
Dr. Mia dalam perjalanan ke rumah sakit. Hari ini ada jadwal praktek dari pagi hingga malam. Namun, sejak ia keluar dari kafe hingga di pertengahan jalan, Dr. Mia merasa ada seseorang yang membuntuti dirinya
"Seperti ada yang membuntuti ku," gumamnya sendiri di dalam mobil sembari melihat di belakang mobil, lewat spion tengah.
Dr. Mia lalu menghubungi ponsel Wasabi, tetapi tidak ada jawaban. Akhirnya dia menghubungi polisi setempat.
"Hallo Saya Yani, petugas kepolisian disini ada yang bisa di banting, maksud saya, di bantu," ucap petugas polisi wanita itu
"Saya Dr.Mia, Saya sedang perjalanan ke rumah sakit XX, tetapi saya merasa dibuntuti oleh seseorang. Bisakah Anda mengawal perjalanan Saya ke rumah sakit?" pinta Dr. Mia
"Baik, terimakasih atas laporannya. Sekarang sebutkan nomer polisi Anda dan beritahukan kepada kami lokasi Anda saat ini. Sambil menunggu kedatangan kami, lebih baik Anda berjalan di tempat keramaian," ucap Yani
"Sebentar lagi saya akan melewati sebuah Mall dan kantor asuransi. Nomer mobil saya B 80 M,"
"Oke, beberapa meter dari situ ada pos polisi. Berhentilah disitu saya akan menghubungi rekan saya, dan dia akan mengawal Anda," titah Yani
"Baik, terimakasih,"
Dr. Mia lalu mengikuti petunjuk arahan yang diberikan polwan itu. Ia berhenti di depan pos polisi. Namun, Dr. Mia tidak berani keluar, tak berapa lama seorang polisi menghampirinya,"
"Permisi. Saya Bai polisi yang berpatroli hari ini. Apakah benar Anda Dr. Mia yang melaporkan butuh kawalan polisi?"
'lya, benar. Ada yang membuntuti saya, saya merasa tidak aman. Tolong bantu saya pak Polisi Bai,"
"Dengan senang hati. Mari ikuti saya," jawab Bai
Klotak...
Bai menjatuhkan kunci motornya ke dalam mobil milik Dr. Mia. Kunci itu memiliki gantungan kunci berbentuk seperti bom, sehingga sangat mudah ditemukan.
"Oh maaf saya menjatuhkan kunci saya," sahut Bai yang langsung memasukkan kepalanya ke jendela, hendak mengambil kunci tersebut
"Hmm, akan saya bantu ambilkan," ucap Dr. Mia
Tak berapa lama, keluar asap dari gantungan kunci itu. Semakin lama asap itu tebal dan baunya menyengat. Polisi Bai melihat Dr.Mia setengah pusing, lantas ia segera membuka pintu lalu menutup kaca jendela dengan gerakan cepat. Beberapa detik kemudian, Dr. Mia pingsan karena menghirup asap itu.
"Ikan sudah terpancing, saatnya eksekusi," ucap Bai
"Hahaha... Kerja yang bagus," puji seseorang dari balik telepon.
Barang yang Wasabi berikan kepada Dr. Mia. Diambil polisi Bai dan di tukar. Kemudian Dr. Mia diantar ke rumah sakit dengan posisi duduk dan kepala ditidurkan di meja pantry khusus dokter.
Beberapa menit kemudian Dr. Mia tersadar. Dia pun bingung karena saat terakhir dia sadar adalah saat dia berada perjalanan tepatnya di depan pos polisi lalu lintas.
Kemudian ada seorang OB berkerudung biru sedang membuatkan kopi panas. Dr. Mia pun bertanya kepada OB berkerudung biru itu.
"Mbak, maaf sudah berapa lama saya tertidur disini ya? Apakah tadi saya kesini di kawal seorang polisi?" tanya Dr. Mia
"Saya tidak tahu awal keberangkatan Dr.Mia, yang saya tahu Dokter merasa pusing dan diantar seorang suster kemari. Setelah itu Dr.Mia tertidur lama. Maaf Dokter saya ingin mengantarkan minuman ini untuk Dokter lainnya," pamit si OB berkerudung biru
"Oh ya silahkan. Terimakasih informasinya,"
Mungkin aku kelelahan. Hemm Aku tertidur satu jam. Astaga kasihan pasien ku. batin Dr.Mia
Saat perjalanan menuju ruang prakteknya, Dr. Mia teringat akan tas miliknya. Ia pun kembali lagi ke pantry, namun tas itu tidak ada disana. Setelah itu Dr. Mia mencoba mencarinya di ruangan prakteknya.
Ada banyak pasien yang menunggu di luar ruang prakteknya. Dr. Mia melihat papan nama di depan pintu dengan nama Dokter yang lain. Ia digantikan sementara oleh Dr. Pram. Kemudian ia masuk begitu saja namun sambil tersenyum kepada suster dan dokter penggantinya.
Dr. Pram sedang memeriksa pasien di ranjang tempat tidur. Sementara itu Dr. Mia meminta ijin untuk mengambil tasnya.
"Maaf Dokter, Sus...Saya ingin mengambil tas Saya," ucap Dr.Mia
Setelah diperbolehkan ia pun berlari kecil dan sedikit membungkukkan badan dan segera membuka laci besar dibawah meja. Segera ia mengambil lalu melihat isi tasnya.
"Syukurlah masih aman," gumam Dr.Mia
Suster menghampirinya dan mengatakan jika setelah ini Dr. Mia bisa kembali bekerja. Ia pun duduk di meja suster sembari menunggu rekannya memeriksa pasien.
Setelah memeriksa dan memberikan obat, Dr. Pram yang menjadi Dokter pengganti itu, langsung keluar tanpa berkata apapun. Pria itu masih menyimpan luka dan sedikit malu karena Dr.Mia menolak cintanya.