Detective Wasabi

Detective Wasabi
Terungkapnya Kebohongan



Di kediaman Paldo. Pria keturunan Jepang itu duduk santai sambil tersenyum penuh kemenangan, padahal baru saja dia menghilangkan satu nyawa. Dimana rasa kemanusiaannya?


Paldo menunggu asistennya yang dari kemarin belum pulang, berharap jika asistennya tidak salah jalan karena setelah kejadian penembakan kemarin Chaky tidak dapat dihubungi.


Paldo yang tadinya berencana akan tinggal beberapa hari di Jakarta, namun diurungkan karena mendadak ia harus mengurus bisnisnya. Malam itu pun Paldo menyalakan rokoknya dengan uang yang dibakar.



"Dari mana saja kamu," tanya Paldo pada Chaky saat asistennya itu baru masuk ke dalam rumah


"Maaf Tuan Paldo. Ada banyak yang harus saya urus untuk kematian Profesor Han kemarin. Saya baru pulang sekarang karena Saya kehabisan tiket pesawat," jelas Chaky


"Nanti aku akan ganti biaya pesawat mu. Maaf kalau Aku meninggalkanmu. Karena saking senangnya aku melupakan dirimu haha. Lalu apakah kamu menemukan sesuatu disana?" tanya Paldo


"Tidak Tuan Paldo. Saya tidak mengetahui apapun," ucap Chaky


"Huh belajar berbohong dari mana kamu? Pertanyaanku menemukan. Bukan mengetahui. Cepat beritahu aku. Atau kau ingin nasibmu seperti Prof. Han?" ujar Paldo yang menatapnya sinis.


Mereka berada di dalam satu ruangan yang sesak karena di penuhi asap dari uang yang di bakar.


"Gawat," Chaky berbicara dalam hati


"Saya menemukan sepatu wanita dirumah itu. Padahal Prof. Han sudah bertahun-tahun duda, jadi saya berkata tidak mengetahui apapun soal sepatu itu kenapa masih ada disana," jelas Chaky yg berkelit dengan ucapannya sendiri. Padahal ada hal lain yang Chaky ketahui soal foto yang ada di saku Prof. Han.


"Hah kalau soal itu saya sudah tahu. Dia tidak ingin membuang barang-barang milik istrinya. Sama sepertiku. Yasudah. Kau boleh pergi," perintah Paldo


"Oh ya, Hampir lupa. Besok buatkan saya janji makan siang dengan pengacara Rianti," timpalnya


"Baik Tuan, Akan saya masukkan jadwal. Ada lagi Tuan?"


"Tidak itu saja, pergilah,"


"Saya permisi,"


Fiuh.. Untunglah. Aku menjadi ragu dengan Tuan Paldo. Apakah dia orang baik ataukah jahat batin Chaky sambil berjalan keluar ruang santai Tuan Paldo


***


Di kediaman Emy.


"Sudah malam, pulanglah Andi, Aku mau istirahat," sahut Emi


"Aku belum mau pulang, aku masih ingin disini," ujar Andi yang masih bermain game di sofa ruang tamu


"Yasudah kalau begitu kamu sendirian saja di sini. Aku mau masuk," Emi beranjak dan melangkah pergi ke kamarnya


Andi Sudirman meletakkan ponselnya dan menarik tangan Emi


"Hey, sayang ada apa denganmu? Tidak biasanya kamu mengusirku?" tanya Andi


"Aku hanya lelah,"


"Tidak, Aku perhatikan sedari tadi, pikiranmu tak ada disini," ungkap Andi yang menyuruh Emi untuk duduk kembali, Emi pun duduk dengan wajah malas


"Apa kau memikirkan Wasabi?" terka Andi


"Jujur saja Andi, aku tak bisa membiarkan dia melakukan penyelidikan itu sendirian,"


"Alasanku sudah bulat. Emi sayang, Aku hanya ingin keselamatan mu," desis Andi


"Hiks...," Emi tiba-tiba menangis.


"Aku tidak kuat menahan kebohongan itu. Andi... Aku merasa bersalah. Sampai sekar....," ucapan Emi terputus karena Andi menyelanya


"Cukup. Jangan membahasnya lagi. Bukankah kita sudah sepakat?" sahut Andi


"Maka dari itu biarlah kita membantu Wasabi. Ku mohon,"


"Aku terus dihantui rasa bersalah. Hiks..."


"Kematian Orang tuanya bukanlah kesalahan kita," kata Andi


"Tetapi Kita yang sudah menukar jadwal piket dan menyuruh teman lainnya untuk pulang. Dan kalau saja kita tidak menukar jadwal piket, mengurung dan menguncinya di kamar mandi itu. Mungkin ...hiks Mungkin... Mungkin dia bisa saja mencegah terjadinya pembunuhan itu Andi," ucap Emi


"Apa...!" Wasabi datang tepat di depan pintu rumah Emi yang terbuka.


Bak hantu yang datang tiba-tiba tanpa suara dan jejak kaki. Wasabi mendengar apa yang di ungkapkan Emi


"Hah Wasabi,"


"Jadi benar dugaanku... orang yang mengunciku di kamar mandi sekolah itu kamu!... Andi Sudirman!?" selidik Wasabi


"Wasabi, Maaf tapi aku hanya," ucap Andi


"Diam...!" pekik Wasabi yang marah


"Dan yang membuat aku sangat kecewa adalah orang yang ikut membantumu adalah Emi, hah Daebak!" ujar Wasabi


"Seseorang yang selalu aku idolakan?" Seketika pandangan rasa kagumnya pada Emi luntur dan hancur berkeping-keping.


"Hiks... Wasabi.. Maafkan Aku. Maafkan kita," ucap Emi seraya menyentuh pergelangan tangan Wasabi untuk meminta maaf


Tetapi Wasabi menepisnya.


"Aku senang mendengarnya. Sekarang aku tahu siapa teman yang busuk," ucap Wasabi


"Kita hanya bercanda Wasabi. Dan kita juga tidak tahu kalau saat kejadian itu orang tuamu dalam bahaya," aku Andi


"Masalah itu kamu anggap bercanda..?Pikir pakai otak jangan pakai dengkul," Wasabi menyentuh kepalanya dengan telunjuknya dengan membelalakkan mata, meluapkan kekesalannya


"Mulai sekarang, anggap saja aku orang asing!" ujar Wasabi lalu pergi meninggalkan Andi dan Emi.


"Wasabi Aku minta maaf," Emi mengejar Wasabi dan meraih lengannya lagi


Wasabi menepisnya pelan seraya berbalik dan berkata


"Aku lupa mengatakan satu hal. Terimakasih. Berkat kalian aku bisa menyadari bahwa aku memiliki kekuatan,"


Kemudian muncul energi yang sedikit bercahaya dari dalam tubuhnya dan dalam sekejap Wasabi menghilang dengan kekuatan transportasinya


Whusss..


Kebohongan yang lama tersimpan telah tercium dan membuat persahabatan mereka diujung keretakan.


Emi makin menangis dibuatnya


"Sudahlah jangan menangis. Lihat akibatnya, karena ucapanmu Wasabi jadi tahu dan sekarang dia benar-benar marah," gerutu Andi


"Kamu menyalahkanku? Bukankah kamu yang memiliki ide itu?" ucap Emi


"Aku memang yang memiliki ide itu, tetapi kamu juga menyetujuinya kan?"


"Ya aku bodoh saat itu. Dan kini aku menyesal. Hiks...," Emi masih sesegukan


"Berhentilah menangis seperti anak kecil. Aku lelah mendengarnya," desis Andi


"Kita harus memperbaiki hubungan kita dengan Wasabi,"


"Wasabi wasabi terus yang ada dipikiran mu. Atau kamu mencintai dia?" terka Andi


Emi tak bisa bicara. Dia sendiri tidak tahu apakah dia mempunyai perasaan khusus atau tidak. Yang dia rasakan hanyalah perasaan bersalah yang tersimpan bertahun-tahun lamanya. Dia masih menangis menyesali perbuatannya.