Detective Wasabi

Detective Wasabi
New Normal



Keesokan Paginya


Wasabi ke kampus dengan motornya. Dia terlambat dan tidak bisa memakai kekuatannya seperti yang biasa dia lakukan sebelumnya. Meskipun sudah tidur panjang, pria itu tetap saja tidak bisa menggunakan teleportasinya.


Di kelas, Wasabi langsung dikerumuni teman wanita. Mereka menyapa Wasabi dan berbicara ini itu. Tanggapan Wasabi pun biasa saja. Menjawab jika di tanya.


"Hai Wasabi tak biasanya kamu terlambat," sapa Dhifa


"Iya, Aku kecapekan habis pulang dari Bali,"


"Oh.. Tapi untunglah dosennya juga belum datang," jawab Dhifa


"Eh Wasabi, dari kemarin Joy nyariin kamu terus tuh," ucap Rara


"Dia nyariin aku, ada apa?" tanya Wasabi


"Ya karena dia kangen kamu lah," sahut Dhifa sedikit cemburu


"Haha halah Diva juga kangen tuh....," timpal Rara


Wasabi hanya diam, tidak senyum tidak tertawa karena apa yang lucu? Tidak ada.


Tak berapa lama pak Dosen datang bersama mahasiswa baru. Sangat cantik hingga membuat Wasabi yang cuek menjadi terpesona.


"Maaf saya datang terlambat. Ada mahasiswi baru, silahkan perkenalkan dirimu," ucap Dosen itu, ia bernama Tetsuya. Katanya sih blasteran Jepang. Tetapi sebagian anak-anak tidak yakin karena kulitnya yang sedikit hitam


"Hai.. Nama Saya Naomi. Saya berasal dari Bali. Salam kenal,"


"Salam kenal juga" ucap beberapa mahasiswa dengan serentak.


"Naomi duduklah di bangku kosong dekat Wasabi," perintah pak Dosen


Dosen yang aneh, aku kan tidak tahu siapa wasabi. Batin Naomi berbicara dalam hati


Naomi pun mencari bangku yang kosong dan berjalan kesana. Saat Naomi duduk tepat dibelakangnya. Jantung Wasabi berdegup kencang.


Jantungku kenapa? Bukan serangan jantung kan? batin Wasabi


Apakah aku sedang jatuh cinta. Sial... Aku tak boleh jatuh cinta. Masih jauh dan belum saatnya. Gumam Wasabi dalam hati.


Pelajaran pun di mulai. Tiga jam kemudian mata pelajaran telah usai


Wasabi ke kantin menemui Emi dan Andi. Andi sedang menyantap kuah baksonya. Wasabi langsung duduk dan mengatakan misi yang harus mereka selidiki.


Misi menyelidiki seseorang yang bernama Shi, karena itu berkaitan dengan Almarhumah Ibunya.


"Kalian selesai kuliah jam berapa. Kita ada misi lagi, kita akan menyelidiki seseorang yang bernama Shi," ujar Wasabi


"Uhuk..uhuk.." Andi tersedak kuah bakso dan dia pun langsung minum untuk menetralkan. Tetapi dari gelagatnya sepertinya ada yang ingin Andi katakan pada Wasabi


"Maaf Wasabi, sementara ini aku tidak bisa membantu mu," ucap Andi


"Kenapa Andi. Ayolah kita harus membantunya," kata Emi


"Tidak Emi. Aku tidak ingin membahayakan diriku. Melihat kejadian kemarin. Aku juga tidak mengijinkanmu terlibat. Aku sudah putuskan aku tidak bisa bekerjasama denganmu lagi," sahut Andi


Ada apa dengannya, kenapa dia tidak ingin membantu Wasabi lagi?


"Tapi Andi aku membutuhkanmu dan Emi," ucap Wasabi


"Mungkin Aku bisa membantumu dari jauh dengan meminjamkan peralatanku. Tapi aku tidak ingin terlibat di dalamnya. Dan Emi aku mohon turuti aku. Wasabi, kalau kamu butuh akses untuk melihat cctv atau kamera mini. Aku siap membantu dari jauh, hanya aku takut terlibat permasalahan yang mengancam diriku," ungkap Andi


"Kalau Andi sudah berkata begitu, Aku juga minta maaf Wasabi. Aku harus menuruti Andi," ucap Emi pasrah


"Baiklah kalau itu keputusan kalian. Aku berterimakasih karena kalian masih ingin membantu ku," ucap Wasabi


Andi pun meminta maaf sekali lagi. Hari yang berat terdengar. Sahabatnya tak bisa bekerjasama dengannya lagi. Padahal mereka partner yang komplit


Kini Wasabi sendiri tanpa partner. Tanpa kekuatan teleportasi dan kekuatan menghilangkan wujud


New Normal


Sore harinya, selepas kuliah Wasabi langsung pergi ke kantor Mamanya. Rupanya ada seorang penjaga disana.



"Siapa kamu?" tanya pria penjaga itu. Kelihatannya dia yang merawat rumah itu karena ia sedang memegang sapu saat membukakan pintu.


"Maaf, Saya Wasabi. Anak dari Detective Ken dan Detective Alma," Wasabi memperkenalkan dirinya


"Benarkah? Bukankah mereka tidak mempunyai anak?" tanya pria itu


Lantas Wasabi berpikir, jadi benar dia bukanlah anak dari Papa Ken. Tak ingin ambil pusing Wasabi pun menjawab.


"Saya bukan anak kandung Pak Ken tetapi Anak dari suaminya Bu Alma yang terdahulu," jelas Wasabi


"Saya juga tidak tahu mereka punya anak atau tidak. Jadi, kalau memang benar kamu anaknya, tempelkan sidik jarimu ke alat deteksi yang menempel di pintu itu," pinta penjaga itu dan menunjukkan alat canggih yang tertempel di dekat pintu utama.




COMPLETED FINGER PRINT SCANNING


Kemudian pintu pun terbuka. Wasabi terkejut bagaimana bisa dia masuk.


"Tak diragukan lagi kamu anaknya. Detective Alma pernah memasukkan sidik jarimu kedalamnya. Ayo Masuk. Apa yang kamu cari?" tanya penjaga itu


"Aku ingin mencari data tentang seseorang lewat berkas-berkas yang pernah Mamaku miliki," ucap Wasabi


"Semua berkas itu kosong. Aku tidak tahu dia menyimpannya dimana. Sehari sebelum kematiannya aku disuruh mengambil cuti libur. Dan keesokannya saat aku masuk. Rumah yang dia jadikan kantor ini semuanya bersih tanpal kertas dan buku yang tertinggal. Tak kusangka saat itu juga Detektif Alma dan Detektif Ken meninggal bunuh diri," ungkap Pria penjaga itu


"Oh ya kita belum berkenalan. Siapa namamu?" tanya Wasabi


"Aku Martis penjaga rumah ini. Setelah Detektif Ken meninggal, Aku masih bekerja disini karena Aku telah dibayar oleh seseorang tanpa nama untuk menjaga rumah ini," ucap Martis


Namanya mirip karakter tokoh di mobile legend tetapi namanya lebih keren dia, tidak seperti ku batin Wasabi


"Siapa dia yang membayarmu? Seperti apa wajahnya?" tanya Wasabi lagi


"Aku tidak pernah bertemu dengannya, kami berkomunikasi lewat ponsel dan dia selalu berganti nomer," kata Martis


Siapa dia yang membayar Martis? Ayah? atau Tuan Paldo?ucapnya dalam hati


"Bolehkah Aku melihat ke dalam?"


"Oh silahkan,"


Wasabi masuk, ruangan itu memiliki desain rumah khas Jepang. Ia mencermati seluruh ruangan. Ada ruangan di lantai atas.


Ruangan apa yang ada di lantai atas?" tanya Wasabi


"Hanya ruangan tertutup. Biasanya tempat rapat atau berbicara dengan tamu penting, Mari kuantar keatas,"


Nuansa Jepang sekali. Karena tidak menemukan apapun dilantai atas wasabi pun turun ke bawah dan melihat halaman belakang. Benar-benar kosong, seperti yang Martis bilang tidak ada berkas apapun selain lukisan dan perabotan.




Visual ruangan atas.



Visual taman belakang.


"Taman ini bagus sekali," Wasabi terkagum


"Detektif Ken menyebut halaman belakang ini dengan sebutan Taman Wasabi. Karena batunya pun hijau serta mereka menanam tumbuhan Wasabi disana," jelas Martis


"Wow, menarik. Aku lebih menyukai rumah ini dibanding rumahku. Aku betah bila berlama-lama disini," desis Wasabi


"Jika Anda ingin tinggal disini silahkan. Dan jika butuh bantuan, saya siap membantu. Ini nomer telephone saya,"


Wasabi mengernyitkan dahinya, pria ini langsung menawarkan diri untuk membantu?Pria yang baik atau memang ada niat terselubung dibalik itu. Wasabi pun tak ingin ambil pusing. Setelah itu Wasabi pun pamit pulang.


Namun, saat Wasabi hendak keluar, dia melihat sebuah lukisan yang menarik perhatiannya. Lukisan yang bagus. Tertulis nama Alma di ujung bawah pertanda pembuatnya adalah Ibunya. Wasabi pun tertarik dan ingin membawanya pulang.


"Bolehkah Saya membawa pulang lukisan ini?"


"Lukisan itu telah menempel di dinding ini. Dan juga Nyonya Alma pernah berpesan apapun yang terjadi lukisan ini jangan di pindahkan. Maaf, saya hanya menuruti kemauannya saja," sahut Martis


"Benar mungkin karena ini adalah lukisan yang Mama buat sendiri makanya dia tidak ingin di pindahkan. Terimakasih karena telah menjaganya," ucap Wasabi


Wasabi kemudian pulang. Saat keluar dari pintu rupanya sore sudah berganti malam. Ditambah gerimis disertai angin kencang. Ia pun menitipkan motornya di rumah itu dan memilih naik bus malam.


Masih rintik-rintik dan Wasabi berjalan dengan langkah besar. Saat perjalanan menuju jalan raya. Wasabi bertemu Naomi di pertengahan jalan.


Deg...Deg...


Jantungnya kembali berdebar. Naomi lebih cantik dari wanita yang pernah dilihatnya. Kini wanita itu sedang berbicara dengan kucing di tengah jalan.


Kesempatan Wasabi untuk berpura-pura tidak melihat Naomi dan berjalan dengan tergesa-gesa.


"Hey... Wasabi," panggil Naomi yang rupanya ia tahu keberadaan Wasabi


Tetapi Wasabi terus berjalan tanpa menoleh.


"Wasabi tunggu...," teriak Naomi


Naomi mengejar langkah besar Wasabi. Mau tak mau Wasabi mengalah. Dia pun berhenti dan berbalik


"Ya," ucap Wasabi


"Kamu sengaja ya berpaling dariku?"


"Maaf, Aku sedang terburu-buru,"


"Hujan dan kamu tidak memakai payung. Pulang bersama yuk. Rumahku dekat dari sini," ucap Naomi yang langsung memayungi Wasabi. Mereka berada di dalam satu payung yang sama


"Maaf lain kali saja. Aku permisi," tolak Wasabi


Tetapi langkah Wasabi terhenti, Naomi menarik tangannya.


"Ku mohon temani aku. Jalan pulang di dekat rumahku sangat gelap. Karena lampu penerangan belum diperbaiki," pinta Naomi dengan lemah lembut


"Baiklah. Hanya mengantar mu saja,"


Wasabi pun berjalan berdua dengan Naomi didalam satu payung. Hening tanpa obrolan. Seharusnya Wasabi berjalan lurus untuk menuju jalan raya, tetapi dia berbelok untuk mengantar Naomi pulang menelusuri gang-gang kecil


"Wasabi, Aku merasa dingin. Kita berhenti sebentar membeli minuman hangat di pojok sana yuk," pinta Naomi


"Ok, memangnya kamu mau minum apa?" tanya Wasabi


"Kopi hangat,"


Sesampainya disana, Wasabi memesankan satu kopi hangat untuk Naomi. Sementara dirinya tidak, bukan tidak suka tapi tidak ingin. Lalu mereka melanjutkan perjalanannya lagi dengan berjalan kaki.


Suasana yang Romantis tapi Wasabi sangat canggung.


"Hemm kamu kenapa tadi seperti ingin lari saat berpapasan dengan ku? Apa kamu sengaja karena tidak ingin bertemu denganku?" tanya Naomi


"Iya," jawab Wasabi singkat


"Astaga kamu melukai hatiku Wasabi," Naomi pun langsung bersedih dan mengeluarkan air mata.


Dalam sekejap Wasabi langsung berpikir, apakah semua perempuan selemah ini? Ribet dan cengeng, pikirnya


"Naomi ...jangan menangis..Maafkan aku. Kalau nangis nanti cantiknya hilang loh..," ucap Wasabi berusaha menenangkan wanita. Dia kan gak pernah dekat sama perempuan lain


"Hiks...Hiks..,"


Astaga belum berhenti juga nangisnya... pikir Wasabi dalam hati


Wasabi lalu menyentuh pipi Naomi dan mengusap air matanya.


"Maaf Naomi. Aku menghindarimu bukan karena aku membencimu. Tetapi Aku... Aku takut mencintai mu," ucap Wasabi blak-blakan atau terlalu polos


"Apa...?!"


Duh gawat remnya blong. Nasi telah menjadi bubur. Wasabi tak sadar apa yang dia ucapkan. Ingin rasanya dia menghilang dari kejadian itu. Kalau saja kekuatannya kembali mungkin dia sudah menghilang sedari tadi.


Tanpa terasa mereka sudah tiba didepan rumah Naomi. Wasabi pun langsung pamit pulang sebelum gerimis semakin deras,. Tetapi Naomi malah bertanya hal yang belum Wasabi jelaskan


"Wasabi... Soal tadi, kamu takut mencintaiku? Apa benar?" tanya Naomi


"Bukan apa-apa kok, aku asal bicara saja biar kamu berhenti nangis," jelas Wasabi


"Oh begitu," Naomi lalu membuka pintu gerbang. Wasabi yang berada di belakangnya pun ingin menghilang dengan langkah besar karena malu.


"Kita masuk dulu yuk....," ucap Naomi tetapi Wasabi telah pergi dalam sekejap.


"Loh Wasabi... Wasabi... tadi dia ada di belakangku. Kenapa sekarang tidak ada. Kemana dia pergi. Cepat sekali dia pergi," ucap Naomi sambil melihat kiri kanan


"Naomi...Kamu mencari siapa nak," sahut Ayahnya Naomi yang tak lain adalah Presdir Kiyoshi


"Ayah... Naomi tadi diantar pulang sama teman Naomi, tetapi dia sudah pergi duluan. Padahal mau ku kenalkan Ayah," ucap Naomi


"Oh ya, Siapa namanya?" tanya Pak Kiyoshi


"Wasabi,"


"Haha... kalau itu Ayah kenal. Dia kan yang menemukan pencuri uang dan berkas-berkas di brangkas Ayah. Juga kasus kepala yang terpenggal di kampus,"


"Jadi dia orangnya. Hebat sekali," puji Naomi


"Kenapa kamu naksir ya? hehe," goda sang Ayah


Naomi pun tertawa kecil karena malu, setelah itu mereka masuk tak lupa menutup pintu gerbangnya kembali