
Malam harinya setelah berganti pakaian kering, Wasabi duduk di kamarnya dan menghubungi nomer telepon pemilik rumah yang disewakan dekat dengan rumah Nyonya Mayang.
Tak disangka pemiliknya adalah teman SMA-nya dahulu, yang sekarang tinggal di Bali. Malam itu pun, mereka bertemu di kedai kopi.
Visual Lyn
Visual Wasabi saat bertemu Lyn
(Nggak Nemu versi real)
Pukul 23:00
"Kamu Wasabi? Astaga, kamu banyak berubah," ucap Lyn
"Jadi tampan kan?" sahut Wasabi
"Ya. Tapi lebih tampan Aku. Haha," Lyn kemudian merangkul Wasabi dan menuntunnya masuk ke dalam Cafe
"Terserah kamu lah," jawab Wasabi.
Wasabi lama tinggal di Bali hingga lulus SMP. Dia tinggal sebatang kara setelah ditinggalkan oleh kakek Hugo saat itu Wasabi duduk dikelas dua SMP.
Untung saja Wasabi adalah murid berprestasi, sehingga dia tidak perlu membayar uang sekolah, malah ia mendapat sisa uang dari beasiswa tersebut. Sisanya ia pergunakan untuk kebutuhan hidup.
Sebelum meninggal Kakek Hugo menjual rumahnya, lalu mereka pindah dan menyewa rumah. Kakek Hugo membayarnya lunas hingga tiga tahun ke depan.
Saat kelas duabelas (Kelas tiga SMA), masa kontrak rumah habisnya Wasabi pun pindah ke Jakarta. Dia menempati rumah Mamanya yang dulu. Rumah yang menyimpan kenangan buruk.
Dia berteman baik dengan Lyn di SMA Jakarta. Setelah lulus SMA, Lyn pindah ke Bali.
"Kenapa kamu ga netap di Bali aja?" tanya Lyn
"Biaya hidupnya lebih tinggi disini Lyn," jawab Wasabi
"Jakarta juga sama, dan malah cari uang di Bali itu gampang," ujar Lyn
"Aku juga punya alasan lain kembali ke Jakarta. Aku ingin mengungkap kasus kematian orang tua ku. Beruntungnya saat ini aku dipercaya menjadi detektif," cerita Wasabi
"Hmm aku turut berduka ya, Kamu benar. Kamulah yang harus membuktikan kebenaran. Seperti orang tuamu, kamu memiliki bakat menjadi detektif, penerusnya?" tanya Lyn
"Ya, terimakasih. Tapi baru saja aku menjalankan misi yang kedua selama aku jadi detektif. Mereka sudah mengincar ku,"
"Maksud mu?"
"Sore tadi. Genk mafia sempat menculik teman ku, tapi terselamatkan. Lalu aku datang ke tempat mafia tersebut, dan sialnya aku tertangkap. Aku sempat tertembak di dada. Setelah itu aku tak sadarkan diri," ungkap Wasabi dan Lyn mendengarkan dengan seksama
"Begitu sadar, aku berada di dalam kapsul besar, aquarium besar dan banyak peralatan medis yang terpasang di tubuhku. Aku tak tahu dia siapa. Tapi, jika dia ingin kekuatanku. Kenapa luka ku di sembuhkannya?" tanya Wasabi
Lyn tahu soal rahasia kekuatan Wasabi begitu juga dengan Wasabi yang tahu semua rahasia tentang sahabatnya itu.
"Mungkin saja dia menyembuhkan mu karena menginginkan kekuatan mu. Jadi jika kamu dalam keadaan yang benar-benar baik maka kekuatan itu akan berproses 100 persen. Tetapi, jika ada luka di dalam tubuhmu. Bisa saja hasilnya tidak sebaik jika lukamu sembuh," Duga Lyn
"Bisa jadi, kenapa aku tak terpikirkan kesana,"
"Mungkin kamu lelah, jadi tujuan mu bertemu dengan ku cuma untuk membicarakan ini? Aku kira ini soal rumah," ucap Lyn
"Haaha... Oke baiklah mari bicarakan soal rumahmu itu," ucap Wasabi
"Oke nanti akan ku tunjukkan isi rumah itu. Sudah ada perabotannya. Tinggal di tempati saja. Tempat itu sudah bersih. Seminggu tiga kali aku bersih kan. Kamu hanya perlu membersihkannya sedikit," ucap Lyn
"Berapa biaya menginap 6 hari ini?" tanya Wasabi
"Kalau untuk 6 hari, gratis sajalah. Kita teman bukan?" ucap Lyn yang tidak ingin dibayar. Dia tahu bagaimana ekonomi Wasabi yang tinggal mandiri sendirian.
"Serius? Ah terimakasih ya, Kamu memang paling keren Lyn," puji Wasabi
"So pasti bro, tapi motormu lebih keren," sahut Lyn
"Itu motor sewaan," ucap Wasabi.
"Pantas saja plat nomernya dari Bali,"
"Gak mungkin banget aku naik motor dari Jakarta ke mari. Mending aku teleportasi Lyn gratis,"
Hahaha
Dan mereka pun tertawa.
Lyn mengajak Wasabi ke rumahnya yang berada di seberang rumah Nyonya Mayang. Lebih tepatnya di bagian belakang.
Rumah Nyonya Mayang terlihat dari arah belakang. Lokasi yang tepat untuk menyelidiki rumah tersebut
Wasabi tak menyangka kalau temannya, memiliki rumah di tempat itu. Tempat rumah elite yang bisa dibilang bukan rumah biasa melainkan sebuah Mansion
"Ini kuncinya. Kalau butuh sesuatu katakan saja," ucap Lyn
"Ok. Sekali lagi terimakasih,"
Lyn pergi meninggalkan Wasabi karena sudah larut malam. Wasabi masih di situ. Membersihkan sedikit debunya. Sehingga besok bisa langsung ditempati.
Ke esokannya
Hotel yang telah di pakai Wasabi, di tawarkan ke dua orang Turis, dengan harga murah. Si Turis mengambil tawaran itu. Dan membayar Wasabi. Ide brilian Wasabi yang tak mau rugi, malah untung. Karena yang membayar penuh di depan adalah Nyonya Mayang.
Wasabi dan dua temannya segera berkemas. Dan pindah ke Mansion. Kini Andi dan Emi tepat berdiri di depan. Mansion milik Lyn
"Kita yakin tinggal disini sampai misi selesai," tanya Emi terpukau di depan halaman rumah tersebut. Lalu ia pun masuk sambil membawa tasnya
"Ya... Kita harus segera bergegas. Kita sudah membuang waktu sehari. Setelah ini aku pergi," ucap Wasabi ikut masuk lalu meletakkan tasnya di ruang tamu.
"Kamu mau kemana?" tanya Andi
"Kamu lupa? Kerjaan ku merangkup Bodyguard Nyonya Mayang juga," ucap Wasabi mengingatkan
"Oh iya, hati-hati ya bro. Aku cuma bisa memantau lewat kamera," jawab Andi
"Oh ya Wasabi aku lupa bilang padamu. Semalam, saat Tn. Paldo dan istrinya sudah tidur. Ada seorang pembantu yang masuk ke kamar mereka. Dia terlihat masih muda, sekitar 30 menit dia berada di dalam. Lalu saat keluar dia terlihat mencurigakan," ucap Emi
"Nanti aku selidik dia. Bagaimana cirinya dia?" tanya Wasabi
"Dia langsing, berdada montok, berkulit putih. Rambut sebawah bahu dan dikucir kuda. Seingatku itu, Maaf jika aku sedikit lupa," ucap Emi
"Oke. Terimakasih Emi. Aku pergi dulu, jaga diri kalian," sahut Wasabi terburu-buru
"Siap," sahut Emi dan Andi berbarengan.
"Emi kamu terus pantau apa yang kamera itu tampilkan di layar. Sementara itu Aku ingin merancang alat yang lebih canggih lagi," ujar Andi