
Di rumah sakit.
Setya sibuk dengan berkas-berkasnya, sementara Sill ikut lelah melihat Setya yang masih saja sibuk bekerja
"Paman, sepertinya Kau sibuk sekali. Dari Siang hingga malam. Kau masih saja fokus dengan berkas-berkas dan tablet Mu," tanya Sill pada Setya
"Beginilah Sill pekerjaanku semenjak Aku keluar dari pemerintahan. Aku mulai berbisnis dan ketika bisnisku lancar, Aku semakin harus giat untuk membuka peluang peluang yang ada, " jawab Setya tidak menatap Sill melainkan matanya terus fokus pada lembaran kertas di hadapannya
"Aku bisa memantau pekerjaan itu dimana saja tanpa harus ketempat kerja, " tampaknya lagi
"Ya paman terlalu sibuk dengan pekerjaan, hingga mengesampingkan perasaan hati, " ujar Sill
"Siapa bilang Aku tak pakai hati. Justru berbisnis itu harus pakai hati. Jika setengah-setengah. Maka hasilnya pun tak akan maksimal," ujar Setya tak mau kalah
"Ah sudahlah. Paman, Sill tidur duluan ya. Tolong jangan tinggalkan Sill di ruangan ini sendirian," ucap Sill
"Haha, iya tidurlah. Akan ku matikan lampunya," sahut Setya
"Terimakasih, " jawab Sill
Baru pukul delapan malam, Sill sudah merasakan kantuk. Efek dari obat yang dia minum. Sedangkan Setya masih sibuk dengan pekerjaannya.
Beberapa jam kemudian. Setya tertidur di sofa penunggu pasien, dengan kertas dan tablet yang masih berserakan dan belum tersimpan.
Sill terbangun karena pemeriksaan rutin di malam hari yang dilakukan oleh suster shift malam. Melihat Setya yang tertidur pulas Dia tak ingin membangunkannya. Dia pun meminta suster untuk mengantarnya ke kamar kecil untuk buang air besar.
"Nona Sill jika sudah selesai nanti, tolong panggil saja saya. Saya menunggu di luar pintu kamar kecil," ucap Suster
"Sepertinya Saya bisa berjalan dengan bantuan tongkat penyanggah," ucap Sill
"Oh baiklah kalau begitu nanti akan saya ambilkan, "
"Nanti taruh depan pintu saja ya Sus. Terimakasih, "
Suster Niken lalu mengambil tongkat siku untuk Sill berjalan nanti dan meletakkannya di samping pintu kamar kecil. Setelah selesai, Sill keluar dengan bantuan tongkat. Kakinya sudah tidak bengkak dan rasa sakitnya berkurang.
Dia melihat Setya yang tertidur pulas dan mengambil selimut di ranjangnya lalu ia pun menyelimuti Setya.
Saat itu ponsel yang berada di sampingnya menyala karena sebuah pesan. Layar ponsel terbuka dan terlihat wallpaper yang terpasang di ponsel Setya. Foto pernikahannya dengan Istrinya dahulu, Alma.
Ternyata Dia benar-benar belum bisa melupakan mantan istrinya. Mimpi saja Aku, selamanya tak akan bisa menggantikan keberadaan Nyonya Alma di hatinya, batin Sill dengan air mata yang keluar secara perlahan.
Semakin lama Air mata itu semakin deras mengalir. Ada perasaan pupus di hatinya. Dia lalu mencabut infus yang terpasang di tangannya dan keluar ruangan diam-diam.
Astaga kenapa aku cengeng sekali, batin Sill
Suster penjaga masih keliling ke ruangan pasien lainnya. Tidak ada yang menjaga di bagian depan. Sill keluar ruang perawatan dengan mudahnya. Disusurinya lorong rumah sakit yang terasa dingin. Ditambah suara derasnya hujan malam saat itu. Membuat kebisingan di sekitar lorong
Bruk.
Sill menabrak seorang perawat pria yang berbadan besar. Pria itu menatapnya tajam. Sill tak berani menatapnya dan langsung berkata sambil menunduk.
"Oh maaf saya tak sengaja. Pria itu hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Sill,"
Sill melanjutkan langkahnya dan pergi keluar rumah sakit menuju taman depan meskipun hujan terus menghantam tubuhnya.
***
Di waktu yang bersamaan. Semua perawat, suster dan dokter jaga saat itu habis terbunuh. Mayat mereka bergelimpangan di jalan lorong rumah sakit. Banyak darah yang mengalir, sedangkan pembunuhnya berhasil kabur dengan membawa salah seorang pasien anak kecil.
"Rasakan Hahaha..." ucap seseorang yang yang menggunakan masker penutup wajah
"Selamat tinggal semoga tenang kalian disana!" lanjutnya lagi
***
Suara telephone membangunkan Setya saat itu.
"Hoammm. Aku ketiduran, siapa malam-malam begini yang telephone," Sahut Setya sembari meraih ponselnya.
"Nomer tak dikenal, Jam 2 pagi, huh hanya orang iseng yang mengganggu tidur," gumamnya lantas Setya melihat ranjang pasien yang kosong, tak ada Sill.
"Mana Sill? Kemana Dia??" Setya pun beranjak dan mengetuk pintu kamar kecil
"Sill, apa kau didalam?" seru Setya
Setya menunggu jawaban dari dalam kamar kecil. Tapi hening tak ada suara apapun, bahkan suara air mengalir pun tak ada,
Setya membuka pintu yang ternyata tidak terkunci.
Brak...
"Kosong...kemana Sill," Setya mulai panik
Setya keluar kamar dan dilihatnya tak ada suster penjaga satu pun. Dia lalu keluar menuju lorong belakang mencari Sill. Tapi yang Dia lihat malah semua suster, perawat dan Dokter sudah tergeletak penuh darah.
"Astaga.. Apa ini!?" tanya Setya
"Sill..." Setya semakin panik saat melihat banyak perawat dan dokter jaga yang tergeletak penuh darah di sepanjang lorong .
Setya berlari mencari Sill ke depan rumah sakit sambil menghubungi kantor polisi dan Wasabi.
Dia juga mencari satpam yang berjaga di depan pintu, tetapi tak ada yang berjaga di depan pintu ruang perawatan
Sesampainya didepan rumah sakit. Satpam yang berjaga didepan rumah sakit tertidur pulas. Setya lalu membangunkannya dan memberikan kabar menghebohkan.
"Hey bangun! Lihatlah di ruang Flamboyan semua perawat pria, suster dan dokter habis terbunuh," Seru Setya melaporkan
"Astaga Aku ketiduran. Bagaimana bisa terjadi. Apa kau melihatnya?" tanya Satpam
"Aku tidak tahu, sebaiknya kau periksa dan hubungi polisi atau sebaiknya tangani dahulu, mana tahu ada yang masih selamat," ucap Setya
Setelah itu si satpam berterimakasih dan segera menghubungi rekannya
"Anda sudah lapor polisi?" tanya ssatpam laki-laki yang bernama Izuna
"Sudah tapi tak ada yang menjawab. Kau hubungi kembali. Aku sedang mencari seorang pasien. Dia keluar dari kamarnya, apa Kau melihatnya?"
"Apakah dia seorang perempuan? Tadi hujan deras, ada seorang perempuan menuju taman itu. Aku memanggilnya tapi tak dia hiraukan. Aku tak tahu kalau dia pasien," ucap Izuna
Setelah itu Setya meminjam payung dan mencari Sill. Tak berapa lama Satpam Izuna dihampiri oleh kedua temannya yang berjaga di lantai atas.
Wasabi akhirnya mengangkat ponselnya, Setya dengan panik menceritakan keadaan yang terjadi di rumah sakit dan menyuruhnya segera ke lokasi
"Aku sudah menghubungi kantor polisi tapi tak ada jawaban,"
"Kasus lagi?! Oke Ayah, Aku akan mencoba menghubungi Inspektur Hendra. Ayah fokus mencari Sill, tapi Ayah baik-baik saja kan?" tanya Wasabi
"Ya Aku baik-baik saja. Ya sudah Ku tutup dulu teleponnya,"
Telephone di tutup, semua karyawan rumah sakit ikut panik terutama Setya. Ia terus berjalan ke arah taman, mengedarkan pandangannya ke sekeliling taman.
Lalu Setya melihat Sill berdiri di tengah taman dengan wajah menghadap keatas dan memejamkan matanya.
"Sill, Apa yang kau lakukan disana! Kau bisa sakit. Ayo kembali ke kamarmu!" teriak Setya dari kejauhan
Suara Setya tertiup hujan yang disertai angin. Sill menoleh, ia masih bisa mendengar suara Setya
"Aku sudah sakit. Sakitnya tuh disini," jawab Sill sambil menangis dan memukul dada nya pelan
"Aku sudah bilang kan? jangan baik pada ku!" timpal Sill
"Sudahlah nanti saja kita bicarakan di kamar. Sekarang kembali masuk dan ganti pakaianmu," ucap Setya menghampiri Sill
"Aku...Kepalaku pusing,"
Pandangan Sill bergoyang-goyang dan kabur, kemudian berubah menjadi gelap dan pingsan di pelukan Setya.
Setya membawa Sill kembali masuk kedalam. Sesampainya di ruang perawatan. Suster dari ruangan lain membantu menggantikan pakaian Sill yang basah.
Tak berapa lama Satpam Izuna memanggil Setya untuk ikut dengannya ke ruang keamanan.
"Oh baik, tapi tunggu sebentar, saya ganti baju kering dulu,"
Tak berapa lama Wasabi dan Inspektur Hendra datang bersamaan lewat teleportasi.
Cling
"Hah kalian siapa?" Izuna terkejut
"Oh Pak Satpam. Saya Inspektur Hendra. Dan ini ruangan dimana anak saya dirawat," ucap Hendra sambil menunjukkan tanda pengenal kepolisian
"Saya Detective Wasabi," sahut Wasabi
"Baguslah. Kebetulan ada kalian. Setelah ini kalian juga ikut bersama kami. Ada sesuatu yang ingin Saya perlihatkan," ucap Satpam Izuna selalu ketua satpam
Inspektur Hendra lalu melihat Sill yang sudah berganti pakaian kering dan sedang dipasangkan infus. Setya keluar dari kamar kecil dan sudah berganti pakaian.
"Kenapa dengan Sill? Kenapa dengan infusnya? Apakah ada masalah?"
"Huff Anakmu berulah. Kau temanilah Dia disini! Dia sedang sakit dan butuh kasih sayang mu," ucap Setya
"Maaf Setya, Aku bukannya tak mau. Kau tahu sendirikan, pembunuhan sedang marak terjadi dan itu terjadi di lokasi dimana Aku yang harus bertanggung jawab menanganinya," sahut Inspektur Hendra
"Hemm Kita bicarakan itu nanti, sekarang kita
ikuti dulu satpam itu," ucap Inspektur Hendra
"Oke, sekarang kita ke depan," sahut Setya
Tapi sebelum Setya melangkah keluar. Ia berpesan kepada suster disana untuk menjaga Sill sebentar karena kondisi di rumah sakit sendiri tidak aman. Suster itu pun menyanggupinya
"Sepertinya ada yang mulai perhatian hehe," goda Inspektur Hendra
"Huh itu karena Kau tak peduli padanya. Lalu siapa lagi?" sahut Setya
"Sudahlah jangan diperpanjang. Biarkan Sill istirahat. Ayo kita keluar, kita sudah ditunggu didepan," sela Wasabi
Mereka bertiga akhirnya keluar dan mengikuti ajakan Satpam Izuna untuk membahas masalah yang baru saja terjadi.
Untuk menuju ruang kontrol keamanan begitu canggih, tapi masalah keamanan mereka masih standar. Kenapa Satpam ini juga mengajak Ayah? apa hubungannya dengan Ayah, atau dengan Sill? Apakah ayah menjadi saksi mata? batin Wasabi
Lorong Menuju Ruang Keamanan