
Wasabi menjenguk Andri, si pelayan kafe yang sedang dirawat di rumah sakit.
"Maaf aku baru datang kemari. Bagaimana keadaanmu?"
"Terimakasih sudah menjenguk. Aku sudah lebih baik, hari ini sudah diperbolehkan pulang," ucap Andri yang keadaanya sudah pulih. Ia sedang berkemas, bersiap untuk pulang
"Kalau begitu aku akan mengantarmu pulang,"
"Tidak perlu, aku sungguh tidak enak hati,"
"Andri aku sudah mengurus administrasi nya, ayo kita pu..., seorang wanita datang lalu menghentikan ucapannya karena terkejut dengan kedatangan si pria tampan.
"Kamu disini Detektif Wasabi?"
"Ya Nona Gem, aku baru saja datang,"
"Oh ya, apakah kamu sudah menemukan bukti siapa yang meracuni Andri?"
"Sedang dalam proses, racun ditemukan di gelas minuman milik Rere. Namun itu bukan berarti jika Rere yang bersalah,"
"Jika karyawanku bersalah tangkap saja mereka. Dan lagi mereka semua tidak bisa bekerja dengan cepat. Ingin rasanya aku memecat mereka semua," keluh Nona Gem
"Sabar Nona gem, belum tentu juga kamu mendapatkan karyawan yang betah dengan mu. Kamu sepertinya bos yang cerewet," ucap Wasabi yang to the point.
Andri menahan tawanya, apa yang diucapkan Wasabi sangatlah benar. Bosnya itu sangat cerewet dan seringkali mengomentari hal kecil apapun.
"Haha, aku tidak akan sebawel itu jika pekerjaan mereka bagus. Ya sudah, ayo Andri ku antar pulang. Aku juga ada keperluan lain setelah ini, permisi Detektif Wasabi,"
"Mari Tuan," ajak Andri untuk keluar dari ruang perawatannya.
Wasabi menyusul keluar ruangan setelah keduanya pergi meninggalkan kamar. Pria itu tidak langsung pulang, ia menghampiri ruang praktek Dokter Mia. Agar perbincangan sedikit lama dan tidak mengganggu pekerjaannya, Wasabi lantas ikut mengambil antrian pasien.
"Detektif Wasabi, kamu ingin periksa? Apa keluhanmu?" tanya Dokter Mia
"Aku sakit hati," jawab Wasabi seadanya. Memang benar dia sedang patah hati. Baru saja merasakan cinta tetapi langsung merasakan pahitnya
"Haha, obatnya hanyalah permintaan maaf dari orang yang menyakitimu. Siapa yang menyakiti pahlawanku ini," ucap Dokter Mia terkekeh kecil
"Baru akan tunangan kan? Kamu bisa merebutnya kembali,"
"Oke karena Detektif juga mengambil antrian, sebaiknya ku gunakan untuk mengecek identitas yang kamu berikan. Sebentar ya,"
Dokter Mia lalu menguji sampel yang Wasabi berikan di laboratorium kecilnya di samping ruangan dokter itu. Butuh beberapa jam untuk mengetahui hasilnya. Wasabi pun harus menunggunya diluar. Yang membuatnya lama adalah pencocokan dengan data identitas. Pengujian sudah semakin canggih, pasalnya pihak rumah sakit juga bisa mengecek identitas seseorang tanpa harus melalui tim inafis. Setelah itu Wasabi dipanggil kembali oleh petugas karena hasilnya telah keluar.
Dia membuka hasil test dari sisa putung rokok, serta sebuah kertas dengan cap sidik jari. Ditemukan ada dua identitas, Kevin dan Irgi. Irgi polisi yang semalam mati tertembak dan Kevin yang meninggal saat kecelakaan.
Kenapa mereka semuanya mati, apakah mereka sengaja dibunuh untuk membungkam? Atau mereka sedang mengecohku? batin Wasabi
Kemudian, Wasabi membuka lembar kertas kedua untuk mengetahui hasil DNA Ayahnya dan Kakek Hugo. Hasilnya sungguh mengejutkan dan Wasabi sama sekali tidak menyangka. Ia pun langsung menelepon Dokter Mia.
"Dokter Mia apa kamu yakin dengan hasilnya. Maaf tapi hasilnya sungguh mengejutkan Aku, Aku sama sekali tak mengharapkan hasil yang seperti ini. Apa kau yakin sampel ini tidak tertukar?" tanya Wasabi
"Tapi aku benar-benar menguji sampel yang kamu berikan. Tapi tunggu...,"
"Kenapa? Ada apa?"
Dokter Mia mencoba mengingat.
"Tadi pagi selepas kita keluar dari kafe itu, ada orang yang membuntutiku dengan motor, aku pun meminta bantuan polisi. Mereka menolongku lalu saat polisi itu ingin mengkawal, ia menjatuhkan kunci motornya dan ketika aku mengambilnya, Aku merasa pusing. Saat terbangun aku sudah berada di pantry khusus dokter. Rupanya tertidur lama dan merasa pusing," jelas Dokter Mia dari seberang telepon
"Jadi Dokter mengira bahwa polisi itu yang sengaja membuatmu pingsan lalu ia menukar sampel itu?"
"Aku tidak yakin tapi sepertinya iya,"
"Kamu meminta bantuan kepada seorang polisi? Siapa namanya?" tanya Wasabi
"Ya, Aku menelepon seorang polisi, namanya Yani dan dia menyuruhku untuk bertemu rekannya di pos polisi itu. Dan setelah itu aku berbincang sedikit menceritakan apa yang ku alami, dia menjatuhkan kunci motornya dan aku tidak ingat apa-apa setelahnya.
Lagi-lagi Yani entah dia ikut terlibat atau memang dia tidak tahu? batin Wasabi yang kemudian mengakhiri sambungan teleponnya
"Aku sudah tahu siapa bos mafia ini. Tetapi alasan dia menculik apakah murni dari mafia itu sendiri atau ada seseorang yang sengaja menyuruh mafia itu untuk menculiknya seperti yang dilakukan Mayang saat itu," gumam Wasabi
"Ah Aku harus memastikan hubungan Qisty dengan Adel dan orang-orang yang berhubungan dengan Joy. Mungkin juga bisa jadi karena dendam atau karena bisnis,"