
Wasabi melemaskan semua tenaganya dan berpura-pura mati, dia menahan nafasnya sedalam mungkin menunggu kesempatan begitu musuh mulai lengah.
"Huh kau mati secepat itu. Tak kusangka," sahut pria bertubuh tinggi.
Kemudian melepaskan Wasabi dan berbalik pergi meninggalkan kamar mandi. Sementara Wasabi senang musuhnya gampang dikibuli. Begitu dirasa sudah aman, Wasabi mengangkat kepalanya dan mengatur nafasnya.
Musuhnya yang ternyata masih berdiri di depan pintu pun melihat Wasabi yang ternyata menipunya, dia kembali menghampiri Wasabi.
Wasabi menggunakan otaknya. Orang yang didepan matanya sangatlah kuat, dia tidak mempan terhadap pukulan dan serangan Wasabi. Wasabi bisa saja menggunakan jurus totok syarafnya, tapi saat dia melihat model sepatu yang dikenakan musuhnya. Ia pun memiliki ide lain
Wasabi langsung mengambil sabun cair dan menyemprotkan semua sabunnya ke seluruh lantai kamar mandi. Saat si musuh berlari mendekatinya, pria itu terpeleset karena sabun yang membuat lantai licin
Gedebuuk
Si musuh jatuh terpeleset, tubuh dan kepalanya terpelanting ke belakang mengenai lantai keramik kamar mandi.
Hewan yang berada di pundaknya terbang lalu menghilang. Si musuh kesusahan untuk beranjak bangun. Lantai itu licin di penuhi dengan sabun. Begitu dia mampu berdiri tegak, Wasabi menghilang dan muncul dari atas tubuh pria itu dengan melayangkan kakinya untuk menendang
Debak..Debuuk....
Wasabi menendang tiga kali dada si musuh kemudian dari arah samping ditendang pula kepalanya, hingga si musuh kembali jatuh tergelincir. Si musuh bertubi-tubi mendapatkan serangan balik dari Wasabi.
Tak sampai disitu, Wasabi mengambil handuk yang menutupi bagian kem4luannya dan membentuk gulungan handuk dengan kedua sisi tangannya, kemudian dia melilitkannya ke leher si musuh dan menariknya sekuat tenaga. Si musuh kesakitan, dia hampir tak bisa bernafas.
Tangan si musuh berkali-kali memukul lantai dan mengangkat tangannya tanda ia menyerah.
"A-ampun...stoop!"
Wasabi tetap tak melepaskannya. Si musuh pun mengambil sabun yang berada di lantai itu dan menyipratkannya ke muka Wasabi hingga terkena matanya.
"Aargh...! Sial!"
Wasabi tetap tak melepaskannya, handuk itu masih dia lilitkan di leher musuh sambil menahan perih dengan mata terpejam.
"Wasabi, apa kamu tidak apa-apa!"
Sementara si musuh mengambil udara, dia mengatur nafasnya hingga kembali normal.
"Kakek," sahut Wasabi
"Aku mengunjungimu karena aku rindu, sesampai disini Aku mendengarmu berteriak. Dan langsung mencari sumber suara, lalu menemukanmu disini, bersamanya, siapa dia?" Tanya Hugo
Wasabi tak perlu mengulang pertanyaan yang sama dengan kakek Hugo, dia menjambak rambut si musuh sambil berkata.
"Katakan!"
"Aku Blue, Bastian Luise..., sebut saja Blue," jawabnya dengan menahan sakit
"Justru Aku yang harusnya bertanya padamu!" ujar Blue, sementara Wasabi menaikan satu alisnya tanda bingung
"Kenapa Kamu tega memperkosa Adikku?! Adel, Dia hilang lusa lalu. Lalu aku mendapatkan kabar bahwa kamu menculik dan memperkosanya! Sekarang dimana dia!" seru Blue dengan nada tinggi dan penuh amarah
"Apa! Siapa yang mengatakan hal gila itu. Aku detektif, aku bahkan sedang mencari tahu tentang keberadaan adikmu itu,"
Wasabi lalu mengambil borgol, mengaitkan tangan Blue ke bawah saluran wastafel di kamar mandi.
"Kamu diamlah disini, aku akan berurusan denganmu setelah urusanku selesai,"
Setelah itu Wasabi turun kebawah dengan kekuatannya agar menghemat waktunya.
"Kakek Hugo, kamu ingin disini menjaga orang itu atau pulang?" tanya Wasabi
"Aku ada urusan dan harus pergi," ucap Wasabi sambil memakai baju dan mempersiapkan semua senjatanya di balik baju dan celananya.
"Baiklah aku akan pulang saja, maaf mengganggumu. Hati-hati ya Wasabi," sahut Hugo kemudian pamit pulang. Ia pergi dengan perasaan kesal
"Hemm sikapmu sungguh membuatku curiga," pikir Wasabi membatin
Setelah siap, Wasabi kemudian pergi ke sebuah Lounge yang ada di Batam. Meninggalkan pria yang menyerangnya tadi.