
Keesokan harinya, siang itu seperti kemarin Wasabi mengendarai motornya dan menuju ke kediaman Andi. Di tengah perjalanan tiba-tiba hujan.
Kebetulan didepannya ada tempat makan cepat saji. Ia pun berhenti di tempat itu, berteduh sekaligus makan siang sembari menunggu hujan reda. Tak lupa ia membelikan makanan untuk Andi dan Emi,
Tak berapa lama datang seorang perempuan dengan basah kuyup dan membasahi pakaiannya hingga sedikit menerawang, dia berteduh di depan toko makanan itu.
Wasabi yang selesai makan, masih duduk didalam menunggu hujan reda, lalu keluar setelah mengenali bahwa orang yang basah kuyup itu adalah Naomi.
"Naomi, Kau kehujanan?" tanya Wasabi
"Wasabi.. " ucap Naomi menggigil dan menutup bagian dadanya yang sedikit tembus menerawang
Wasabi membuka jaketnya dan memakaikannya ke badan Naomi.
"Maaf, pakailah. Sangat tak nyaman jika kebasahan seperti itu," ucap Wasabi
"Terimakasih,"
Mereka diam satu sama lain karena kejadian tadi malam.
Satu jam kemudian
"Hujan sudah reda, Aku duluan ya," sahut Wasabi
"Wasabi, Jaketmu. Akan ku kembalikan nanti sore," sahut Naomi
"Tak perlu buru-buru. Ok bye," ucap Wasabi
.
.
.
Di kediaman Andi.
Andi yang belum begitu membaik keadaannya, terus melakukan peninjauan terhadap program yang baru dirancangnya. Dia ditemani dan dibantu oleh Emi.
"Ini daftar nama yang berkaitan dengan korban," sahut Emi
"Ok kita mulai pencarian lewat program ku. Aku akan mencari tahu siapa saja yang korban temui beberapa hari sebelum kematiannya. Dan kau Emi, selidiki latar belakang orang yang berinteraksi dengan korban tersebut," Perintah Andi
Tak berapa lama Wasabi datang dengan membawa kan beberapa makan siang untuk Andi dan Emi.
"Makanan datang" seru Andi
"Wow.. Terimakasih Wasabi. Kau tahu betul jika kami belum makan siang"
"Tentu saja. Kita sering tak ingat makan jika mengerjakan sesuatu yang penting" sahut Wasabi
"Terimakasih Wasabi" ucap Emi dengan mata yang masih berfokus didepan komputer
"Sama-sama," jawab Wasabi
"Hey Andi, Emi serius sekali, apa yang kalian kerjakan?" tanya Wasabi berbisik di telinga Andi
"Sedang mengamati satu persatu yang mencurigakan," Andi balas berbisik
"Yes ketemu," aahut Emi dengan nada tinggi bersemangat
"Kau mengagetkanku," seru Wasabi
"Haha, maaf. Aku sudah mengamati beberapa di antaranya Tuan Fernandus. Di laporan polisi ini tertulis, Tuan Fernandus berkata dia bekerja di luar pulau, dan sudah dua mingguan dia belum kembali pulang, dia baru pulang saat kemarin lusa...Tapi Aku melihat rekaman dari cctv sebuah restaurant, tiga hari yang lalu. Komputer mengenali mukanya adalah milik Tuan Fernandus. Dan jika ku cermati rekaman itu memang betul. Dia adalah Tuan Fernandus," aahut Emi
"Jadi maksudmu Tuan Fernandus berbohong?" tanya Wasabi
"Mungkin, sepertinya,"
"Program ku sedikit kurang sempurna Wasabi. Tadi Aku uji coba dengan dirimu. Dan hasilnya ada orang yang benar-benar mirip denganmu juga. Tetapi jika di cermati betul, Emi juga bilang itu bukan lah orang yang sama," ucap Andi
"Makannya aku bilang mungkin,"
"Kalau begitu bisa pinjam alat pelacak ponsel mu?" sahut Wasabi
Emi menggeser kursi yang didudukinya dengan dua kakinya.
"Hah, kalau bisa melacaknya sudah dari tadi kulacak," ucap Andi
"Ada beberapa yang bisa terlacak dan ada beberapa yang tidak. Mungkin saja orang ini pandai hacker seperti Andi,"
Kring Kring
"Mau apa Inspektur menelepon ku?" tanya Andi
"Ya halo" jawab Andi dia berhenti sebentar untuk mendengar jawaban dari sebrang telepon. "Iya, Wasabi, ada disini. Akan ku berikan ponsel ku pada...oh begitu oke baiklah,"
Andi pun menutup teleponnya
"Ada apa?" tanya Wasabi
"Kata Inspektur ponsel mu tak dapat di hubungi. Dia meminta kita untuk mempercepat penyelidikan. Mengingat waktu kita sampai malam ini," ucap Andi
"Hemm, terus lakukan pencarian kalian, Aku akan kerumah sakit menemui mantan pembantu Naomi. Aku butuh informasinya, kemarin terputus karena dia ada kerjaan. Oh ya Andi, Aku titip sepeda motorku disini. Ini kuncinya," ucap Wasabi tergesa-gesa sambil melempar.
"Hap," Andi bergerak cepat menangkapnya.
.
.
"Eh Detective. Kita bicara di depan kamar saja ya, soalnya Tuan muda kecil sedang tidur,"
"Ya, Bi. Soal kemarin, kata Bibi, Nyonya Cen hamil. Bisa ceritakan siapa kah yang memberitahu Bibi,"
"Tidak ada yang memberitahu. Saat Saya membersihkan kamar Nyonya Cen. Saya menemukan tespack di bawah tempat tidur. Dan bergaris merah dua, tandanya itu hamil. Siapa lagi kalau bukan Nyonya Cen. Meskipun Suaminya di penjara tapi hari sebelum tertangkap itu. Mereka sering bermadu kasih di hotel. Saya tahu mereka suka ke hotel karena Nyonya Cen sendiri yang bilang kepada saya," ungkap si mantan pembantu
Jika itu benar maka patut dipertanyakan dari divisi yang menangani autopsi. Jika hasil laporannya tertulis berbeda maka bisa jadi itu dipalsukan atau orang lain yang hamil. Aku harus menanyakan sendiri pada dokter dan perawat yang bersangkutan, batin Wasabi
Setelah itu ia pamit undur diri dan bertemu dengan dokter yang menangani nyonya Cen saat itu.
"Hemm iya benar saya dokter yang menangani pasien autopsi," ucap Dokter wanita bernama Khee
"Begini dokter apakah saat mengautopsi, pasien tersebut sedang hamil muda diperkirakan masa kehamilannya 2 atau tiga bulan," tanya Wasabi
" Begini Detektif Wasabi, Saya tidak menangani satu atau dua pasien saya tidak hapal namanya, karena saya menangani hampir semua dan ada beberapa dari rumah sakit lain. Saya tidak hafal dengan pasien yang mana. Karena setelah saya selesai membedah dan mengecek korban. Saya langsung menulis laporan itu dan menyerahkannya pada bagian administrasi. Tapi jika minggu-minggu ini, tidak ada pasien yang hamil," ungkap Dr. Khee
"Saya paham, maaf kalau begitu, karena sudah menyita waktu Anda," ucap Wasabi
Wasabi tak mendapatkan jawaban pasti. Dia butuh setidaknya bukti yang berbentuk valid. Kemudian ia mencari tahu sesuatu lewat Bav. Dia yakin ada yang disembunyikan oleh anak itu.
.
.
Sesampainya di rumah Bav. Wasabi datang di waktu yang tepat. Val dan kakeknya pergi keluar, sedangkan suster yang menjaganya sedang memasak.
Wasabi pun meminta ijin kepada sang suster untuk berbicara berdua. Setelah diijinkan, Wasabi memberikan Bav sebuah coklat untuk merayu dirinya agar lebih terbuka pada Wasabi.
"Mau paman Bav mau coklat," ucap Bav yang matanya sudah berbunga-bunga melihat sebuah coklat besar didepan matanya
"Tapi ada syaratnya. Bav jangan menyembunyikan rahasia ke paman. Karena paman mau menangkap penjahat yang sudah membuat nenek meninggal. Gimana?" ucap Wasabi
"Jadi kalau Bav buka rahasia, paman dapat dengan mudah penjahat itu?" tanya Bav
"Hehe iya.."
"Tapi Bav gak punya rahasia. Yang punya rahasia itu Nenek. Dulu pernah bilang, jika Nenek nanti kenapa-kenapa. Bav gak boleh ceritain rahasia Nenek. Tapi Bav bingung. Kenapa-kenapa itu maksudnya apa?" tanya Bav
"Hmm maksudnya itu jika Nenek dicelakai sama orang jahat," terang Wasabi
"Huh kalau tahu begitu. Bav harus cerita sama paman. Karena Bav ingin orang yang menjahati nenek itu masuk penjara!" ucap Bav
"Hehe iya betul. Lalu apa rahasia Nenek kamu?"
"Sebentar Paman," Bav pergi ke dalam dan kemudian kembali lagi membawa sebungkus plastik.
"Paman ini, langsung masukin ke tas paman," ucap Bav yang ketakutan
Wasabi segera memasukkan bungkusan yang di berikan oleh Bav.
"Apa ini?" tanya Wasabi
"Nenek dan kakek sering bertengkar. Mama Vera selalu di salah kan mereka. Bav sedih. Mama Vera juga gak pulang-pulang. Lalu saat Bav sakit. Nenek tiba-tiba menitipkan ini pada Bav, dan menyuruh Bav untuk menyimpannya sebelum Bav dibawa kerumah sakit. Tapi... Huhuhu... Nenek... Hiks hiks.."
"Sudah jangan bersedih. Nanti Paman akan menangkap penjahatnya. Ini cokelat buat kamu,"
"Paman, satu pinta Bav. Jangan sakit tante Val. Dia sangat menyayangi Bav,"
"Hah, aneh sekali. Val menyayangi anak ini. Hemm..." gumam Wasabi dalam hatinya
"Ok Paman janji,"
Wasabi segera pulang. Sesampainya dirumah, dia merebahkan tubuhnya di kasur ternyamannya. Lalu membuka bungkusan yang diberi oleh Bav. Dan jalan lika-likunya kembali terbuka.
"Sudah ku duga akan seperti ini," Wasabi kemudian tersenyum dan sedikit tenang ia pun tertidur sejenak
Beberapa menit kemudian, Wasabi terbangun karena deringan ponselnya. Rupanya dari Naomi, gadis itu ada di depan rumah Wasabi.
Dilihatnya jam sudah menunjukkan waktu 4 sore. Sebentar lagi Wasabi sudah harus mengungkapkan kasusnya
Namun sebelum pergi kebawah Wasabi menyembunyikan bungkusan itu ke brangkas besi yang baru dibelinya.
Wasabi mencuci muka dan langsung turun ke bawah untuk membuka pintu rumahnya
"Masuk lah Naomi," ucap Wasabi
"Aku cuma sebentar. Ini ku kembalikan jaketmu," sahut Naomi dengan lembutnya
"Hah dekat sekali kering dan juga...wangi, Kau mencuci nya." tanya Wasabi
"Hehe iya, Aku melaundrynya dengan ekspress. Hmm sudah hampir malam. Aku pulang dulu ya,"
Semoga dia menawarkan tumpangan untukku, batin Naomi
"Oke hati-hati lah," Wasabi menutup pintunya. Sedangkan Naomi yang berharap untuk di antar pulang pun kecewa.
Kasian 🤣