Detective Wasabi

Detective Wasabi
Fake Address



Inspektur Hendra dan Bai, menemui seorang resepsionis yang berjaga pada waktu terjadinya pembunuhan di apartemen Tom di rumahnya, namun pada saat mereka telah sampai di rumah resepsionis itu, si pemilik rumah mengatakan jika yang bersangkutan tidak tinggal disitu karena bukan rumahnya.


"Apakah anda yakin tidak ada orang yang bernama Tito disini?"


"Tidak ada pak. Saya Novie pemilik rumah ini, dan di sekitar perumahan ini juga tidak ada yang bernama Tito. Kalau boleh tahu. Ada apa ya bapak-bapak polisi ini kemari? Saya sungguh terkejut karena saya merasa tidak melakukan kesalahan,"


"Hemm begini Nona, Saya Inspektur Hendra. Kami mendapatkan informasi alamat rumah Nona Tito dari tempat kerjanya. Coba Anda lihat alamat yang Dia berikan," ucap Inspektur Hendra seraya menunjukkan alamat yang tertulis di kertas.


"lya, Alamat ini benar disini. Tapi sungguh tidak ada yang bernama Tito disini. Yang tinggal disini hanyalah Saya, Suami dan anak saya," ucap Novie


"Jadi alamat yang dia berikan bisa dikatakan palsu," gumam Inspektur Hendra


"Coba teliti lagi Alamat itu, bisa saja orang yang memberikan alamat itu salah menulis," Ucap Haris, adik dari Novie yang juga duduk disebelah Novie


"Sebentar, Saya akan menanyakan lagi kebenarannya," ucap Bai


Tak berapa lama Bai sudah mendapatkan balasan, "Managernya itu juga memfotokan KTP Nona Tito," ucap Bai lalu menunjukkan foto KTPnya yang benar bertuliskan alamat ini


"Apa yang Tito lakukan? Saya tidak mengenal dia kenapa dia memasukkan alamat saya dan mengakuinya sebagai alamat rumahnya. Ini penipuan, takutnya saya yang di tuduh macam-macam. Memangnya apa yang dia lakukan sampai dicari polisi seperti ini?" tanya Novie


"Ada pembunuhan di apartemen tempat dia bekerja, meski hanya karyawan magang. Dia sedang bekerja saat pembunuhan terjadi. Dan saat kami datang, dia sudah off. Jadi kami hanya meminta dirinya untuk mendapatkan informasi," jelas Inspektur Hendra


"Kalau begitu kami permisi, maaf merepotkan Nyonya Novie dan Tuan Haris,"


"Sebentar, bolehkah saya melihat foto KTP Nona Tito? barangkali saya pernah melihatnya? karena saya sedikit pernah mendengar nama itu," ucap Haris karena sepertinya dia pernah melihat wanita itu


"Oh bisa, Ini dia fotonya," ucap Bai sambil menunjukkan Foto KTP dari ponselnya.


"Ah Dia rupanya," ucap Haris


"Anda kenal?" tanya Inspektur Hendra


"Tidak. Maksudku, Kami tidak mengenal secara dekat. Dia seorang sales mobil. Dan Aku pernah membeli mobil yang Dia tawarkan. Mungkin dari situlah dia mendapatkan alamat rumah ini. Tapi alasannya kenapa dia memakai alamat ini saya tidak tahu dan mohon tegur dia jika ketemu. Saya berharap alamat rumah kakak saya ini tidak disalahgunakan," ujar Haris


"Baik kami akan tegur bila bertemu. Lalu apakah Dia masih bekerja menjadi sales?" tanya Inspektur Hendra


"Mungkin saja, pekerjaan sales itu bisa dilakukan paruh waktu. Tapi untuk memastikannya kalian bisa ke dealer mobil yang terdekat dari sini," ucap Haris


"Terimakasih, kami akan mencoba menelusurinya," inspektur Hendra dan Bai pun pamit pulang.


.


.


.


Disisi Lain


"Benar kan, apa kataku pemilik mobil itu tak memasang cctv di mobilnya," ucap Emi


"Tak apa Emi, yang terpenting kita bisa tahu lebih pastinya. Dan tidak bertanya-tanya," ucap Wasabi kemudian ia melihat suasana di jalanan kecil itu yang terhimpit dua bangunan besar.


"Bisakah Kau tunjukkan, dimana Kau melihat orang itu menembak?" tanya Wasabi


"Itu ada di sana. Lurus beberapa meter ke depan, diujung jalan sebelah kanan ada pintu garasi yang besar. Sepertinya itu bekas pabrik," sahut Emi seraya menunjuk


Mereka berjalan mendekati tempat lokasi pembunuhan itu.Semakin mendekati lokasi itu Emi mulai membayangkan kejadian tempo hari, Dia pun bergidik dan langsung mencengkeram lengan Wasabi. Masih terekam jelas diingatkannya saat orang itu membunuh dengan sadis dan tertawa terbahak-bahak.


"Tenanglah Emi. Ada Aku disini," ujar Wasabi


Wasabi mulai membuka pintu itu. Tak terkunci dan suara berderit yang berisik membuat telinga peka. Sungguh singup udara di sana. Wasabi melihat sekitar. Tak ada bercak darah ataupun bau amis.


"Dimana tepatnya Emi?"


"Disitu," tunjuk Emi, "Ada ditengah itu,"


"Tak ada bercak darah. Hanya ubin yang berdebu. Benar-benar tak ada jejak. Ubinnya pun Masin ubin abu polos jaman kuno,"



"Tak ada jejak sepatu. Ataupun bekas orang diseret. Pembunuh ini sungguh pintar menutupi," ucap Emi


"Tapi sepertinya tempat ini sudah dia bersihkan lalu dia beri debu kembali." terka Wasabi seraya berjongkok dan membersihkan sedikit debu lalu meraba lantai di tempat yang ditunjuk Emi. Lalu dia meraba lagi ubin yang jauh dari tempat yang ditunjuk Emi.


Meskipun memakai sarung tangan, Wasabi masih bisa merasakan permukaan ubin yang licin dan kasar. Wasabi mengeluarkan kaca pembesar. Baru kali ini dia mengamati sesuatu dengan menggunakan kaca pembesar. Emi sedikit tertawa melihatnya.


"Jangan tertawa Emi, mungkin saja kita bisa menemukan sesuatu dengan bantuan alat ini," ucap Wasabi


"Haha maafkan Aku. Apa Kau punya dua kaca pembesar ?Aku ingin membantumu," sahut Emi


"Tidak hanya satu ini,"


"Ah kita beruntung, Aku menemukan sehelai rambut pendek. Amat sangat pendek. Rambutmu tidak rontok kan?" sahut Wasabi


"Tentu tidak, rambutku kuat karena aku memakai sampo Pantene yang menguatkan hingga ke akar. Ambil saja Wasabi, siapa tau itu bisa jadi bukti,"


"Hmm malah ngiklan," Wasabi lalu memungutnya dengan pinset kecil yang dia bawa di sakunya. Dan dimasukkan ke dalam plastik kecil.


Tiba-tiba dari arah luar terdengar decitan dan dentuman keras.


Cillit... Jedeeeer


"Astaga apa itu, sepertinya ada yang terjatuh," seru Emi seraya mengangkat wajahnya melihat ke arah luar


"Ayo kita lihat," ajak Wasabi


Wasabi dan Emi segera berlari ke depan, Wasabi menyusulnya tak lupa Wasabi menutup pintu gerbangnya kembali. Saat sudah keluar, Emi melihat seorang wanita terjatuh bersamaan dengan motornya yang besar bak motor pembalap


"Oh tidak Wanita itu terjatuh dari sepeda motor. Ayo kita tolong," seru Emi langsung berlari kecil


Wasabi menyusulnya, Emi membantu wanita itu berdiri dan Wasabi membantu mendirikan sepeda motor yang berukuran besar.


"Kau tak apa? Apa kau terluka? Siapa namamu?" tanya Emi


"Kau seperti seorang reporter. Tapi terimakasih,"


"Aku mengebut dan saat itu ada kucing yang tidur ditengah jalan. Aku spontan terkejut dan mengerem tiba-tiba. Alhasil aku membanting stir ke kanan dan menabrak tong sampah itu," jelas Wanita itu


"Jadi Kau jatuh karena kucing?" tanya Wasabi


Valent melihat Wasabi yang tampan dan membuatnya sedikit mengalihkan perhatiannya


Tampannya batin Valent


"Ah maaf, i-iya karena kucing," ucap Valent


"Lain kali berhati-hatilah," sahut Wasabi


"Ya terimakasih, Siapa namamu?" ucap Valent bertanya pada Wasabi dan mengacuhkan Emi


"Hemmm Aku bertanya namamu, Kau tak menjawab malah bertanya siapa dia?" gerutu Emi


"Haha maaf, dia tampan jadi aku terpesona sampai melupakanmu Aku Valent, Aku seorang pembalap," ucap Valent jujur


"Wow. Kau terlihat hebat dengan kendaraan itu. Aku Emi dan Dia Wasabi temanku," ucap Emi


"Valent, Kau baik-baik saja kan? Maaf Kita ada urusan lain. Permisi," ucap Wasabi yang langsung pamit undur diri.


"Kenapa buru-buru, kita belum bertukar nomer telephone," ucap Valent yang langsung mengambil kartu nama di dalam dompetnya. Dia ingin memberikan kartu namanya pada Wasabi tapi tetapi Wasabi tak menerimanya


"Maaf Kita duluan ya," ucap Emi lalu mengejar Wasabi


Wasabi yang dingin sudah berjalan jauh didepan. Emi menyusulnya dengan berlari kecil.


"Wasabi kenapa terburu-buru," tanya Emi begitu dia berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Wasabi


"Entahlah perasaanku tak enak,"


"Haha Kau takut dia mengejarmu. Pede sekali Kau hahaha..."


"Haha.. Tidak bukan itu. Hanya saja jangan terlalu akrab dengan orang asing yang baru di kenal," ucap Wasabi


Sementara itu di sisi lain


"So Funny...Dia satu-satunya lelaki yang menolakku. Aku harus mendapatkannya!" batin Valent