
Setya, Wasabi dan Sill melihat keadaan Samy di Rumah Sakit.
"Assalamualaikum, bagaimana keadaan Pak Samy, Nyonya?" tanya Setya pada Nyonya Noura begitu masuk ke dalam ruang perawatan Samy. Sementara Samy masih tertidur karena pengaruh bius
"Alhamdulillah sudah tertangani dan tidak terluka sampai dalam. Lukanya mendapat 5 jahitan," ucap Noura
"Syukurlah tidak terlampau parah. Semoga Pak Samy lekas sembuh," sahut Setya
Tak berapa lama Samy terbangun karena mendengar orang berbincang
"Ah..," ucap Samy mengeluh sedikit karena nyeri di dada kemudian matanya terbuka dan melihat sekelilingnya
"Sayang, kau sudah sadar,, keadaanmu masih belum boleh banyak pergerakan," ucap Noura mengingatkan
Sementara Joy hanya diam salah tingkah karena ada Wasabi di ruangan itu.
"Ya sayang. Oh ada Pak Setya, Wasabi dan Sill sejak kapan kalian kemari," tanya Samy
"Baru saja kami datang," ucap Setya
"Ray sudah di bawa ke kantor polisi, pak Samy kami membutuhkan keterangan Anda, jika sudah membaik nanti datanglah ke kantor," ucap Sill
"Terimakasih Sill, iya saya akan datang jika kondisi saya sudah membaik," ucap Samy kemudian melirik ke arah Wasabi
"Wasabi terimakasih. Kalau tidak ada kamu mungkin Joy sudah kenapa-kenapa," sahut Samy
"Tapi Joy menjadi seperti itu karena saya," ucap Wasabi
"Apa maksud Mu? Kamu sudah menolongku Wasabi," sela Joy
"Alasan Ray melakukan perbuatan itu padamu karena ia dendam padaku. Aku telah membuat Qisty masuk penjara, sementara Ray sangat mencintai Qisty," ucap Wasabi
"Oh jadi alasannya seperti itu. Tapi Qisty di penjara karena kesalahannya, bukan karena mu Wasabi. Dia pantas menerima hukumannya," ujar Nyonya Noura
"Ya betul, jangan pernah berfikir untuk menyalahkan diri sendiri," sahut Samy
"Maafkan Saya Pak. Setelah ini Saya akan menjauh dari kehidupan Joy. Saya tidak ingin Joy menjadi sasaran musuh-musuh Saya," ucap Wasabi
"Bodoh. Kau ingin mengulang kejadian apa yang Ayah alami. Menjauh demi keselamatan orang terdekat, tidak menjadi jaminan mereka akan hidup damai. Justru Kau akan semakin tersiksa dan gelisah. Jika Kau terus berada di dekat orang yang Kau sayang, Kau bisa memastikan keselamatan mereka. Pikirkanlah Wasabi," ucap Setya
"Wasabi, bukankah Kamu mencintai Joy? Lalu kenapa kamu ingin menjauh? Kali ini saya tidak ingin menjadi egois. Kamu dan Joy saling mencintai bukan? Saya sudah merestui hubungan kalian," ucap Samy
"Betul, Mommy juga setuju. Wasabi beberapa kali menolong Joy, Mommy rasa Wasabi memang ditakdirkan untuk Joy," sahut Noura
"Dad...Mom," ucap Joy tersipu malu
"Ucapan Ayah benar, maaf kalau Saya berfikir sempit. Saya hanya takut jika Saya tidak bisa melindunginya dan...," ucap Wasabi yang kemudian terhenti
"Dan ....iya benar saya mencintai anak Anda, Joy," lanjut Wasabi sedikit gugup
"Kita manusia biasa, meskipun kita memiliki kekuatan. Kita tetap tidak bisa menghentikan jalannya takdir. Yang terpenting kita berusaha dahulu semampu Kita. Jadi karena Wasabi juga mengakui mencintai Joy, maka sudah jelas hubungan kalian sekarang ya," sahut Samy
"Memang hubungannya apa Dad?" tanya Joy
"Ya sepasang kekasih. Tapi kalau bisa jangan lama-lama. Segera nikahi Joy, hehe," ucap Samy dan semua orang yang ada di ruangan itu tertawa kecil
"Terimakasih nasihatnya Pak Samy dan terimakasih telah merestui hubungan kami. Iya secepatnya saya akan menikahi Joy," sahut Wasabi
"Sudah malam, Pak Samy harus banyak istirahat. Saya, Wasabi juga Sill pamit pulang. Semoga lekas membaik ya pak," sahut Setya
"Terimakasih pak Setya," sahut Samy
"Oh ya Wasabi tolong antarkan Joy pulang, kamu tidak keberatan kan," pinta Noura
"Oh ya Nyonya, sama sekali tidak," ucap Wasabi tersenyum tipis
"Kami tidak keberatan sama sekali, nanti Kami akan mengantarnya pulang," ucap Setya
"Oh tidak Pak Setya seharusnya mengantar Sill lalu Wasabi yang mengantar Joy. Wasabi ini kunci mobil Saya pakailah," Samy berusaha memberi ruang kepada Joy dan Wasabi
"Owh haha ya baiklah kalau begitu," ucap Setya
Kemudian Setya, Sill, Wasabi dan Joy pergi meninggalkan ruang perawatan Samy
Sill diantar pulang oleh Tuan Setya, sedangkan Wasabi mengantar Joy pulang.
Selama perjalanan pulang, Sill terus mencuri pandang ke arah Setya. Setya tahu itu dan dia merasa tidak nyaman.
"Sill kenapa kau terus mencuri pandang kepada ku," sahut Setya To The Point
"Ah maaf Paman. Sill hanya..." Sill bingung harus menjawab apa dia pikir Setya tidak akan tahu
"Aku tahu apa yang di pikiranmu. Aku bisa membaca pikiran," ucap Setya berbohong
"Hah? Paman tau apa yang Sill pikirkan? jadi... Paman juga tahu perasaan Sill?" ucap Sill keceplosan
"Sudah ku duga," Setya berkata dalam hati
"Kita sudah sampai di depan rumahmu," ucap Setya setelah memarkirkan mobilnya
"Maaf kan Sill, Paman. Sill akan membiarkan cinta itu tumbuh dan pergi dengan sendirinya. Tapi tenang saja, Sill tidak akan mendekati Paman. Terimakasih sudah mengantar sampai rumah," Sill tersenyum lebar lalu turun dari mobil.
Setya kemudian melajukan mobilnya dan menghilang bersama blackhole. Dia sama sekali menutup dirinya, menutup hatinya.
Sementara itu, dilain tempat. Tidak ada percakapan di dalam mobil yang ditumpangi Joy dan Wasabi, Bukan karena mereka tidak suka tapi rasa canggung menghampiri keduanya.
"Joy...," Wasabi membuka suara
"Ya?" ucap Joy gugup padahal biasanya di yang selalu agresif dan memulai duluan
"Haha aneh, Aku canggung sekali.Joy," ucap Wasabi polos
"Pffft," Joy tertawa kecil, "Seorang Wasabi bisa canggung juga,"
"Haha, kamu juga begitu kan?" ucap Wasabi yang juga membalikkan perkataan Joy
Kemudian Joy bersandar di lengan Wasabi dan meraih jari jemari kemudian menggenggamnya.
"Aku senang, akhirnya aku bisa mendapatkan hatimu," ucap Joy kemudian Wasabi menolehkan wajahnya dan mencium pucuk kepala Joy.
"Aku akan menjagamu, dan menjaga cinta kita sampai akhir hayatku," ucap Wasabi kemudian melihat kembali ke jalanan depan.
"Terimakasih," Joy tersenyum bahagia.
"Oh ya, Keluarga Ray tadi datang menjenguk Daddy. Mereka minta maaf dan memutuskan pertunangan. Semoga Daddy memegang ucapannya yang merestui hubungan kita. Dan dia tidak menjodohkan ku dengan orang yang tidak ku suka,"
"Memangnya siapa yang Kau suka?" ucap Wasabi menggoda.
"Ih pake tanya segala. Hehe," sahut Joy
"Aku sungguh tidak tahu Joy. Hehe," ucap Wasabi tertawa kecil
"Kamu Wasabi, Kamu adalah orang yang Ku suka, aku sayang dan cinta kamu. Puas! Haha," ucap Joy kemudian tersenyum
Tangan Wasabi yang masih di genggam Joy kemudian diangkat dan ia mencium punggung tangan Joy menggenggam tangan Joy. Ia mengemudi pelan dan menoleh ke arah Joy. Joy mengangkat wajahnya dan bangun dari sandaran lengan Wasabi
"Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Joy
"Joy malam ini Aku akan terbang ke Swiss, Kamu jaga diri baik-baik ya. Dan jangan nakal," ucap Wasabi
"Hah untuk apa ke Swiss? Perjalanan pribadi atau urusan mu dengan polisi itu?" tanya Joy
"Urusan pribadi, ada misteri yang disimpan Kakek Ku di sana,"
"Oh.. iya aku tidak akan nakal, kapan Aku nakal. Aku cuma nakal sama kamu hehe," ucap Joy
"Ingat telepone Aku kalau ada apa-apa," Wasabi melepaskan genggaman tangannya dan mencubit pipi Joy dengan pelan, Joy mengiyakan semua pesan Wasabi
Tanpa terasa Mereka sudah sampai di rumah Joy. Wasabi memarkirkan mobil Joy ke tempat parkirnya. Setelah itu mereka turun dan berjalan hingga ke depan gerbang
"Kenapa diparkir? Terus kamu pulang naik apa?" tanya Joy
"Menghilang, teleportasi," sahut Wasabi terkekeh
"Ih dasar Wasabi," ucap Joy yang kemudian ia teringat sesuatu
"Aku ingat saat Aku perjalanan ke rumah Ibunya Fika. Di dalam mobil Aku mencium aroma mu tiba-tiba. Apakah itu kamu?" terka Joy
"Hehe iya," Aku Wasabi
Joy sedikit kesal, raut wajahnya ditekuk
"Astaga Joy. Aku juga tahu batasan. Tapi Aku pernah lihat kamu bermesraan sama Riyan. Hehe tapi tenang aja Aku tutup mata,"
"Tuh kan , trus kamu lihat apa lagi?"
"Aku lihat cinta di matamu," ucap Wasabi mendekat dan mencium kening Joy.
"Joy, saat ini aku tidak memiliki apapun. Aku tidak sekaya orang tua mu. Tapi aku punya perasaan sayang yang lebih. Dan aku akan mengusahakan apapun agar kamu bahagia. Apa kamu bersedia menikah denganku?" sahut Wasabi
"Wasabi...Aku mau.. Aku sangat bersedia..." jawab Joy cepat tanpa berpikir lagi ia sangat bahagia malam itu
Wasabi memeluk Joy dan berkata, "Aku takut kehilanganmu. Jika suatu saat Aku atau Kau tiada..."
"Jangan ucapkan kalimat itu. Aku menunggu kepulangan mu dari Swiss. Janji Kau harus pulang dengan selamat," sahut Joy
"Terimakasih Joy, Ya Aku janji heehe dasar Joy jelek,"
"Wasabi Tampan..." balas Joy
Wasabi pun pulang dengan kekuatan teleportasinya.