
Sore itu Wasabi mengantar Bav kembali pulang Bersama keluarganya. Tentu saja ada satu petugas dari kepolisian yang ditugaskan untuk berjaga disana.
Paman terimakasih, sebaiknya Kau pulang sekarang!" ucap Bav kemudian menutup pintu rumah dengan membantingnya
"Hey Bav itu tidak sopan!" Terdengar suara Valent berteriak dari dalam rumah. Kemudian Dia keluar menemui Wasabi.
Ceklek
Pintu di buka
"Wasabi maaf ya atas kelakuan Bav, terimakasih ya sudah menyelamatkan keponakanku dan mengantarnya pulang, " sahur Valent
"Ya sudah tugasku tak masalah,"
"Kau tidak bilang akan kemari sebelumnya.Kau hebat bisa menangkap penculik itu. Oh ya kapan persidangannya di mulai. Aku tak sabar ingin melihat nya di vonis mati,"
"Dia memang sudah mati. Dia bunuh diri, " jawab Wasabi singkat
"Hah, bunuh diri? Bagaimana bisa?"
"Maaf Valent tanyakan saja pada Inspektur Hendra, Aku buru-buru,"
"Oh oke, baik lah. Terimakasih sebelumnya. Oh ya Wasabi. Apakah Kau besok ada acara? Aku ingin mengajakmu ke pembukaan galeri lukisan itu,"
"Besok? Bukankah pembukaan itu malam ini?"
"Di undur karena menyesuaikan jadwal Walikota. Aku tak menyangka ternyata galeri lukisan itu juga dihadiri Pejabat-pejabat,"
"Jika pejabat dan walikota hadir, itu artinya acara itu akan berlangsung dengan megah,"
"Ya Kau betul. Bagaimana? Apakah Kau bersedia datang bersama ku?" tanya Valent
"Ya Aku akan datang, tapi dengan pacarku karena dia juga mengikuti pameran lukisan itu. Sudah dulu ya. Aku pamit," sahut Wasabi kemudian pergi jauh
"Hah pacar? Ku pikir mereka putus setelah kejadian kemarin," gumam Valent
Wasabi menuju ke tempat dimana Emi melihat penembakan itu. Dia menyusuri gudang kosong yang tempo hari di datanginya.
Berbeda kali ini, gudang itu terkunci rapat. Tapi tak menjadi penghambat Wasabi untuk memasukinya.
Kali ini dia membawa seekor anjing pelacak.Tak ada yang berbeda dari tempat ini.
Wasabi bersandar pada dinding sambil mengamati apakah ada jalan rahasia. Sepertinya tak ada jalan rahasia. Tempat ini lama tak berpenghuni tapi seperti ada yang kesini. Itu terlihat dari air keran kamar kecil ini. Ada sedikit tetesan air. Dan lantai yang sedikit basah. Itu artinya ada yang menggunakan kamar kecil itu.
Kemudian Wasabi mengamati pipa yang terhubung dari air kran. Ia juga melihat ada tombol pengaturan pipa pam dan sumur.
"Yang digunakan sekarang adalah saluran air Pam. Mungkin saja air di tangki itu kosong. Jika benar ada tangki air, seharusnya ada tangga untuk naik keatas. Di dalam sini tak ada atau kah diluar," gumam Wasabi
Wasabi lalu keluar mengelilingi tempat itu. Wasabi menggunakan kekuatan teleportasi dan kekuatan tak terlihatnya agar dia bisa menyelidiki tanpa ada orang yang tahu.
Kiri kanan gudang kosong itu terhimpit bangunan lain sehingga menutup jalan belakang. Untuk sampai kejalan belakang ini, melewati sisi bangunan yang kecil, yang hanya bisa dilewati oleh orang yang kurus dan itupun berjalan dengan posisi tubuh yang dimiringkan. Sehingga orang lain berfikir tidak ada jalan untuk ke belakang.
Kemungkinan bangunan di sampingnya adalah bangunan baru jadi tempat menuju bagian belakang sangat kecil
Dan benar saja, di bagian belakang gudang itu ada tangga. Sesampainya di atas. Wasabi melihat ada tangki air yang berukuran sedang. Jika dari depan tangki ini tak terlihat karena tertutup genteng yang tinggi. Juga ada tali dan sedikit bau anyir becampur bau busuk yang menyengat bak bau bangkai sapi.
"Tapi tak ada bercak darah. Mungkin sudah terhapus oleh hujan," pikir Wasabi.
Bau busuk ini bukan lah bangkai tikus, juga bukan bangkai sapi. Ini seperti bangkai manusia
Pandangan Wasabi tertuju pada tangki air berwarna orange berada di atas atap yang sudah di Cor. Dia pun segera membuka tutup tangki.
Tak lupa dia memakai sarung tangan dan menutup hidungnya dengan masker kain. Begitu tutup terbuka. Bau busuk semakin menguap-nguap. Meskipun Wasabi menutup hidungnya dengan masker, tetap saja bau itu menyengat hingga membuatnya mual.
Ternyata tangki air itu tak kosong, tetapi ada seperempat air didalamnya.
Kemudian ia beranjak pergi untuk mengatur napasnya. Lalu menambah kain penutup sebagai masker dan kembali lagi ke atas tangki air
Wasabi segera menyenter bagian dalam terlihat ada sesuatu mengambang dan terpotong-potong.
"Astaga! Ini potongan tubuh manusia!" pekik Wasabi lalu segera menghubungi polisi.
Dia tak mengenal jasad yang sudah membengkak dan membiru itu.
Tak berapa lama. Polisi datang bersama dengan ambulans, disusul Inspektur Hendra dibelakangnya. Garis polisi pun terpasang.
"Kerja bagus Wasabi. Aneh. Polisi sudah mencarinya tapi tak ketemu,"
"Bukan tak ketemu, mungkin tak terpikirkan akan berada disana, dan juga sedikit susah untuk jalan ke tempat itu. Tak ada orang yang mengira jalan kecil itu. Bahkan bisa di katakan itu bukan lah jalan karena sempitnya," ujar Wasabi
"Dan sekarang Polisi pun kesusahan mengambil jasad itu. Wasabi bisa kah Kau membantu mereka membawa jasad itu kemari menggunakan kekuatanmu. Maaf aku tak bermaksud memanfaatkan kekuatanmu," ucap Inspektur Hendea
"Tak apa Inspektur. Hitung-hitung aku membantu kakekku sendiri," sahut Wasabi
"Kakek? Aku tak setua itu,"
"Sill akan menikah dengan Ayahku itu artinya Kau akan menjadi Kakek ku. haha," kekeh Wasabi kemudian pergi membantu tim lain sebelum Inspektur Hendra memukulnya
"Hah sangat lucu" gumam Inspektur Hendra
Wasabi membantu menurunkan jasad itu ke bawah dengan tandu yang bertutup dengan resleting
Orang sekitar berkumpul dan menutup hidung mereka saat jasad dimasukkan ke dalam mobil ambulans.
Beberapa jam kemudian.
Di kantor polisi
"Bagaimana apakah jasad itu sudah teridentifikasi?" tanya Wasabi
Inspektur Hendra menutup wajahnya dan kemudian memijat keningnya. Kali ini para polisi berhadapan dengan bapak Walikota
"Orang yang di bunuh dengan sadis itu adalah anak Walikota yang dikabarkan menghilang," ucap Inspektur Hendra
"Hah sudah ku duga," ucap Wasabi
"Tolong jangan diekpsos berita ini. Walikota tak ingin warganya merasa terancam nantinya," sahut Inspektur Hendra
Kemudian pergj keluar ruangan dan mengumpulkan semua polisi untuk Instruksi dadakan.
"Siapkan barisan. Instruksi untuk semua satuan," teriak Bai.
Tak berapa lama, semua sudah berbaris rapi di hadapan Inspektur Hendra. Ia pun mengatakan untuk menutup berita masalah terkait anak Walikota secara rapat.
"Jangan ada berita kebocoran soal kasus ditemukannya jasad anak Walikota. Malam ini kita akan kedatangan rombongan keluarga dari Walikota, Di rumah sakit kepolisian.Kalian amankan jalanan," sahut Inspektur Hendra menunjuk beberapa satuan polisi
"Lalu kalian berjaga di luar rumah sakit mencegah wartawan masuk," perintahnya lagi seraga menunjuk beberapa satuan lainnya
"Dan kalian kawal Walikota. Ingat jangan sampai ada wartawan yang mengekspos. Apakah kalian paham!" teriak Inspektur Hendra
Semua serentak menjawab, "Siap komandan!"
"Bagus! Laksanakan tugas kalian. Instruksi selesai. Bubar jalan!" pekik Hendra lantang
Semuanya pun bubar dari barisan dan segera melaksanakan tugasnya.
Wasabi duduk berfikir menyatukan semua benang kusut yang terjadi.
Kenapa di antara semua yang terbunuh. Hanya Billy yang berakhir dengan sadis. batin Wasabi