
Bai dan Inspektur Hendra ke toko mobil yang ditunjukkan oleh Haris. Menurut keterangan Haris, jika Tito juga bekerja di toko tersebut.
Sesampainya disana Inspektur Hendra turun dan masuk, sedangkan Bai mencari tempat parkir. Karena lokasinya berada di dekat jalan raya dan terbatas lahan parkir.
Inspektur Hendra berpesan untuk mencari lokasi parkir yang terdekat. Setelah itu Bai turun dan menyusul Inspektur Hendra.
Baru setengah berjalan, Dia lupa membawa borgol yang tertinggal di laci mobil. Bai kembali ke mobil lagi dan Dia mendapati dua polwan lalu lintas sedang merantai ban mobilnya.
"Hei hei apa-apaan ini," seru Bai
Salah seorang Polwan itu menoleh dan langsung beranjak dari jongkoknya.
Seketika Bai terpana akan kecantikan polwan tersebut
"Selamat siang Bripda Bai. Maaf Mobil Anda melanggar peraturan lalu lintas. Wilayah ini dilarang parkir, " sahut Polwan lalu lintas yang bernama Putri
"Maka dari itu tolong pindahkan segera mobil Anda dan Anda akan kami tilang. Tolong keluarkan kelengkapan surat mengendarai Anda," timpalnya lagi
"Oh Ehmm maaf soal itu, Saya tak melihat ada tanda dilarang parkir," ucap Bai maksudnya meminta keringanan karena mereka sesama polisi
"Tapi bisakah kita berdamai? Kita kan sesama polisi. Aku akan segera memindahkan mobil ini,".
"Justru Anda polisi, seharusnya Anda taat oleh peraturan yang berlaku. Kami tidak perduli dengan status Anda. Aturan tetaplah aturan," ucap Zia polwan satunya
"Huft Oke oke, ini SIM dan STNK mobil ini," sahut Bai sambil menyodorkan surat-suratnya
"Hendra? Apakah mobil ini milik Inspektur Hendra yang terkenal hebatnya itu?" terka Zia
"lya ini milik dia dan kami sedang terburu-buru menyelidiki kasus pembunuhan," ucap Bai
"Wow, Saya salut dengannya. Dia juga ikut turun tangan dalam penyelidikan. Tak jarang pimpinan seperti dia..," puji Putri
Dasar perempuan bukannya segera tilang malah asyik ngobrol batin Bai
"Aku dengar Dia akan segera naik jabatan. Semoga kasus kali ini segera terpecahkan," sahut Putri
"Tapi kalian baru saja menghambat pekerjaan kami," ucap Bai
"Haha... Maaf ini surat tilangnya dan Anda bisa segera memindahkan mobil ini," sahut Putri yang kemudian membuka rantai bannya
Bai pun memindahkan mobilnya di zona yang boleh parkir. Sedikit jauh tapi apa boleh buat.
Disamping itu, Inspektur Hendra menunggu Nona Tito yang sedang melayani customer.
Dia sangat ramah, pantas saja jika dia bekerja sebagai front office di apartemen itu. Batin Inspektur Hendra
"Maaf Inspektur, tadi ada insiden kecil," sahut Bai dengan nafas terengah-engah karena habis berlari.
"Ada Insiden apa sampai lama begitu. Kau memarkirkannya jauh dari sini?"
"Ya komandan, terpaksa dan tak hanya itu. Mobil mu kena tilang," sahut Bai
"Dasar kau ini," cerutu Inspektur Hendra
Setelah menunggu Tito beberapa menit karena melayani customer nya terlebih dahulu. Ia menemui Inspektur Hendra dan Bai lalu mengajaknya untuk berbicara di ruangan lain.
Sesampai didalam ruangan yang lebih tertutup. Inspektur Hendra dan Bai duduk, disusul oleh Tito seraya memulai pembicaraan
"Sebenarnya apa yang terjadi? Apa salah saya," tanya Tito
"Begini Nona Tito. Ada pembunuhan yang terjadi di apartemen tempat mu bekerja. Tepatnya di lantai dua. Apartemen itu milik Nyonya Ummy yang kerap dipanggil Mami dan sedang disewa oleh Tom," jelas Bai.
"Tom seorang atlit baseball itu?" sela Tito
"Ya , apa Kau mengenalnya atau pernah melihatnya?"
"Tidak keduanya. Saya tahu ada seorang atlit baseball dari Clara. Tapi saya tidak tahu jika telah terjadi pembunuhan? Memangnya siapa yang dibunuh? Apakah atlit itu pembunuh?" tanya Tito
"Tidak. Justru Atlit itulah yang menjadi korban pembunuhan," ujar Inspektur Hendra
"Astaga, bikin saya takut untuk kerja disana lagi," ucap Tito
"Jangan takut, kami akan mengatasinya. Bisakah Kau ceritakan? Jam berapa Kau bekerja dan apakah Kau melihat dua orang ini masuk kedalam apartemen?" tanya Inspektur Hendra sambil menunjukkan foto Mami dan Afkar.
"Tidak tahu, saya baru mengetahuinya sekarang,"
"Saat Kau bersiap untuk pulang? Apa Kau mendengar keributan atau perkelahian dari lantai bawah," tanya Bai
"Saya tidak mendengar keributan orang yang bertengkar. Apartemen itu meskipun bukan apartemen elit tetapi dirancang kedap suara," sahut Tito
"Ya Kau benar, Aku juga sudah menanyai tetangga apartemenya. Mereka mengatakan hal yang sama, " ucap Inspektur Hendra
"Nona Tito, ada yang ingin Aku tanyakan lagi. Kami mencarimu ke alamat ini," tanya Bai sambil menyodorkan catatan alamat di kertas kecil
"Kenapa Kau memberikan alamat palsu? Apa Kau Ayu ting-ting?" tanya Bai lagi
Plak
Inspektur Hendra memukul lengan Bai dengan koran yang di gulung memberi isyarat bukan waktunya becanda.
"Sebenarnya Saya tidak berniat berbohong. Tapi saya terpaksa memberikan Alamat lain karena syarat bekerja disana adalah harus memiliki rumah yang jelas,"
" Dimana Kau tinggal selama ini?
"Di tempat kerjaku ini. Di lantai atas ada mes karyawan. Tetapi masa kerja saya akan berakhir besok, jadinya terpaksa memberikan alamat palsu kemarin," ujar Tito
"Itu termasuk penipuan. Kau tetap harus mengakuinya pada atasanmu. Dan juga Kau harus meminta maaf pada pemilik rumah yang Kau akui itu,"
"lya baik saya Akan mengakuinya besok,"
Setelah itu, Inspektur Hendra dan Bai berpamitan.
.
.
.
Dirumah sakit
Joy dan Emi memasang wajah penuh curiga terhadap Sill. Tetapi Wasabi begitu santai dan malah tersenyum-senyum melihat raut muka Emi dan Joy yang penuh kecurigaan terhadap Sill
"Kenapa? apa ada yang lucu?" tanya Joy dengan jutek
"Ups sepertinya Aku salah," sahut Wasabi yang langsung takut.
"Sill ini pakaian yang Kau minta," ucap Emi seraya memberikan pakaiannya
"Terimakasih Emi, Wasabi, Joy. Kalian memang yang terbaik," ucap Sill
"Uh Sill Kau tahu Kau sangat jorok," cerutu Joy
"Apa maksudmu?" tanya Sill
"Kau membiarkan baju yang berlumuran darah di keranjang pakaian kotormu. Kenapa tak langsung mencucinya?" tanya Joy
"Aku tak sempat Joy. Tugasku di kepolisian memang hanya membuat laporan dari hasil interogasi dan beberapa...." ucapan Sill terpotong karena Joy mendekatkan wajahnya ke hadapan Sill
"Kau kenapa?" tanya Sill menjauhkan wajahnya
Joy memegang dagu Sill dan menatap wajahnya. Joy ingin membaca raut wajah kebohongan tetapi Dia tak menemukannya.
"Sepertinya Aku salah menduga," pikir Joy dalam hati
Wasabi terkekeh melihat aksi Joy. Joy langsung melirik Wasabi dan menariknya keluar kamar.
"Astaga Joy Kau menarik tanganku kasar," protes Wasabi
"Apa Kau tak bisa serius ketika Aku menekan seorang tersangka?" sahut Joy
"Kau terburu-buru Joy, bukankah kita akan membahasnya dirumahmu nanti. Tapi Kau mengacaukannya. Tak hanya itu, raut wajah kalian sangat tegang," ucap Wasabi
"Aku hanya tak yakin jika pelakunya Sill. Dia anak inspektur polisi Joy. Dan Aku lebih mengenal Dia," timpal Wasabi.
"Oh ya sampai mana mengenalnya?" ucap Joy memandang Wasabi. Sementara Wasabi langsung diam bagaikan suami-suami takut istri. Ya kelemahan Wasabi saat ini hanyalah Joy.
"Maaf aku menyela. Sepertinya Sill bukan pelakunya. Dia terlihat jujur," ungkap Emi menghampiri Joy dan Wasabi yang ada di luar ruangan
"Besok Aku akan ke kantor polisi dan melihat jadwal kapan saja Sill keluar kantor. Dan dengan siapa dia bertugas saat itu. Aku yakin Sill tidak bersalah," ucap Wasabi
"Oke, Sekarang bisakah kita pulang? maksudku kerumah Joy," tanya Emi
"Ya," jawab Joy
Wasabi, Joy dan Emi pamit dengan Sill dan Setya yang masih menunggu disana. Sesampainya dirumah Joy. Wasabi memarkirkan mobil Joy di depan pagar rumahnya.
Wasabi meminta Emi untuk masuk duluan ke dalam rumah Joy karena pria itu ingin berbicara serius dengan Joy. Seperti biasa Joy cemburu saat wasabi mengatakan paling mengenal Sill. Terlihat jelas dari sikapnya yang sedari perjalanan kekasihnya itu diam saja. Menjawab jika ditanya, jika tidak ditanya ya diam
Setelah Emi turun dari mobil dan berjalan masuk ke rumah.
"Kenapa berhenti didepan pagar?" ucap Joy
"Aku mau berbicara serius denganmu," ucap Wasabi
"Bicara saja jangan buang waktu,"
"Kau masih marah? Apa Kau cemburu karena ucapanku yang mengatakan kalau aku lebih mengenal Sill?"
"Buat apa Aku cemburu," Joy membuang mukanya dan menatap kearah luar mobil.
"Lihat Aku Joy," pinta Wasabi
Ketika Joy menolehkan wajahnya ke arah Wasabi, Wasabi menatapnya hangat dan berkata.
"Sill hanya sahabatku. Dan Kau masa depanku. Aku adalah orang yang paling mengenal mu. Terlebih saat Kau marah, saat Kau cemburu, dan saat Kau merasa sedih. Kau membuat hatiku yang dingin merasakan kehangatan. Dan Aku tak ingin kehilangan mu Joy," ucap Wasabi mengecup bibir Joy, seketika dunia menjadi milik mereka berdua