
Jesslyn dan Wasabi berhadapan. Ditemani Nyonya Noura yang duduk disamping Wasabi. Mereka duduk di ruang tengah dengan suasana yang hening.
Nyonya Noura membuka percakapan, "Jesslyn," panggilnya
"Ya Nyonya," sahut Jesslyn dengan nada takut, ia kembali menundukkan kepala sambil memainkan kedua jari di atas pangkuannya
"Apakah Kau punya masalah? " tanya Noura
"Tidak Nyonya, Saya tidak punya masalah" jawab Jesslyn cepat
"Itu artinya Kau sedang memiliki masalah," sela Wasabi
"Masalah apa? Saya benar tidak memiliki masalah," ucap Jesslyn sambil mengangkat kepalanya
"Kau menjawabnya dengan begitu cepat. Itu artinya Kau memiliki masalah," sahut Wasabi
"Tidak Tuan, Saya hanya kelelahan saja seharian ini," sahut Jesslyn
"Kau menemui seseorang dihari pertama Kau kerja, Siapa Dia?" tanya Wasabi padahal dia hanya mengarang.
"Ah Tuan, Saya tidak menemui siapapun selain kerabat dari Nyonya Noura dan Tuan Samy," sahut Jesslyn
"Kau tertangkap kamera CCTV, saat Kau menemui seseorang dan itu terjadi sebelum Nona Joy merasakan sakit," Wasabi sengaja membual, Dia juga sebenarnya belum melihat rekaman CCTV itu, namun nalurinya berkata bahwa Jesslyn terlibat dalam rencana pembunuhan itu.
"Ah...Ya benar Saya hampir lupa. Saya menemui seorang teman. Dia membawakan Saya beberapa vitamin karena saat itu Saya mengeluh kelelahan," ucap Jesslyn makin ketakutan sementara Wasabi tersenyum
"Boleh ku lihat obatnya?" tanya Wasabi
"Bagaimana ini?" ucap Jesslyn dalam hati, "Ah iya sebentar," ia beranjak berdiri meninggalkan Wasabi dan Nyonya Noura kemudian berlari kecil menuju kamarnya.
Sesampainya dikamar, Dia menukar wadah obat itu kedalam wadah vitamin. Begitu Jesslyn selesai melakukan penukaran, dia berbalik dan bertubrukan dengan sebuah badan yang tinggi dan kekar di dalam kamarnya itu. Jesslyn takut jika Wasabi melihatnya saat menukar obat
"Aduh.. Tuan Wasabi, " ucap Jesslyn terkejut.
"Kau tahu aku kan jika aku marah seperti apa?" Wasabi menakuti pembantu itu
Ia menatap tajam Jesslyn. Jesslyn ketakutan sendiri. Akhirnya tanpa sebuah pertanyaan Dia langsung mengakui nya sambil berlutut dihadapan Wasabi
"Ampun....ampun, Saya akan menjelaskan semuanya,"
Jesslyn mulai menunduk dan mengakuinya.
Di kamar Jesslyn, ia duduk di ranjang sementara Noura duduk di meja rias, sedangkan Wasabi berdiri sambil berpangku tangan
"Pagi kemarin Saya diantar oleh majikan Ibu Saya kemari. Setelah itu Saya mulai bekerja. Sedangkan Nyonya Noura pergi ke kantornya. Nona Joy belum bangun keluar kamarnya sedari pagi. Ketika Saya masuk Nona Joy sudah menggigil karena demam. Saya pun mencari obat penurun panas tapi obat itu sudah habis. Saya bergegas ke Apotik siang itu. Sepulang dari Apotik Saya langsung meminumkannya obat penurun panas. Setelah itu Saya pergi ke dapur untuk memasak," cerita Jesslyn
"Saat Saya membuang sampah keluar. Ada seorang penjualan obat-obatan herbal. Saya pun membelinya karena mengingat Siang itu Nona Joy belum juga reda demamnya. Tapi yang terjadi, Dial menodongkan pistol yang di sembunyikan di dalam tas obat herbalnya. Awalnya saya tidak percaya tapi dia menembak bawah pagar dinding itu. Tak ada suara tembakan tapi peluru itu membuat sebuah lubang di dinding," ungkap Jesslyn
"Lalu Dia menyuruhmu memberikan obat itu ke Nona Joy?" terka Wasabi
"Iya, Dia memberiku ini," ucap Jesslyn sambil mengambil obat sebenarnya yang tadi sempat ia tukar.
"Lalu?" tanya Noura tak sabaran
"Namun malam harinya. Dia menelepon memastikan apakah Saya sudah memberikannya. Karena Dia belum juga mendengar kabar kematian," ucap Jesslyn berhenti sejenak untuk mengambil napas
"Saya marah dan tidak mau memberikannya tapi Dia mengancam akan menyandera Ibu dan mencelakainya. Tapi jika Saya melakukannya itu berarti Saya benar-benar seorang pembunuh. Saya pun memberikannya sebuah racikan sup gingseng dengan takaran yang banyak. Dan sedikit racun yang mematikan fungsi atau organ sementara. Sehingga terlihat mati dengan alami. Saya bermaksud memberitahukan ini sebelum Nona Joy dibawa ke tempat kubur. Tapi Tuan Wasabi datang dan menghebohkan semuanya. Saya semakin panik dan takut,"
"Jadi kau membuat racikan obat sendiri, bukan racun darinya?" tanya Noura
"Benar, jika saya memberikan racun dari orang tersebut makan nona Joy bisa mati secara langsunb,"
"Kenapa Kau tak bilang sedang diancam. Hukum bisa melindungimu," ucap Wasabi
"Memangnya keluarga ini tak dapat melindungi Mu? sehingga Kau membuat Joy menderita. Jika saja Dokter Lee tak segera mengobatinya. Dia akan benar-benar mati," sahut Noura geram
"Maafkan saya Nyonya, saya pernah kecewa dengan aparat hukum sehingga saya juga sulit mempercayai keamanan saya,"
"Apa kau tahu siapa namanya?" tanya Wasabi
"Dia mengatakan namanya Willie,"
"Barchie Willie," Tebak Nyonya Noura
"Apa Nyonya mengenalnya?" tanya Wasabi
"Wasabi panggil Aku Mommy,"
"Maaf, Aku sedikit tidak terbiasa," sahut Wasabi
Haha, Kau ini. Barchie adalah Ayah Ray. Anaknya Ray Willie, orang yang ingin mencelakai Joy," ujar Noura
"Ayah Ray? Bukan kah Dia sendiri yang memutuskan hubungan? Kenapa dia dendam dengan Joy?" tanya Wasabi
"Mungkin Dia masih tidak rela karena Anaknya Ku masukan ke penjara," sahut Noura
"Tapi sepertinya ada keganjalan disini. Bukankah Barchie juga ikut mengantarkan anaknya sendiri ke penjara. Dia juga tidak membela anaknya, jika dia membela anaknya sudah pasti dia meminta hukuman ringan,"
"Tapi bisa saja kan dia memerankan sebuah drama. Hati orang siapa yang tahu Wasabi," sahut Noura
'Mom, Aku akan mengumpulkan bukti lain sebelum memutuskan seorang tersangka," sahut Wasabi
"Baiklah, lakukanlah Wasabi. Jika butuh bantuanku katakanlah,"
"Iya Mom," ucap Wasabi
"Jesslyn, apakah mereka sudah melepaskan Ibumu?" tanya Wasabi
"Iya, Dia sudah melepaskan. Ibu Ku," jawab Jesslyn
Jika itu benar Barchie, kita juga akan memainkan drama untuknya, batin Wasabi