Detective Wasabi

Detective Wasabi
Obrolan



Setya sedang di rundung gelisah karena memikirkan persoalan kode. Ia berusaha memecahkan kode tetapi tetap saja tidak bisa, hanya dugaan dan dugaan saja.


"Aku tak yakin ini kode brangkas. Aku tak melihat ada brangkas disini, atau Alma menaruhnya di tempat lain?" terkanya


"Ahh besok ku tanyakan saja pada Wasabi. Dia pasti lelah," Setya pun menutup bukunya dan tidur.


.


.


.


Pagi harinya


Pria yang lama menduda, dan tidak berhubungan dengan wanita lain setelah perceraiannya dengan Alma itu, mencoba pergi ke dapur. Ia ingin memasak namun tidak menemukan apapun yang bisa di masak. Telur bahkan tidak tersedia dirumah Wasabi. Ada satu bungkus mie ramen dan itu sudah kadaluarsa.


Lantas ia pergi ke kamar Wasabi, mengintip anak semata wayangnya yang masih tertidur pulas di kamarnya.


"Dia benar-benar terlihat lelah. Apa lukanya sudah membaik?" pikir Setya dalam hatinya.


Ia pun menutup kembali pintu kamar Wasabi dan pergi keluar untuk membeli bahan makanan. Ia sempat berpikir, dari mana Wasabi hidup setelah kakek Hugo meninggal. Apakah anaknya bekerja paruh waktu? Ada banyak pertanyaan yang ingin sekali ia tahu.


Setya tahu Wasabi mungkin kecewa terhadapnya yang meninggalkan keluarga, meskipun alasannya untuk keluarganya sendiri. Tetapi bukankah keluarga itu harus selalu bersama, baik dan buruknya harusnya mereka hadapi bersama.


Sekarang, Wasabi sudah bersamanya, Setya tidak akan mengulang kesalahannya untuk kedua kalinya. Wasabi adalah buah cintanya dengan Alma. Dan Setya sangat menyayanginya.


Sekembalinya dari berbelanja, Setya langsung memasak nasi, dan ikan goreng tak lupa sambal yang di ulek bersama dengan terasi. Aroma ikan goreng dan sambal terasi yang menyengat pun tidak membuat Wasabi terbangun.


Setya juga tak ingin mengganggu jam hibernasinya. Akhirnya pria itu pun membiarkan Wasabi tetap tidur dan bergegas untuk bersih-bersih rumah.


Waktu terus berjalan, pagi berganti siang. Masih ada lauk ikan di atas meja makan yang tertutup oleh tudung saji. Setya menyisakan satu ikan serta sambal untuk Wasabi.


Ia pun memasak lagi, kali ini pria itu memasak mie ramen Ia juga menyiapkan tambahan toppingnya yaitu jamur, telur rebus, Horenso yaitu bayam Jepang, Chicken Katsu, Gyoza yaitu pangsit jepang dengan isian sayur dan daging, tempura udang dan yang terakhir adalah Kamaboko yaitu potongan kue ikan kukus. Memiliki desain spiral berwarna merah muda atau merah pada bagian atasnya. Sering disebut juga dengan Narutomaki.


Menyiapkan toppingnya membutuhkan waktu yang lama, meskipun semua bahan sudah siap saji tetapi Setya perlu mengkukus dan merebusnya terlebih dahulu.


"Apa itu mie ramen ku? Ku rasa itu sudah kadaluarsa," sahut Wasabi sembari menuruni anak tangga dan berbicara pada Setya yang sedang menyiapkan makanan di atas meja makan


"Tidak, ramen itu aku beli baru. Aku juga menambahkan banyak topping untuk kita makan nanti, ada tempura udang, chicken katsu dan lain sebagainya. Kau pasti suka dengan pilihan topingnya," ucap Setya sembari mengangkat panci panas untuk ditaruh di meja makan.


Wasabi melihat jam sudah pukul tiga sore dan dia belum makan apapun sedari pagi.


"Ayolah, Makan selagi hangat. Ada ikan goreng juga, aku memasaknya pagi tadi," ujar Setya seraya kembali ke dapur mengambil tempura dan chicken katsu di piring yang berbeda.


"Terimakasih. Wow sepertinya ini enak sekali," sahut Wasabi yang sudah duduk di meja makan


"Aku tak pernah bangun sesiang ini, punggungku masih terasa sakit dan itu membuat ku malas bangun," Wasabi mulai menaruh mie ramen di mangkuknya dan menambah topping di atasnya


"Enak sekali. Kapan-kapan ajari aku membuat ramen seenak ini. Aku suka ramen, kata Mama ini juga kesukaan papaku," ujar Wasabi


"Haha, ya, aku papamu, Aku suka ramen. Kalau Papa Ken dia tidak begitu menyukai masakan Jepang," sahut Setya


Astaga Aku masih belum percaya jika pria ini Ayah biologis ku. Benarkah dia Ayahku, kurasa dia benar karena papa Ken tidak terlalu lahap saat makan makanan Jepang, batin Wasabi memandangi Setya sambil mengunyah makanannya


"Setelah ini aku ingin tidur sampai besok. Jadi jangan ganggu aku. Katamu aku harus berhibernasi total. Aku menginginkan kekuatanku kembali. Setidaknya sampai aku tahu siapa pembunuh Mama," ujar Wasabi


"Oke, aku tak akan menganggu mu,"


"Ikan dan sambal ini juga enak," puji Wasabi yang juga mencicipi ikan itu.


"Terimakasih,"


"Aku yang seharusnya berterima kasih, karena sudah memasak ini semua. Hmmm sebenarnya kalau boleh memilih, aku ingin hidup normal tanpa memiliki kekuatan seperti itu," sahut Wasabi dan sedikit demi sedikit dia mulai mencurahkan isi hatinya


"lya kamu benar. Karena mempunyai kekuatan inilah, aku sampai mengorbankan kebersamaan ku dengan keluargaku,"


"Nasi sudah dimakan, dan jika di muntahkan bentuknya tidak akan pernah sama,"


"Seharusnya nasi sudah menjadi bubur, kamu tidak sopan membicarakan itu disaat kita makan,"


"Haha, tentara yang terlatih tidak akan jijik mendengar hal itu. Ku dengar mereka juga makan didepan orang yang buang air besar,"


"Tidak seperti itu juga, intinya kami tidak diijinkan untuk jijik terhadap apapun. Harus kuat mental,"


"Aku tidak tertarik menjadi tentara,"


"Ya itu pilihan nak, Aku rasa kamu memiliki bakat Ibumu,"


"Tidak juga, itu karena aku terobsesi ingin menemukan pelaku pembunuhnya. Sebenarnya aku ingin menjadi dokter, tapi biaya sekolahnya sangat mahal," ucap Wasabi yang telah menyelesaikan makannya


"Kalau begitu, pergilah kuliah jurusan dokter. Aku akan membiayai pendidikan mu," ujar Setya


"Sudah tidak minat. Oh, Kalau ada yang mencariku. Katakan aku sedang tak dirumah," ucap Wasabi.


Setelah makan mie ramen buatan Setya, Wasabi kembali ke kamar. Sementara Setya menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Wasabi yang tidak minat lagi. Sebenarnya Wasabi bukan tidak minat tapi memang dari awal dia tidak ingin.


Wasabi pun tidur dan beristirahat total hingga malam menjelang.