Detective Wasabi

Detective Wasabi
Pengintrogasian



"Sudah Ku katakan tadi! Apa Kau tidak dengar!" seru Mami


"Ya Aku dengar tapi Aku bertanya pada bodyguardmu! Bukan padamu!" pekik Inspektur Hendra tak mau kalah


"Cih sama saja. Dia bekerja padaku dan Aku bertanggung jawab padanya," keluh Mami


"Tidak, itu tidak sama, kecuali jika dia masih anak dibawah umur dua tahun," jelas Inspektur Hendra


"Dengar Nyonya Ummy," ucap Inspektur Hendra.


"Panggil Saja Mami," pinta wanita itu


"Oke Mami, Kami punya peraturan disini. Dan tolong Anda tertib untuk mematuhinya," ucap Inspektur Hendra kemudian Mami diam


"Tuan Naufal Afkar, jelaskan," pinta Inspektur Hendra


"Aku tidak berniat membunuhnya. Aku hanya memberinya pelajaran agar Dia takut dan segera membayarnya. Karena sudah tiga bulan ini Dia tidak membayarnya. Dan lagi saat kami meninggalkan apartemen itu, dia masih bisa berdiri dan menutup pintu," ucap Afkar


"Oke jadi alasan mu memukulnya hanya memberi pelajaran padanya? Lalu di bagian mana saja Kau memukul ?" tanya Inspektur Hendra


"Aku hanya memukulnya di bagian muka dan itu melukai hidungnya hingga berdarah," ucap Afkar


"Huft kejam sekali Kau. Kau tahu Dia seorang Atlit yang selalu menjaga ketampanannya. Lihat ini,"


HASIL VISUM KEPOLISIAN



"Wow pukulannya banyak sekali. Ini namanya dendam," ujar Afkar sambil melihat berkas dan foto korban


"Kau tahu kita memberinya pukulan dibagian wajah dan itupun hanya sekali,"


Tak berapa lama Inspektur Hendra mengeluarkan ponselnya. Dia membuka pesan dari aplikasi telegram dari anak buahnya.


Astaga apalagi ini, batin Inspektur Hendra


Inspektur Hendra


"Kau tahu Nyonya, pemukulan kecil itu juga termasuk kekerasan. Dan itu tetap ada undang-undangnya," sahut Inspektur Hendra


Inspektur Hendra kemudian memanggil anak buahnya dan memintanya untuk mengambil alih, melanjutkan pengintegrasian


"Bai, Urus mereka. Aku baru saja mendapat kabar terjadi kasus pembunuhan lagi. Kali ini lokasi pembunuhan ada di dalam kamar hotel,"


"Baik Komandan," jawab Bai , "Itu sedikit mudah. Bukankah keamanan di hotel ada CCTV,"


"Aku harap ada titik celah. Ingatkah Kau. Dirumah Tuan Kiyoshi. Semua sudut ada kameranya. Tapi anehnya dia tidak terekam sama sekali. Sill juga tidak menemukan tanda-tanda jika cctv itu diretas. Ada kemungkinan dia sangat paham akan rumah itu," ucap Inspektur Hendra mengingatkan


"Berarti pembunuh ini tahu letak CCTV berada, atau dia ahli dalam menghapus rekaman CCTV, " ucap Bai


"Nyonya setelah ini Anda akan ditangani oleh Bai. Saya permisi dulu," seru Inspektur Hendra lalu keluar ruangan dan Kai berganti duduk di depan Mami dan Afkar.


"Oke mari kita lanjutkan," sahut Bai


Mami sudah merasa malas dan jenuh karena tempat interogasi yang ber-AC dingin itu membuatnya mengantuk ditambah suasananya sangat sunyi, hening, dan bergema. Berkali-kali Mami menguap dan kedua tangannya saling menggenggam karena dingin.


"Nyonya Ummy, bisakah Kau ceritakan. Saat Kau disana apakah ada seseorang di dalam apartemen itu selain Tuan Tom?"


"Panggil aku Mami. Hmmm sepertinya tidak ada, dia sendirian disana. Melihat dari pakaian yang dia kenakan sepertinya dia akan pergi," ucap Mami


"Bisakah Kau ingat siapa nama Satpam atau Resepsionis yang bertugas saat itu?"


"Kalau soal wajah aku ingat, tapi kalau soal nama Aku selalu memanggilnya sesukaku jadi Aku tak pernah tahu nama sebenarnya," ucap Mami


"Afkar apakah Kau ingat?" tanya Mami pada Afkar


"Aku ingat tapi ada satu orang wanita, Dia memakai seragam berbeda dengan satunya dan tidak ada tag name yang menempel dibajunya. Dua Satpam itu bernama Andrif dan Gandos. Sedangkan Resepsionis yang Aku kenal bernama Clara," jawab Afkar


"Oke, berarti mereka adalah penjaga dan resepsionis yang sama. Tapi sayangnya yang kami temui hanya satu resepsionis. Bisakah Kau mendeskripsikan bagaimana wajah atau bentuk proporsi badannya?" tanya Bai


"Dia tinggi, berambut pendek, ada tahi lalat di hidungnya. Dan badannya berisi. Dia seorang kidal. Aku melihatnya menulis dengan memakai tangan kiri,"


"Ok Aku sudah mencatatnya. Baiklah Tuan Afkar. Karena ditemukannya sidik jarimu pada tongkat baseball itu. Maka Aku tidak dapat melepaskan mu begitu saja sampai adanya bukti baru yang menyatakan kau tidak bersalah. Untuk itu Kau kami tahan sementara. Sedangkan Nyonya Ummy.... " ucapan Bai terputus karena Mami menyelanya


"Call me Mami. Are you understand!?" sahut Mami


"Oke Mami, Kau bisa pulang sekarang. Kami akan memanggilmu kembali jika dibutuhkan,"


"Aku akan membayar jaminan bodyguardku karena dia tidak bersalah,"


"Tidak bisa Mami, karena sidik jari Tuan Afkar jelas melekat di tongkat itu. Mohon ikuti prosedur kami. Kami tidak memasukannya ke penjara bersama orang jahat, kami hanya menahannya di sel tahanan sementara," ucap Bai


"Huft Yasudah tolong secepatnya cari bukti itu," sahut Mami


Disisi lain.


Disebuah Hotel. Seorang Pria terbunuh mengenaskan dengan mata terbuka.Melihat itu Inspektur Hendra segera menelepon Wasabi.


"Ya Inspektur," jawab Wasabi dari sambungan telepon saat mengangkat ponselnya


"Kau datanglah kemari Hotel NCT. Ada kasus pembunuhan lagi Wasabi,"


"Apa! Tidak salah lagi ini pasti dilakukan oleh orang yang sama. Jarak lokasi Apartemen, hotel, Rumah Tuan Kiyoshi dan Jalanan umum itu saling berdekatan. Ini Kasus pembunuhan berantai," sahut Wasabi


"Maybe," ujar Inspektur Hendra