Detective Wasabi

Detective Wasabi
Who Is The Killer





Disebuah Apartemen


"Sudah ku peringatkan Kau untuk bayar sewa di awal bulan. Ini sudah kali ketiga Aku menagihnya. Masih juga belum bisa membayarnya?" ucap seorang Wanita sembari merokok diatas meja


"Beri dia pelajaran," timpalnya lagi sambil menyuruh bodyguard nya untuk menghajar.


"Siap Mamy," sahut bodyguard


Seorang pemain baseball, bernama Tom, berhutang pada pemilik apartemen. Bodyguard pemilik apartemen pun mengikuti perintah bos wanitanya. Ia mengambil tongkat baseball milik Tom yang tergeletak di atas meja



Kemudian Dia mendekati Tom dan siap mengayunkan tongkat Baseball itu ke muka Tom. Tom merintih kesakitan.


"Katakan Tom, Kau ingin luka dibagian mana? Atau ku lukai saja tanganmu, agar Kau segera pensiun menjadi Atlet Baseball," ujar Bodyguard tersebut


"Jangan Afkar sayang... Jika Dia kehilangan pekerjaannya, bagaimana Dia membayar hutangnya yang menumpuk itu," cegah pemilik apartemen yang sering di sebut dengan julukan Mami


"Aku akan membayarnya, tapi tidak sekarang. Upah ku keluar tiga hari lagi. Tolong beri Aku waktu sekali lagi," ujar Tom meminta keringanan. Ia meringis kesakitan, ada darah yang keluar dari hidungnya



"Huh... Lalu apa jaminannya jika Kau akan membayarnya," ucap Mami


"Ini ambil ini, ini medali emas yang pernah Aku dapatkan. Itu sangat berharga untukku. Aku akan mengambilnya kembali jika sudah membayar semua hutangku," ucap Tom


"Ini emas asli? Hemm baiklah Aku akan menunggumu. Tiga hari lagi Aku akan kembali," ujar Mami


"Afkar Ayo kita pulang," ajak Mami


"Oke Mami,"


Afkar melempar tongkat baseball itu ke lantai dan pergi begitu saja meninggalkan Tom.


Tak berapa lama Paman Jack menelepon. Tom yang masih kesakitan pada bagian mukanya pun mengangkat telepon.


"Ya Paman," jawab Tom dengan suara menahan sakit


"Tom, dimana Kau? Apa Kau di Apartemen?" tanya sang Paman


"Iya Paman Jack, Siang ini Aku di rumah, tapi sore nanti Aku ada pertandingan. Ada apa?" tanya Tom


"Kakek mu menitipkan uang padaku. Katanya Kau membutuhkannya untuk membayar sewa apartemen. Aku sekarang menuju apartemenmu," ucap Paman Jack


"Ah tidak usah repot Paman, nanti Aku yang akan ke rumah Paman Jack,"


"Tidak repot, Aku juga sudah lama tidak mengunjungimu. Sebentar lagi Aku sampai," ucap Pamannya


"Baiklah Paman kalau begitu Aku tunggu kedatanganmu,"


Setelah menutup ponselnya, Tom membersihkan luka-lukanya di wastafel dekat kamar mandi.


"Seharusnya paman datang lebih awal sebelum Mami, pemilik apartemen itu datang. Dengan begitu aku tak akan mendapat pukulan yang perih seperti ini," gumam Tom berbicara sendiri


Ting Tong.


Bel pintu Apartemen berbunyi


"Cepat sekali? Bukankah jarak rumah Paman kemari bisa menghabiskan waktu 20 menit, Hemm," gumamnya lagi


Sebelum membuka pintu, Tom sekalian buang air kecil.


"Sebentar paman," teriak Tom yang meyakini jika yang datang itu adalah pamannya


Setelah selesai, Tom keluar dan sudah tidak mendengar bunyi bel lagi. Tetapi pintu apartemen terbuka sedikit.


"Paman Jack?" panggil Tom sembari melihat keluar pintu Apartemen.


"Tidak ada orang," gumam Tom lalu menutup pintu dan tidak menguncinya.


Dia lalu mendengar suara sepatu dari dalam apartemen. Tom menoleh dan mendekat sumber suara sembari berkata, "Paman Jack, Kaukah itu?"


Kemudian muncul seseorang berpakaian Hoodie serba hitam dan wajah memakai masker hitam



"Halo Tom," sapa orang itu. Suara laki-laki namun Jack tidak mengenalnya.


"Kau? Siapa Kau?! Kau bukan Paman Jack kan?" tanya Tom sedikit ketakutan.


Bagaimana bisa orang tersebut masuk kedalam apartemennya


"Hahaha..." tawa orang yang memakai Jumper kemudian ia mengambil tongkat baseball yang tergeletak di lantai pintu.


Tanpa dosa, ia mengayunkan tongkat tersebut dan langsung memukul Tom dengan kasar. Dengan beberapa pukulan di perut, wajah dan kepala.



"So Funny," ucapnya kemudian membawa tongkat Baseball bersamanya dengan darah yang masih menempel lekat di tongkat tersebut



Beberapa menit kemudian Paman Jack datang. Berkali-kali di tekan bel pintu, Tom tak juga membukanya. Paman Jack lalu meneleponnya kembali.


"Ah itu suara ponselnya terdengar dari sini," gumam Jack


"Tom.. Tom..ini paman....," panggil Paman Jack dari kuar pintu apartemen sambil memutar daun pintu yang ternyata tidak dikunci.


Pintu itu terbuka dan betapa terkejutnya Paman Jack melihat Tom tergeletak sudah tak bernyawa.



.


.


.


Inspektur Hendra terus memandangi seorang setengah baya yang duduk di sofa apartemen dengan penuh kesedihan. Tom sudah dibawa ke rumah sakit untuk di autopsi. Sedangkan polisi lainnya menyelidiki jejak sidik jari dan jejak darah yang menetes di lantai.


Tak berapa lama Wasabi datang


"Inspektur. Bagaimana ceritanya?" tanya Wasabi yang langsung menghampiri Inspektur Hendra yang duduk di dalam apartemen Tom.


Inspektur menunjuk Paman Jack terduduk di kursi dengan wajah sedih dan menatap kearah darah tempat korban tergeletak.



"Dia?" tanya Wasabi yang mengira pelakunya adalah Paman Jack


Segera Inspektur Hendra menangkap pertanyaan Wasabi


"Oh Bukan. Bukan dia pelakunya. Dia Jack, Paman Korban. Dia sedang perjalanan kemari untuk memberikan uang titipan dari kakeknya. Kabarnya Dia sedang terbelit hutang," terang Inspektur Hendra


"Apakah pembunuhan ini karena hutang piutang?" tanya Wasabi


"Aku tidak tahu, tapi kabarnya dia berhutang dengan pemilik Apartemen,"


"Tak ada tongkat baseball tetapi ada goresan di pintu. Kemungkinan ia dipukul dengan tingkat Baseball dan membawa serta tongkat itu. Jadi bisa saja tongkat tersebut ia buang di suatu tempat,"


"Astaga, Aku saja tak bisa menerka apakah itu memang pukulan dari tongkat Baseball, aku juga tidak melihat dimana tongkat tersebut,"


"Semua bisa saja menjadi terduga. Tak ada yang tahu apakah paman Jack bersalah atau tidak. Tapi saat ini dialah saksi matanya," ucap Wasabi


"Menurut Informasi Satpam. Pemilik Apartemen baru saja mengunjungi Tom. Dia juga patut dicurigai," ujar Inspektur Hendra


"Permisi Inspektur, Saya menemukan ini di tempat sampah yang terletak di belakang Apartemen, " Bai menemukan tongkat Baseball yang penuh darah. Tentu saja dia mengambil barang bukti itu dengan sarung tangan dan mengantongi nya didalam plastik


"Bagus. Selidiki dan segera laporkan perkembangannya. Jika sudah, pasang garis polisi dan tugaskan dua orang berjaga disini," ujar Inspektur Hendra


Sementara Inspektur Hendra mengatur bawahannya. Wasabi menatap sekeliling apartemen.


"Tak ada cctv. Ah ada Cctv pun pelaku tak bisa terlihat," gumam Wasabi


"Oh yaWasabi? Kau sudah menyelidiki kasus Nyonya Cen? Ibu Tiri Naomi," tanya Inspektur Hendra


"Sudah, pelaku lolos dia tak telihat dari cctv sepertinya dia sudah tau dimana letak cctv itu berada. Aku juga sudah menginterogasi orang sekitar atau orang-orang yang terakhir kali berhubungan dengannya," ucap Wasabi


"Hasilnya belum ditemukan. Kasus pembunuhan terjadi lagi, kali ini Tom. Berarti sudah ada dia orang yang terbunuh baru-baru ini," ujar Wasabi


"Oh ya Aku lupa mengatakan padamu.Pagi tadi ditemukan seorang wanita pemilik toko perhiasan. Dia tewas dijalanan. Lebih tepatnya di tangga umum. Diduga ini adalah kasus pembunuhan. Ini berkasnya," ucap Inspektur Hendra seraya menyerahkan berkas pembunuhan


"Jadi sudah tiga orang yang mati karena terbunuh?" ucap Wasabi sambil membaca berkas



"Tidak ada luka tembak, luka pisau, benjolan lebam tetapi leher dan mulut membiru. Belum tentu Dia meninggal karena racun atau di cekik. Bisa jadi dia terkena serangan jantung,"


"Ya Kau benar. Kami sedang menyelidikinya. Malam ini hasilnya akan keluar," ucap Inspektur Hendra


"Jika ini juga kasus pembunuhan dan dengan pelaku yang sama. Motifnya kemungkinan karena uang atau sakit hati. Nyonya Cen adalah penjual barang antik. Sedangkan Nona Cindy pemilik perhiasan. Dan Tom seorang Atlit yang disukai banyak penggemar Wanita. Apakah pelakunya Wanita?" ucap Wasabi kemudian menerka nya


"Tidak Wasabi. Jika dilihat dari ukuran sepatunya yang terjejak di karpet itu. Dia seorang Pria dengan ukuran Kaki 42cm,"


"Hemmm Dia Pria? Aku tak yakin," pikir Wasabi


"Oh ya Inspektur. Aku permisi dulu, Aku harus menemui Andi. Dia mengalami kecelakaan kemarin,"


"Ok Wasabi Sampaikan salamku padanya semoga lekas sembuh," ujar Hendra!


"Siap Ndaan," ucak Wasabi sembari memberi hormat


Whuus


Wasabi menghilang dengan kekuatan teleportasi nya.