Detective Wasabi

Detective Wasabi
Debat



Jasad Martin diangkat dengan brangkar lalu dibawa menuju mobil ambulans yang terparkir di depan kantor polisi.


Begitu jasad yang dibawa melewati Wasabi. Wasabi melihat luka tembak yang bolong di atas telinga.


"Stop tunggu,"


Lalu perawat yang membawanya menghentikan langkah kakinya dan meletakkan kembali jasad ke bawah. Wasabi mengambil ponselnya dan memotret luka itu.


"Ada apa Wasabi," tanya Inspektur Hendra


"Maaf mengganggu, silahkan jasad bisa Anda bawa kembali," ucap Wasabi seraya tersenyum


Perawat itu membawa kembali dan mulai menghilang dari pandangan Wasabi. Asisten Inspektur Hendra mengawal mereka dan mengurus jasadnya ke rumah sakit Bayangkara khusus kepolisian.


"Inspektur tidakkah Kau lihat tadi sewaktu Martin menodongkan pistolnya ke dirinya sendiri. Dia menodongkannya di pelipis dekat alis. Tetapi lihat! luka tembak ini berada di atas telinga lebih tepatnya di belakang pelipis, " sahut Wasabi


"Aku tak mengamatinya. Tapi bisa saja kan, Dia gugup dan saat menembak tangannya gemetaran sehingga mengenai tempat lain," sahut Inspektur Hendra


"Yang jelas pembunuh yang kita cari sudah mengakuinya kalau dia membunuh semua orang,"


"Apa Kau tak ingat perkataannya tadi? Dia masih menyimpan sebuah informasi!" ucap Wasabi


Wasabi bergerak, dia berjalan menuju tempat Martin berdiri tadi kemudian melihat sisi kirinya. Sebelah kiri, tepat di samping ruang interogasi ada sebuah lorong yang lumayan panjang.


"Lorong ini tak ada jendela yang terbuka. Hanya dinding dan kaca. Lalu yang didepan itu?" gumam Wasabi berakhir dengan pertanyaan


"Itu adalah gudang. Ada peralatan komputer yang sudah rusak, Kipas angin dan Ac yang sudah tidak terpakai. Dan berkas-berkas lama," jawab Inspektur Hendra


Wasabi terus berjalan di ikuti Inspektur Hendra. Ketika sampai di depan pintu gudang. Pintu tersebut terkunci


"Kenapa? Apa kau masih menyangkal kalau Martin itu ditembak seseorang? Tidak mungkin Wasabi. Ini buntu dan tidak ada jendela masuk, " ujar Inspektur Hendra


"Tidak Aku yakin ada seseorang yang menginginkannya mati agar informasi yang di simpannya selalu tertutup," ucap Wasabi


"Itu konyol. Sudah jelas pintu terkunci. Jendela pun tak ada Wasabi!"


Perdebatan dimulai.


"Bisakah kau membuka pintu ini?" tanya Wasabi


"Huh dasar keras kepala," tukas Inspektur Hendra lalu berteriak memanggil Bai


Bai yang berdiri tidak jauh dari Inspektur Hendra kemudian menghampirinya


"Apakah Kau membawa kunci gudang ini?" tanya Inspektur Hendra


"Tidak. Sebentar akan ku ambilkan," ucap Bai lalu mengambil kunci ke ruang satpam.


Sambil menyalakan putung rokok, Inspektur Hendra mulai merokok. Tak berapa lama Bai kembali dengan kunci yang sudah ada ditangannya.


"Sangat berdebu seharusnya ada jejak kaki atau tangan disini, " ucap Wasabi


"Hah kalaupun ada itu adalah jejak kaki polisi yang mengambil dan memeriksa kasus lama," sahut Inspektur Hendra


"Apa salahnya kita menyelidiki dahulu. Aku masih janggal dengan pernyataannya. Dan juga alasan Dia membunuh tak masuk akal," sahut Wasabi


"Oke begini saja. Kita buktikan saja Apakah Dia benar Ayah dari Anak yang diculiknya itu?" timpalnya lagi


"Oke kita akan lakukan tes DNA Martin dengan anak kecil itu. Kau tahu Wasabi. Kau hanya buang-buang waktu," keluh Inspektur Hendra


"Inspektur ini caraku menyelidiki setiap detail. Aku menemukan kejanggalan. Dan Aku masih yakin pembunuh ini dilakukan oleh seorang Wanita," sahut Wasabi


"Apa kau lupa? Emi sudah mendengar dia berkata dan suaranya laki-laki! Dan juga jejak sepatu yang tercetak di karpet itu berukuran 42. Wanita mana yang mempunyai ukuran sepatu 42 apalagi model sepatunya itu sepatu boots pria! Tak hanya itu, menurut pengakuan Emi, pembunuh ini juga dapat membawa Billy, yang bertubuh berat," sahut Inspektur Hendra


"Martin mengakui semua kejahatannya dan itu terekam di cctv dan alat perekam kami. Alat pendeteksi kebohongan pun juga dilakukan. Martin adalah pembunuhnya. Case Closed. Itu keputusanku!" ujar Inspektur Hendra lagi


"Tapi Aku akan tetap menyelidikinya sampai tuntas. Kasus ini belum selesai!"


"Terserah Kau saja! Jika analisismu benar, Kau harus membuktikannya dalam waktu 42 jam dari sekarang," tantang Inspektur Hendra


Inspektur Hendra sambil membuang puntung rokok kebawah dan mematikannya dengan menginjaknya lalu pergi diikuti Bai, Wasabi sendirian dan masih dengan penyelidikannya.


"Oh ya jangan lupa menguncinya kembali," pesan Inspektur Hendra sebelum meninggalkan gudang


"Ok tenang saja, huh," dengus Wasabi


Wasabi sendirian dan mulai mencari tahu kebenaran. Dia mematikan lampu dan menyalakan senter. Dengan begitu jejak akan lebih mudah terlihat jika terambil dari beberapa sudut sinar.


Tak berapa lama wasabi menemukan


Ada jejak sepatu yang terkena debu di rak lemari. Atap? Mungkinkah dia melewati atap ini?


Wasabi memanjat lemari dan memukul-mukul asbes berharap bisa terbuka


"Hah benar dugaanku. Asbes ini terbuka dan tidak terpasang dengan benar.Wasabi naik dan mulai menelusuri atap lorong."


"Buntu lalu kemana dia? Ada kipas ventilasi disini.


Wasabi kemudian menggoyang goyangkan kipas yang terpasang longgar


Wasabi lalu membukanya dengan menendang-nendang.


Klotak-klotak


Kipas terjatuh. Wasabi turun dan mendapati sebuah jalanan. Ia berada dijalanan dibelakang kantor polisi. Itu artinya.


"Astaga aku tak pernah terpikirkan kearah sini," gumam Wasabi