
Di Kediaman Tuan Paldo
Dua orang ilmuwan menerobos masuk ke dalam rumah Tuan Paldo. Mereka langsung membuka paksa pintu ruang kerja dan berbicara dengan nada marah
"Saya ingin meminta kerugian, atas apa yang kamu buat Tuan Paldo!" ucap Dr.Lee
Sebenarnya Dokter Lee juga memiliki gelar profesor namun, dia tidak suka dipanggil profesor karena menurutnya dia masih harus banyak belajar. Masih ada senior diatasnya yang patut mendapatkan panggilan tersebut.
"Memangnya apa yang Saya perbuat? Saya tidak pernah mengenal Anda!" Paldo berbicara dengan santai
"Tolong jangan macam-macam dengan Saya. Kalau bukan karena ulah Anda. Saya tidak akan mendapatkan kerugian sebesar ini...Hah!" Dokter Lee naik pitam ia bahkan menggebrak meja kerja Tuan Paldo setelah berteriak memekakkan telinga.
Braaak
"Langsung saja ke poinnya. Tidak usah bertele-tele," Tuan Paldo hanya tersenyum. Dia terbiasa berurusan dengan kutu seperti Dokter Lee. Baginya Dokter Lee hanyalah kutu yang merugikan.
"Kami berhasil menciptakan obat yang membuat si pemakai bisa membaca pikiran dan juga menjadi hebat dalam segala hal," jelas Dokter Frost
"Kami menyerahkan jual beli kepada Ratu Mafia sebagai perantara jual beli. Tapi kami mendapatkan kerugian karena aksi pengeboman yang Anda lakukan," ungkap Dokter Frost
"Cukup jelaskah Tuan Paldo? Saya meminta uang kerugian senilai 200 Milyar," tuntun Dokter Lee
"Kalau saya tidak mau. Anda mau apa?!" Tuan Paldo tersenyum miring. Jelas Tuan Paldo akan menang. Bagaimanapun juga jika hal ini di bawa ke pengadilan maka Dokter Lee juga dapat tertangkap karena membuat obat ilegal dan memperbanyak serta menjualnya tanpa ijin aman.
Dokter Lee lalu mengeluarkan pistol dari balik jas nya, dan menodongkan ke Tuan Paldo
Dengan gerakan yang cepat Wisnu menodongkan pistol ke arah kepala Dokter Lee
"Dokter Lee...Anda telah membangunkan macan yang sedang tidur," Desis Tuan Paldo
"Dan anda telah memancing seorang pembunuh untuk menarik pelatuknya. Hingga peluru itu keluar menembus bagian kepala dan memecahkan isi otak genius Anda,"
Dalam seketika Dokter Lee membayangkan perkataan yang baru saja terlontar dari mulut Tuan Paldo. Dia merasa takut sendiri. Lalu apa yang harus ia perbuat. Tak ada jalan lain selain mengalah.
Dokter Lee lalu menurunkan senjata apinya. Dia pun pergi dengan memberikan sebuah ancaman.
"Lihat saja nanti apa yang akan ku perbuat. Kamu akan merengek bersujud memohon ampun padaku," sumpah Dokter Lee yang tidak ditakuti oleh Tuan Paldo
Tuan Paldo hanya tersenyum. Dia terbiasa berurusan dengan kutu seperti Dokter Lee. Dokter Lee telah pergi. Tuan Paldo lalu memanggil Chaky.
"Chaky ambilkan senjata Raging Bull 454. Dan berikan pada Wisnu
"Baik Tuan," jawab Chaky yang langsung pergi ke ruang senjata rahasia di samping ruang kerjanya. Lalu Chaky kembali dengan membawa kotak berisi senjata dan memberikannya pada Wisnu
"Wisnu, ambil senjata itu dan lindungilah Desi. Tidak perlu berada didekatnya cukup awasi dari jauh. Aku tak ingin menakuti putri ku. Tugasmu menjaganya,"
"Baik Tuan," ucap Wisnu sembari mengambil pistol jenis Raging Bull 454 yang kecepatannya hingga 2700 Joule
Setelah itu, Wisnu pun pergi mengawasi Desiani. Tak berapa lama ada pelayan wanita yang mengantarkan paket Chaky mengamati besarnya paket tersebut.
"Tuan Paldo ada kiriman untuk Anda," ucap si pelayan sambil menaruh paket tersebut di atas meja kerjanya.
"Hemm terimakasih," ucap Paldo dan pelayan itu pun pergi
"Dari siapa Chaky?" tanya Paldo mengeluarkan cerutu dan mulai menyulut api.
Chatku mendekat dan mengambil paket, "Tidak ada nama pengirimnya Tuan,"
Tuan Paldo menghisap cerutu nya dan berdiri dari meja kerjanya. Kemudian berpindah duduk ke sofa bagian tengah
"Bawa kemari Chaky. Duduklah disamping saya dan bukalah paket itu," ucap Tuan Paldo yang malas membuka.
Pasti bungkusnya penuh dengan plastik bubble wrap yang berlapis-lapis.
Chaky pun membukanya dengan bantuan cutter yang ia ambil di atas meja kerja Tuan Paldo.
"Baik Tuan," Chaky lalu membuka bungkusan paket itu. Yang ternyata adalah sebuah kotak dengan ukiran yang cantik.
Begitu melihat kiriman itu. Tuan Paldo segera membuka Kotak itu. Dia begitu terkejut begitu melihat isinya.
Mata Tuan Paldo berbinar
"Chaky kita ke Jakarta sekarang," perintahnya
"Hah apa yang aku cari selama ini ternyata ada di depan mataku haha," ucap Paldo tertawa terbahak-bahak
"Astaga tatapan Tuan Paldo menakutkan," Chaky bergeming didalam hati
"Cepat Chaky. Siapkan baju dan perlengkapan kerjaku juga Kita naik jet pribadi saja. Secepatnya," pinta Tuan Paldo
Chaky sudah terbiasa dengan pekerjaannya dalam waktu Lima menit harus sudah sudah siap semua. Pesawat yang terparkir di halaman pun siap
Tuan Paldo mematikan api cerutu yang belum habis dihisapnya ke dalam asbak. Dia kemudian menenteng kotak kecil itu sambil tersenyum lebar.
"Chaky katakan pada Wisnu untuk tetap dirumah dan tidak meninggalkan Desiani sendirian," ucap Paldo
Chaky langsung melaksanakan perintahnya. Pria itu lalu menghubungi Wisnu lewat ponselnya Tuan Paldo dan Chaky telah naik ke dalam jet pribadi.
"Maaf Tuan, kemana tujuan kita akan mendarat?" tanya Chaky
"Kita akan menemui Profesor Han,"
"Profesor Han? Maaf dimana itu Tuan?" tanya Chaky
"Astaga. Harusnya kamu sudah hafal alamat-alamat yang pernah saya berikan kepadamu! Stupid!" Bentak Paldo
"Maaf Tuan Saya sudah berusaha menghafalnya. Mungkin saya lupa. Maafkan Saya,"
Chaky lalu membuka buku catatan alamat rekan bisnis Tuan Paldo dengan tubuh yang gemetar. Tak biasanya dia di bentak oleh Tuan Paldo. Ini kali pertamanya dia terkena amukan Bosnya sendiri
Ada misteri apa dibalik kotak itu. Begitu melihat kotak itu Tuan Paldo menjadi sosok yang berbeda, gumam Chaky dalam hati