar makanan tadi langsung menembaki Wasabi tetapi melesat. Wasabi dengan sigap salto ke arah Blue, ia berdiri di dekat Blue yang terbaring terlentang sembari menginjak dadanya dan menodongkan kedua pistol ditangan kiri dan kanannya kearah Blue.
Terlihat komplotannya yang berada diluar, hendak pergi menaiki mobil.
Pistol kanan Wasabi siap membidik blue. Sedangkan tangan kiri Wasabi sibuk menembaki bodyguard dan komplotannya.
Dua bodyguard terjatuh terkena bidikan pada kakinya dan satu komplotan terkena peluru pada pahanya, tetapi dia berhasil kabur.
Bodyguard yang berada didalam tak berani menembak Wasabi karena satu pistol mengarah ke Blue.
"Jangan tembak aku. Oke aku akan mengatakan kenapa aku menyerangmu. Tapi lepaskan bodyguard ku,"
"Oh mau jadi pahlawan rupanya. Bodyguardmu boleh pergi, hingga hitungan ketiga jika masih terlihat dari pandanganku. Aku akan menembak kakinya,"
"Satu.." Wasabi mulai menghitung
Bodyguard nya lalu berlari pergi. Saking terburu-burunya mereka bertubrukan satu sama lain.
"Dua.." hitung Wasabi
"Tiga,"
Belum sempat berlari jauh, kaki mereka bertiga tertembak dengan serempak mereka jatuh. Tembakan yang jitu. Sekali tembakan mengenai tiga sasaran. Hingga membuat Blue menelan ludah.
"Katakan..." pekik Wasabi menarik kerah Blue dengan tangan kirinya hingga pria tersebut terduduk, sementara tangan kanan menodongkan pistol di kening Blue
Blue masih terdiam. Dia berfikir untuk mencoba kabur dari Wasabi. Wasabi bisa membaca raut mukanya lalu dia menembak kaki Blue.
Dor
"Kamu ingin peluru-peluru ini menghiasi tubuhmu hingga ke kepala?" sahut Wasabi sengaja menggertak
Disamping itu petugas toko bersembunyi ketakutan lalu menelepon polisi. Dia mengira kalau Wasabi adalah penjahat.
Tak berapa lama terlihat dua mobil polisi datang dan berhenti tepat di depan mini market.
"Polisi. Angkat tangan mu!" sahut seorang polisi wanita sambil menodongkan pistol ke arah Wasabi
Diikuti polisi lainnya juga menodongkan pistol kearah Wasabi. Blue merasa terselamatkan. Dia bahkan akan dibawa polisi ke rumah sakit milik polisi agar penanganannya lebih cepat
"Buang pistol mu dan angkat tangan. Kamu penjahat kelas recehan," ucap polisi Wanita yang tertera nama Yani di seragamnya
Briptu Yani belum tahu kalau dia adalah Wasabi. Dia hanya tau namanya saja, jika Wasabi adalah agen yang bekerjasama dengan kepolisian.
"Kamu salah menangkap orang Briptu Yani," ucap Wasabi setelah membaca label nama yang tertera di seragam polisinya
"Hah apa maksudmu. Kamu siapa?" tanya Yani
"Aku Wasabi,"
'Astaga. Tapi tenang saja dia aman bersama bawahanku. Aku akan segera meneleponnya,"
Polisi cantik dan masih muda itu segera melepaskan borgol yang baru ia ikat ditangan Wasabi dan menghubungi polisi yang membawa Blue ke rumah sakit.
"Ayo angkatlah..." gumam Yank yang takut jika bawahannya melepaskan Blue
"Haha aku tidak yakin dia masih bersama rekanmu itu," sahut Wasabi
"Ayo kita susul mereka," Briptu Yani lalu masuk ke mobil patroli dan mencari rekannya yang membawa Blue.
"Kemungkinan mereka masih ada di jalanan itu," sahut Yani kemudian terdiam melihat depan jalanan, "Apa itu didepan ramai sekali,"
Briptu Yani segera mendekat dan menepikan mobilnya. Dan ia melihat mobil rekannya hancur. Bagian depan penyok parab dan kaca bagian depan pecah, menabrak tiang listrik. Satu polisi mati tertembak di dada sedangkan polisi yang menyetir tak sadarkan diri karena terluka parah.
"Arghh Blue berhasil kabur," gemas Wasabi
"Maafkan aku. Jika saja Aku mengenalimu," sahut Yani yang langsung menelepon petugas medis
"Kamu memang tak mengenaliku atau kamu salah satu dari mereka?" tuding Wasabi
"Hey Wasabi jangan asal menuduh ya! Aku ini polisi baik-baik!" Yani marah tidak terima
"Oke. Maafkan aku, aku sedikit kesal,"
Dalam keributan dan perdebatan itu Wasabi melihat ada darah yang bercecer dijalan aspal.
"Jejak darah itu hilang hingga ke tengah jalan raya. Itu artinya mungkin dia dijemput seseorang dengan mobil. Tidak ada lagi jejak darah. Jejak itu berhenti disini," tunjuk Wasabi seraya mengamati jalan lain. Jalan raya itu sepi dan kendaraan yang melewati jalanan itu bisa dihitung.
"Baik aku akan menelusurinya nanti," sahut Yani yang sedang sibuk menghubungi bantuan. Sedangkan Wasabi memantau sekeliling. Dia menemukan satu photographer yang sedang memotret kecelakaan itu.
"Mungkinkah dia juga memotret Blue?" pikir Wasabi dari kejauhan
Wasabi lalu menghampiri photographer itu, tetapi dia terjebak oleh kerumunan orang yang tiba-tiba datang melihat kejadian tabrakan itu. Setelah berhasil melewati kerumunan, Wasabi malah kehilangan sosok photografer yang dilihatnya tadi.
Pria itu pun kembali ke mini market diantar Briptu Yani untuk mengambil motornya. Polisi cantik itu menjelaskan kejadian sebenarnya kepada petugas toko. Sedangkan Wasabi menunggu di depan sambil memakan rotinya.
"Aku sudah menjelaskan kepada petugas toko itu kalau terjadi kesalahpahaman. Sekali lagi aku minta maaf," ucap Yani
"Terimakasih, dan terimakasih juga untuk makanannya. Aku duluan ya," pamit Wasabi langsung pergi mengendarai motornya sambil sesekali melahap rotinya. Perutnya terasa kaku dan keram karena menahan rasa lapar.
Sesampainya di rumah Andi. Sahabatnya itu belum juga pulang. Sedangkan Adel sudah tidur dikamarnya, tetapi Wasabi tidak melihat Qisty di kamar, kemana Qisty.
"Syukurlah Adel baik-baik saja, Sepertinya aku salah menilai Qisty," pikir Wasabi kemudian mencari Qisty di setiap sudut ruangan
"Kamu sedang apa di dapur?" tanya Wasabi
"Astaga kamu mengejutkanku,"
"Aku ingin minum kopi panas tetapi air panasnya habis," sahut Qisty
"Minum kopi disaat akan tidur?" tanya Wasabi
"Haha iya, Aku merasa tenang jika sudah minum kopi.. kamu ingin kopi buatanku?" sahut Qisty kemudian menawari Wasabi segelas Kopi
"Tidak, terimakasih," tolak Wasabi
"Oh ya aku memasang CCTV di kamar itu, agar aku bisa mengawasi. Jadi jangan ganti baju dikamar oke," ucap Wasabi sedikit berbohong, untuk berjaga-jaga seumpama dugaan Wasabi benar sehingga Qisty tidak akan berani mengerjai Adel
"Oh benarkah. Syukurlah aku akan merasa aman kalau begitu. Lalu dimana kamu taruh CCTV itu? Pastikan kamu bisa melihatnya disemua sudut," ucap Qisty
"Hem, iya pasti,"
Hah kenapa dia menanyakan dimana letaknya? Apakah Qisty ingin....ah positif thinking ajalah batin Wasabi
Malam ini Wasabi menginap dirumah Andi. Perjalanan yang melelahkan, mulai dari Joy menolak cintanya, petugas kafe yang keracunan, penyelamatan dua gadis yang diculik, hingga Wasabi menjadi kambing hitam. Hal baru yang di dapati Andi membuat Wasabi menaruh rasa curiga terhadap Qisty, kebakaran kantor polisi, dan tertangkapnya Blue yang kemudian kabur hingga terjadinya kecelakaan.
"Semua seperti sebuah skenario yang direncanakan. Penjahat kali ini sangat pandai mengelabuhi," pikir Wasabi