Detective Wasabi

Detective Wasabi
Next Mission



Di kantor polisi


Hendra melemparkan berkas-berkas ke atas meja dengan kesal. Dia telah lama menangani kasus orang hilang ini tetapi semakin lama semakin bertambah.


Bahkan dia telah menyebarluaskan berita untuk berhati-hati atau mewaspadai dan segeralah melapor jika melihat seseorang yang mencurigakan atau mengetahui aksi penculikan, karena biasanya ada beberapa Masyarakat memilih diam karena tidak ingin terlibat


"Lihatlah ini Wasabi," seru Inspektur Hendra


"Apa itu?"


"Aku tidak habis pikir. Banyak sekali laporan anak yang hilang, dari balita hingga anak SMP. Kasus ini sudah lebih dari seminggu. Polisi juga sudah menyebar dan mencari pelakunya. Mereka juga sudah memata-matai gerak gerik pelaku. Tapi kenapa tak bisa tercium juga, pasti jejak mereka menghilang!" kesal Inspektur Hendra


"Belum lagi masalah itu selesai, kemarin ada 2 orang melapor, ada yang hilang usianya sekitar 16 atau 17 tahun. Saya butuh bantuan mu Wasabi," ujar Inspektur Hendra


"Ada berapa anak yang hilang?" tanya Wasabi yang duduk di depan meja kerja Inspektur sambil menyatukan jari jemarinya seraya ikut berpikir


"Dalam sehari ada sekitar 3 sampai 5 orang yang melapor telah kehilangan anaknya. Dari data pelapor semuanya sekitar 30 anak yang hilang,"


"Dimana lokasi pelapor atau kejadian hilangnya anak itu?"


"Masih dalam lingkup Jakarta Utara. Mereka belum menyebar terlalu jauh,"


"Belum ada satupun yang tertangkap?"


"Itulah... Jabatan ku dipertaruhkan disini,"


"Apakah mungkin seseorang yang tadi?" Wasabi bergumam


"Ada apa Wasabi? Kau melihat sesuatu yang janggal atau mencurigakan dijalan?"


"Sepertinya, tadi sepulang dari taman kota. Ada seseorang dengan wajahnya yang mencurigakan, melihat kiri dan kanan seperti menyembunyikan sesuatu," jelas Wasabi


"Mencurigakan bagaimana maksudmu?"


"Raut mukanya, seperti raut muka rasa orang ketakutan. Sebelumnya dia keluar dari gang kecil sambil membawa karung besar dan juga terlihat berat. Pria itu memanggul karung sambil berlari menuju gerobak, dan menaruh karung itu didalam gerobak. Setelah itu ia menoleh kiri dan kanan kemudian mendorong gerobak dengan terburu-buru," jelas Wasabi yang melihatnya dari kejauhan saat ia mengendarai motor dengan santai.


"Lalu pria itu masuk ke dalam sebuah rumah yang tak jauh dari tempat dia membawa karung. Aku pikir dia pemulung, tapi saat aku melewati rumah itu, keadaan rumah itu bersih, ada taman kecil terawat dan besar. Jika dia pemulung sudah pasti kan disana ada barang-barang bekas seperti kardus, botol plastik dan Lain sebagainya," ucap Wasabi


"Lalu setelah itu kamu tidak menyelidikinya?"


"Tadinya aku ingin mengintip apa yang dia lakukan, tapi inspektur Hendra menelepon dan meminta ku untuk segera kemari, jadi ya ga jadi,"


"Tapi menurut ceritamu, mungkin saja dia pelakunya,"


"Haha kita jangan asal menuduh tanpa disertai bukti yang kuat,"


"Haha. Maaf, Aku sampai tak bisa berfikir. Jika kasus ini tidak terungkap dalam waktu seminggu lagi. Jabatanku harus siap di turunkan,"


"Aku akan berusaha semampuku untuk mengungkap dan menangkap pelaku penculikan anak tersebut, tapi Aku butuh seorang partner yang pintar dalam tekhnologi,"


"Hmm baiklah, sangat disayangkan ya Andi dan Emi mengundurkan diri, mereka juga bilang pada ku tidak ingin terlibat lagi," sahut Inspektur Hendra


"Ada seorang yang juga tak kalah hebat dari Andi. Namanya Sill," ucap Inspektur Hendra sambil tersenyum


"Sill? Laki-laki atau perempuan?"


"Dia perempuan. Sebentar aku akan memanggilnya kemari," Inspektur Hendra menekan interkom memanggil Sill


"Sill, bisakah kamu ke ruangan ku sekarang?" perintah Inspektur Hendra


"Laksanakan komandan,"


Tak berapa lama, Sill sudah berada di depan pintu ruang kerja Inspektur Hendra. Kemudian mengetuk pintunya tiga kali ketukan dengan ritme sedang.


"Masuklah Sill," seru Inspektur Hendra


Sill membuka pintu dan melangkah masuk.


"Kemrilah. Mulai saat ini kamu akan ku tugaskan menyelidiki kasus hilangnya beberapa anak bersama Wasabi," ucap Inspektur Hendra pada Sill


"Wasabi ini Sill. Dia Anakku. Dia lebih tua darimu sudah semester akhir. Dia sedang magang di sini," sahut Inspektur Hendra memperkenalkan anaknya dengan Wasabi


"Hallo Wasabi, mulai sekarang kita partner," sahut Sill


"Hai Sill. Aku Wasabi membutuhkan mu di balik layar. Seperti pengoperasian CCTV atau tekhnologi lainnya. Kamu bisa?" tanya Wasabi yang to the point.


"Tidak usah khawatir, Aku punya semua alat canggih untuk seorang mata-mata," Sill tersenyum sombong.


"Wow Keren. Kalau gitu kita mulai saja. Kita mulai dari lokasi, pelapor pertama," sahut Wasabi


"Tunggu. Tak bisakah kita mulai besok?" tawar Sill


"Ehemm..." Inspektur Hendra berdehem


"Sill. Lakukan saja apa yang dikatakan Wasabi," sahut Inspektur Hendra karena tentu saja dia tidak ingin menunda pencarian. Lebih cepat lebih baik


"Aku tak suka menunda-nunda pekerjaan. Bahkan aku sering tak makan jika sudah sibuk," sahut Wasabi dan itu memang benar adanya Wasabi seorang yang Workaholic.


"Kalau itu mau dia, ku kerjain saja," pikirnya dalam hati


"Baiklah kalau begitu, aku akan membawa perlengkapan ku. Ada di rumah, kita perlu mengambilnya dahulu," ucap Sill


"Barang apa yang kamu maksud," tanya Inspektur Hendra


"Ya barang, laptop, tablet juga perlengkapan memata-matai . Susah dijelaskan," sahut Sill


Sill lalu pergi mengambil tas nya dan kembali lagi ke ruangan Inspektur Hendra dengan kilat


"Ayo kita berangkat sekarang," seru Sill


"Ayo..Oh ya. Inspektur Hendra berkas ini ku bawa dulu. Inspektur punya kopiannya kan?"


"Iya. Bawalah dan Ingat berhati-hati,"


Wasabi dan Sill keluar dari kantor polisi menuju tempat parkir.


"Sebentar aku lupa tidak membawa helm," Sill berniat mengambil helmnya di ruangannya


"Tidak perlu helm, kita naik mobil," sahut Wasabi


Wow ternyata punya mobil juga si Wasabi, batin Sill


Wasabi membuka kunci mobil dengan menekan tombol automatis di kuncinya. Kemudian mobil berbunyi dan menyala lampunya. Sill terkejut melihat mobilnya.


"SBR9222," pekik Sill yang hafal dengan tipenya


"Serius ini mobil kamu?" timpalnya lagi



Mereka berdua masuk, Wasabi terpaksa membawa mobilnya karena Ayahnya yang menyuruh. Dan lagi jika memakainya untuk pekerjaan maka uang bensin akan ditanggung kantor


"Gila, aku tak menyangka kamu mampu membeli mobil Anti peluru ini," cibir Sill


"Aku tidak membelinya. Ada orang gila yang menghadiahi ku mobil. Katanya sebagai ucapan terima kasih,"


"Haha ada-ada saja kamu. Mana ada orang gila seperti itu,"


Dan setelah itu tidak ada perbincangan apapun, mereka diam menikmati alunan musik dan merasakan lembutnya kursi mobil milik Wasabi


Wasabi sudah tahu dimana rumah Inspektur Hendra sehingga dia tidak menanyakan alamat rumah Sill. Sesampainya di rumah Sill yang juga rumah Inspektur Hendra. Wasabi langsung memarkir di depan rumahnya


"Masuklah, tunggulah di ruang tamu. Aku tak lama," ujar Sill


Wasabi menganggukkan kepala tanda mengiyakan. Sill pun masuk sambil menahan tawa terkekeh


.


Satu Jam Kemudian


"Hemmm Sill mengerjain aku. Katanya sebentar! Tapi sudah satu jam aku menunggunya. Minuman juga tidak di sediakan. Aku gembesin dia," gumam Wasabi


Beberapa menit kemudian.


"Ayo. Aku sudah siap,"


Terlihat Sill nampak lebih cantik, segar dan lebih Fresh.


Wasabi menoleh saat Sill mengajaknya pergi dan sudah siap dengan membawa barang-barangnya.


"Kamu mandi ya. Katanya sebentar tapi aku nunggu lama,"


"Haha...kamu pantas di kerjain," kekeh Sill hingga perutnya kesakitan karena tertawa


"Aku haus. Ambilin minum," pinta Wasabi


"Dih.. ogah. Ambil sendiri. Tuh ada di kulkas. Atau bikin aja sendiri di pantry,"


"Dasar menyebalkan," gerutu Wasabi


Wasabi lalu membuat minumnya sendiri di pantry. Dia membuat kopi biar tidak mengantuk dan lebih fokus berpikir. Seharusnya coklat panas yang bisa membuatnya tenang tapi di rumah itu tidak ada coklat panas.


Setelah itu mereka bergegas memulai pencarian.


"Kita ke pertokoan ini," ucap Sill menunjuk tabletnya yang menampilkan sebuah peta jalanan


"Itu bukan lokasi yang akan kita tuju,"


"Tetapi kasus hilang banyak terjadi di pertokoan ini,"


"Ok. Kita akan kesana. Setelah itu kita lokasi pertama pelapor,"