Detective Wasabi

Detective Wasabi
Kekuatan Misteri



Malam itu, masih dengan suasana pilu. Hujan menyelimuti kesedihan mereka.


Polisi datang memaksa bangun Naomi yang terduduk menyesali perbuatannya. Tapi Naomi semakin memberatkan tubuhnya. Tak ada jalan lain selain menyeret Naomi menuju mobil polisi, sebelum dia kabur.


Joy menangis dan menjatuhkan air matanya tepat di luka peluru yang ada di bagian dada Wasabi.


Seketika luka yang berlubang karena peluru dan penuh darah itu mengeluarkan asap dan mengepul kental berwarna hitam.


Joy menjadi panik ketika melihat asap hitam yang menyelimuti bagian dada Wasabi. Kemudian peluru terangkat dan melebur hilang bersamaan dengan hilangnya asap hitam yang tersiram air hujan.


"Apa itu?" gumam Joy seraya menyeka air matanya


Andi geram pada polisi-polisi disana yang tidak bertindak melainkan hanya menonton. Kalau saja kakinya tidak patah, mungkin dia akan ikut membantu Wasabi.


Andi menghubungi ambulans terdekat untuk segera datang. Ia lantas mendekati Wasabj dibawah guturan air hujan dengan kedua tongkat penyangga. Ia pun sama seperti Joy yang keterangan melihat asap hitam yang muncul lalu menghilang


"Apakah asap hitam itu berbahaya. Coba lihat luka tembaknya," sahut Andi menyuruh Joy


Joy kemudian membuka kancing baju Wasabi. Untuk melihat ada apa dengan asap itu. Dan kenapa asap hitam itu menyelimuti luka tembaknya.


Ketika Joy membukanya, terlihat muncul sebuah cahaya berwarna biru dalam hitungan detik, luka yang berlubang itu tertutup.


Joy, Emi dan beberapa orang yang mengerubungi Wasabi terperangah terkejut.


"Apakah itu kekuatan Wasabi. Aku tak pernah melihatnya. Dia sungguh manusia super," ucap Emi


"Bukankah kekuatan penyembuh Wasabi hanya menyembuhkan demam saja?" tanya Joy


"Aku pernah melihat Wasabi mengeluarkan racun dari dalam tubuh orang lain. Tapi kekuatannya belum begitu sempurna, terkadang hilang dan muncul di saat dia dalam keadaan emosi. Tapi biksu Washi juga mengatakan bahwa keadaan emosi yang teramat besar juga dapat membahayakan dirinya,"


Inspektur Hendra melambai dari jauh dan menyuruh mereka serta polisi yang ada disana untuk membawa Wasabi masuk ke dalam.


Ia hanya bisa melihat mereka dari kejauhan karena dirinya pun ikut terluka akibat penyerangan melawan Naomi.


Tak berapa lama beberapa polisi ikut mengangkat Wasabi ke dalam gallery dan membaringkannya di kursi panjang yang terbuat dari kayu. Khun membuka jasnya dan melipatnya beberapa kali untuk bantalan kepala Wasabi.


"Aneh, luka tembaknya menghilang sendiri. Tapi Dia masih belum sadarkan diri," gumam Miss Wyy setelah mendengar cerita dari Joy


"Disini tak ada handuk, kalian bisa pakai kain ini sementara," ucap Khun memberikan sebuah kain kepada mereka yang basah terkena hujan.


Yang pasti bukan kain lap atau taplak ya


Sambil menyerahkan kain bersih berbahan beludru, biasanya digunakan untuk menutupi lukisan. Namun yang diberikan adalah yang terbaru. Meskipun tak bisa menyerap air. Setidaknya bisa mengeringkan sedikit tubuh mereka.


"Aku minta kanebo saja, ada tidak? Itu lebih cepat mengeringkan air," ucap Andi nyeleneh ditengah ketegangan


Emi menyenggol lengannya dengan sikut pertanyaan bukan waktunya bercanda.


Valent mengambil minyak aroma kayu putih dari dalam Tasnya.


"Ini Minyak kayu putih, siapa tahu dia bisa sadar saat mencium aromanya," ucap Valent sambil memberikannya di bagian hidung Wasabi. Dan menggosokkannya di belakang telinga, kaki dan telapak tangan.


"Bagaimana dia, apakah baik-baik saja? Sebentar lagi ambulans datang," ucap pak Walikota


"Denyut nadinya normal, bisakah aku meminta air putih hangat," pinta Joy


"Oh sebentar," ucap Miss Wyy kemudian meminta karyawannya untuk mengambilkan air putih hangat


Setelah itu Joy mengangkat kepalanya dan segera menegukkannya ke mulut Wasabi. Tetapi Wasabi tak sadarkan diri juga.


"Aku rasa, Dia butuh sentuhan untuk membuat tubuhnya kembali. Cobalah Kau cium dia Joy," ucap Andi


"Dia tidak sedang tenggelam Andi," celetuk Joy


"Kalau Joy tak mau, biar aku saja yang cium," ucap Valent. Semua mata memandang Valent dengan tatapan berbeda-beda dan dengan disertai bathin yang berbeda.


"Mau jadi pelakor rupanya," batin Miss Wyy


"Rupanya tante Val menyukai om itu. Tenang saja aku akan membantu mu tante," batin Bahwa yang mendukung tantenya


"Tak akan ku biar kan Kau merebut Wasabiku," batin Joy


"Oke aku akan melakukannya, Tapi jika itu tak berhasil?"


"Mungkin saja cinta sejatinya bukan untuk mu tapi untukku hehe," ucal Andi nyeleneh lagi


"Sayang," sahut Emi menatap tajam Andi dan memberi isyarat jangan bercanda.


Joy berlutut di samping Wasabi, tangan kirinya memegang tangan kiri Wasabi dan tangan kanannya membelai rambut Wasabi dan dia mulai mengecup bibirnya.


Satu detik, dua detik, tiga detik.


Ketika Joy melepasnya kecupannya.


Tangan kanan Wasabi bergerak perlahan dan menyentuh kepala Joy dan membuat Joy kembali mengecupnya.


Wasabi membuka matanya, rupanya sedari tadi sudah sadar.


"Apakah ini Surga," gumam Wasabi


"Ehemmm, ya itu surgamu di dunia, kita hanya ngontrak," sahut Andi


"Syukurlah Wasabi sadar," gumam Miss Wyy


Joy melepaskan kecupannya karena malu dilihat semua orang. Semua senang karena Wasabi melewati masa kritis ya.


Dia dapat menyembuhkan lukanya sendiri. Tidak perlu dokter. Semua orang pun membubarkan diri dan beberapanya pulang.


Wasabi beranjak duduk. Tubuhnya masih lemas, dan kepalanya terasa pening. Mobil Ambulans datang.


"Ambulans selalu datangnya lama. Hemmm," gerutu Andi


"Wasabi minum lah lagi. Kau tertembak dan kehilangan banyak darah tadi," sahut Joy sambil menegukkan air ke mulut Wasabi


Wasabi minum dan sambil meraba dadanya yang masih terasa panas dan sesak.


"Aneh, kenapa tak ada luka," tanya Wasabi


"Tadi ada asap hitam yang mengepul didadamu dan sepertinya menarik keluar peluru itu. Lalu hilang dan kemudian muncul cahaya biru di dadamu," ucap Emi


"Benar, tapi seketika cahaya itu hilang dan luka mu tertutup," timpal Andi


Wasabi berfikir, jika dia tak dapat terluka. Apakah dia akan menjadi abadi. Dan bagaimana jika dia tak dapat menua. Bagaimana cara menghilang kan kekuatan yang dimilikinya.


Aku harus berkonsultasi dengan biksu Washi. Aku tak ingin seperti ini, tidak normal, batin Wasabi


"Apa yang Kau fikirkan," tanya Joy


"Hemm Aku berfikir, sebaiknya kita menikah minggu ini,"


"Apa!? "


"Kenapa? Kau tak mau?" tanya Wasabi


"Kalau Joy tak mau aku bersedia menikah denganmu Wasabi. Haaha," Andi membuat gurauan lagi dan membuat semua orang tertawa di buatnya


"Andi...!" protes Emi


"Kau normal kan Andi?" sahut Wasabi


"Haha normal lah, Aku hanya bercanda,"