Detective Wasabi

Detective Wasabi
Arsenik



"Saya ingin menanyakan satu hal," tanya Wasabi


"Silahkan," ucap Tuan Paldo


"Apa yang disukai Desi? Tempat favorit? Makanan favorit? Apa yang menjadi favorit nya?" tanya Wasabi


"Pertanyaan apa itu? Kenapa tidak mengarah kapan terakhir bertemu, jam berapa, Ck," decak Tuan Paldo


"Sabar Tuan Paldo, pertanyaan saya bisa mengarah kesana,"


Tuan Paldo malah meragukan Wasabi, "Apakah laki-laki ini benar bisa menemukan Desi?" pikirnya dalam hati


"Desi suka menggambar. Dia adalah anak yang cerdas. Dia


seperti aku suka bercocok tanam. Dia juga suka menanam bunga Mawar," sahut Mayang


"Kamu salah, yang paling menjadi Favoritnya adalah bunga Edelweis," sambung Tuan Paldo


"Di meja sampingmu itu adalah buket bunga Desi, dia beri warna pink di atasnya. Dia seperti almarhum ibunya yang suka bunga Edelweis. Tapi semenjak saya menikah dengan Mayang, dia tak pernah lagi merangkainya," Imbuhnya


"Kesukaannya telah berubah, sekarang dia menyukai mawar," ucap Mayang


"Kapan terakhir kalian bertemu Desi," tanya Wasabi, pertanyaan yang ditunggu tuan Paldo


Wasabi memperhatikan Nyonya Mayang dan mencoba membaca ekspresinya. Kemudian Dia tersenyum lebar.


"Saya lupa kapan tepatnya. Kejadian itu sudah 3 bulan yang lalu. Yang saya ingat adalah saat itu dia marah dengan Ayahnya," jelas Nyonya Mayang


"Tapi itu bukan salah saya. Dia pantas dimarahi karena pulang larut malam," ucap Tuan Paldo


"Dia juga harus menjaga kehormatan dan nama baik keluarga. Tidak minum minuman yang memabukkan lalu pulang larut malam," ungkap Tuan Paldo


"Kalau tau dia menghilang, saya tidak akan pernah menamparnya. Saya sangat menyayanginya," Timpal Tuan Paldo lagi


"Lalu menurut anda. Desi menghilang karena diculik? Kalau dilihat dari cerita Anda, Desi itu pergi atas dasar keinginan sendiri bukan karena diculik,"


"Saya juga bilang seperti itu pada suami saya. Tapi dia sangat yakin jika Desi diculik. Karena terbukti semua polisi dan detektif yang ia sewa tidak menemukan jejak jika Desi di culik ," ungkap Nyonya Mayang


"Apakah ada yang menelepon untuk meminta tebusan?" tanya Wasabi


"Tidak ada," jawab Tuan Paldo


Sekali lagi, Wasabi tersenyum kecut. Sepertinya ada yg Wasabi curigai dari nyonya Mayang. Ia pun meminta ijin untuk ke kamar Desiani, lalu bertanya pada salah satu pembantu atau pengurus rumah di sini


Kamar Desi sangat rapi, Edelweis ada di kamarnya.


"Kapan terakhir kali kamar ini dibersihkan," tanya Wasabi


"Saya tidak mengijinkan pembantu dan lainnya membersihkan kamar ini, sejak hilangnya Desi," jawab Tuan Paldo


"Saya masih dengan pendirian saya. Saya tidak ingin ada menghilangkan jejak penculik," ucap Tuan Paldo


Wasabi mengamati beberapa hal yang janggal. Jika 3 bulan tidak dibersihkan maka jendela ini akan berdebu. Tapi ini terlihat bersih. Dan lagi selama 3 bulan ini pasti akan susah mencari jejaknya.


Pria itu membuka jendela dan keluar balkon. Dia melihat ada bunga Edelweis di yang jatuh diatas atap. Wasabi turun ke atap.


Tuan Paldo memanggilnya "Hey. Kamu mau kemana,"


Ada jejak kaki wanita diatas atap. Tanpa alas, terlihat atap yang berdebu tersebut membentuk sebuah jejak kaki.


"Jika ada polisi dan Detektif yang mencari sebelumnya, knp mereka tidak melacak ini? Atau ini baru saja terjadi?" gumam Wasabi


Wasabi kemudian melihat Nyonya Mayang di samping Tuan Paldo, ia ikut melihat Wasabi dari jendela kamar Desi. Saat melihatnya raut nyonya Mayang berubah menjadi datar, padahal sepertinya tadi dia melihat sekilas ada senyum


"Ada apa Wasabi? Benarkan Desi diculik. Ada jejak kaki di sana," ucap Tuan Paldo yang juga melihat jejak kaki di atap


"Sebentar Tuan Paldo saya akan mengikuti jejak ini," sahut Wasabi


"Huft mau mengerjain aku ya!" gumam Wasabi sendiri


Jejak kaki mengarah terus ke atas dan keluar ke bagian depan. Tapi tepat di bawah, ada pot yang rusak.


Ada dua kemungkinan pertama. Orang ini keluar ke arah depan. Yang kedua, dia keluar dari balkon, terjatuh di halaman belakang dan menginjak pot bunga. Artinya dia akan semakin susah untuk keluar. Jika hal itu terjadi maka....pikir Wasabi


"Saya harus bertemu dengan semua orang yang tinggal atau bekerja di rumah ini," ujar Wasabi sedikit berteriak dari bawah


"Ok saya akan menyuruh mereka untuk berkumpul," ucap Tuan Paldo


Wasabi menelepon Andi, sambil menjatuhkan diri ke lantai dasar lalu mengamati tiap sudut.


"Andi Aku ingin kamu menyelidiki dengan kamera ke dalam rumah kaca. Kamu bisa memakai pesawat drone atau lainnya," titah Wasabi dengan pelan


"Oke..," jawab Andi singkat


"Dan Emi tolong periksa cctv pada tanggal kejadian hilangnya Desi. 3 bulan yang lalu.


Tuan Paldo dan Nyonya Mayang meninggalkan kamar Desiani dan menyuruh semua pegawainya berkumpul.


Wasabi naik kembali ke balkon dan melihat keadaan sepi. Saat itu kesempatannya untuk menghilang. Kekuatannya yang kedua, jurus tak kasat mata. Dia pun pergi ke kamar Tuan Paldo dan Nyonya Mayang


Kamar yang besar. Wasabi memperhatikan setiap barang dari sudut ke sudut. Lalu membuka lemari dan laci meja. Ada bantalan tinta.


"Seharusnya ini ada di meja kerja, kenapa ada di laci kamar," gumam Wasabi


Setelah menyelidiki kamar Tuan Paldo, ia keluar dan berjalan melewati balkon kamar Desi. Saat itu Wasabi melihat kebawah jika Nyonya Mayang pergi ke dapur. Sementara Tuan Paldo duduk di ruang tengah.


Tidak lama kemudian Emi menelepon, untung saja mode getar. Wasabi masuk kembali ke kamar Desi untuk mengangkat telepon


"Wasabi. Malam hari setelah Desi bertengkar dengan Tuan Paldo. Desi ke kamarnya kemudian seorang asisten datang


memberikan susu. Sekitar 15 menit. Pembantu itu keluar tetapi dengan ukuran tinggi tubuh sedikit lebih tinggi dari saat pembantu itu masuk.


"Lalu bagaimana dengan rumah kaca dan sekitarnya hari ini?" Wasabi berbicara sambil berbisik


"Tidak ada sesuatu. Hanya saja Aku tidak begitu yakin. Ada suara seperti menggedor-gedor. Tapi Kita tidak yakin dari mana datangnya. Bisa saja itu adalah angin," jelas Emi dari telepon


"Trimakasih Emi," ucap Wasabi kemudian telephone ditutup.


Wasabi mengikuti Nyonya Mayang, masih dalam mode tidak terlihatnya.


"Shandian," panggil Nyonya Mayang


"Ya Nyonya," jawab Shandian


"Sudah beres?"


"Ternyata diluar dugaan ku.... Lakukan sekarang saja," ucap Nyonya Mayang


"Ya... tapi Nyonya," Shandian pembantunya itu terlihat takut


Nyonya Mayang melirik tajam, hanya dengan lirikannya saja Shandian sampai ketakutan hingga menutup mulutnya.



"Ma-maaf Nyonya. Baik akan saya laksanakan," jawab Shandian sambil menundukkan kepala


Wasabi berada tepat disamping Nyonya Mayang, aroma Wasabi pun terendus ke hidungnya.


"Kenapa ruangan ini tercium, bau parfum Wasabi," gumam Nyonya Mayang


"Apakah Detektif itu masuk ke dapur?"


"Tidak Nyonya,"


"Hemm aneh, mungkin perasaanku saja," gumamnya lagi, "Panggil semua pekerja untuk berkumpul di ruang tengah. Dan buatkan kami semua minuman," ucap Nyonya Mayang


"Baik Nyonya," Shandian pergi memanggil pekerja lainnya.


Nyonya Mayang kemudian menyeduh teh hangat lalu mengambil sebotol obat di kotak obat dan menaruhnya beberapa tetes obat itu ke dalam gelas tersebut.


Kemudian dia berjalan menuju keluar halaman belakang dan menggali tanah, lalu ia mengubur botol obat itu ke dalam tanah di dekat bunga mawar.


"Apa itu," pikir Wasabi dalam hati


Setelah selesai mengubur botol tersebut. Nyonya Mayang lalu masuk kembali ke dalam. Mencuci tangannya lalu membawa segelas teh hangat buatannya menuju ruang tengah.


Wasabi penasaran dia pun menggali kembali tanah dan mengambil apa yang di kubur Nyonya Mayang. Botol kaca tersebut sudah kotor terkena tanah, Wasabi pun mengambilnya dengan sapu tangan plastik miliknya dan mengusapnya label kemasannya


Jelas tertera di label kemasan nama obat itu


"Ini bukan obat. Ini adalah Arsenik. Raja segala racun," gumam Wasabi. Kemudian dia pergi menuju ruang tengah



Tapi sebelum Wasabi ke ruang tengah, tak berapa lama Shandian datang dari halaman belakang. Ia ingin memasuki dapur, tetapi ia melihat ada botol obat melayang-layang


"Apa itu. Botol melayang?" ucap Shandian sambil beberapa kali menggosok matanya dan memastikan yang dilihatnya tadi hanyalah imajinasinya.


"Sial semoga tidak ketahuan," Wasabi lalu cepat-cepat menyembunyikan botol itu.


"Oh mungkin aku kurang tidur," ucap Shandian lalu segera menyiapkan satu teko minuman untuk para tamu dan pekerja.


Diambilnya beberapa obat tidur dan memasukkannya ke dalam minuman, perintah nyonya Mayang tadi


"Astaga aku hampir lupa. Tuan Paldo Aku harus cepat, Tak ada waktu lagi," ucap Wasabi dalam hati kemudian Ia segera berteleportasi


Whusss


Shandian merasakan gempa dan angin berhembus


"Aduh Gempa!" pekik Shandian


Tuan Paldo yang terlihat sedang duduk diruang tengah, menunggu semuanya berkumpul. Ia mengambil teh hangat yang baru saja dibuatkan Nyonya Mayang untuknya dan ingin segera meminumnya.


Wasabi tiba-tiba muncul


"Berhenti! Maaf Tuan Paldo. Anda jangan meminumnya!" sergah Wasabi


Posisi gelas sudah menempel di bibir Tuan Paldo, Lalu dilepaskan


Wasabi mengamati jari tangan Tuan Paldo. Dengan kepercayaan dirinya dia pun tersenyum merekah.


"Apa maksud mu. Ada apa!" tuan Paldo bingung


"Dari mana kamu muncul," ucap Tuan Paldo


"Ka kamu bisa menghilang?" tanya Nyonya Mayang


Sial, aku ceroboh, batin Wasabi


"Tidak penting darimana saya datang. Minuman itu mengandung racun yang berbahaya," ujar Wasabi


"Tidak sopan kamu ya. Kamu secara tidak langsung menuduh saya, karena saya yang membuatnya," ucap Nyonya Mayang


"Saya tidak menuduh Anda Nyonya,"


"Saya membawa minuman itu dari dapur. Teh itu sudah diseduh oleh Shandian,"


"Tidak ada yang menuduh Anda, dan kenapa harus Anda jelaskan dari mana teh itu. Berarti memang ada sesuatu di dalam teh itu dan Anda takut di tuduh kan?" ucap Wasabi


"Lalu apakah Anda bisa menjelaskan, apa ini?" timpal Wasabi sambil menunjukkan botol racun


"Astaga itu Arsenik!" pekik Tuan Paldo


"Masih mau mengelak? Ada sidik jari Anda dibotol itu," tanya Wasabi lagi sementara Nyonya Mayang sudah pucat dan terdiam.


"Apa-apaan kamu Mayang! Kamu ingin meracuniku?" ucap Tuan Paldo dengan nada marah


"Tidak! Ini tidak benar!" Mayang mengelak masih tidak mengakui


"Ini racun arsenik. Zat ini hampir tidak terdeteksi, sehingga sangat sering digunakan baik sebagai senjata pembunuhan.


Racun ini dapat dengan mudah menyatu dalam air, makanan dan sejenisnya. Dan juga tidak berbau," jelas Wasabi


"Benar tidak berbau racun ini," Tuan Paldo mencium aroma teh di tangannya


Praaang


Tuan Paldo melempar gelas teh tersebut dan mengenai lantai dekat di bawah kaki Nyonya Mayang.


"Ahh" Nyonya Mymayang meringis kesakitan karena terkena percikan teh yang masih panas


"Berani Kamu!" Tuan Paldo marah, tangannya sudah terangkat dan ia sudah ingin menampar istrinya itu


"Tunggu Tuan Paldo," sergah Wasabi


"Ada hal yang ingin saya sampaikan lagi. Dan mungkin akan membuat Anda lebih terkejut," timpalnya lagi