
Emi terbangun dari tidur siangnya. Dengan wajah dan tubuh yang berkeringat ketakutan dan nafas yang terengah-engah. Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki dari sepatu boots dari balik kamar.
Emi segera mengambil pistol dan menodongkan ke arah pintu. Ketika suara sepatu itu terdengar mendekat dan berhenti tepat di depan kamar Emi. Emi membuka kunci pistol itu dan siap membidik.
"Emi... Paman mau pergi keluar kota. Kunci Pintu dan jika ada tamu yang mengetuk pintu, jangan dibuka! Paman dengar ada pembunuh yang sedang berkeliaran. Ingat pesan paman," ucap Pamannya Emi
Emi merasa lega karena orang itu adalah pamannya.
"Ya Paman. Emi akan menurutinya. Berhati-hatilah," sahut Emi dengan nafas yang masih tersengal-sengal. Ia berbicara tanpa membuka pintunya.
Di kamar yang gelap dan hanya seberkas cahaya yang masuk melalui jendela kamarnya, Emi duduk dengan tangan yang masih memegang pistol.
Emi menangis
"Aku gak bisa begini terus. Tapi Aku takut... sedangkan Andi masih terbaring di rumah sakit," gumam Emi
Emi segera menutup jendela rapat-rapat dan mulai turun kebawah untuk mengunci pintu dan semua jendela.
Ssssrrt.. ssssrtt..
Tiba-tiba Emi mendengar sesuatu yang bergesek. seperti kertas atau plastik terdengar samar. Emi lagi-lagi menengok sekeliling rumahnya. Dia menjadi parno dan awas.
Tangannya yang masih menggenggam pistol terus membidik dan membawa senjatanya kemana-mana.
"Emi," sahut Sill mengagetkan Emi
Emi terkejut, Dia berbalik dan langsung menembak tanpa mengetahui siapa yang ada disana.
Dor.
"Oh ****," pekik Sill seraya mengerang kesakitan
"Hah... Sill.... Haah maaf," ucap Emi panik
Ia segera mendudukkan Sill lalu pergi kebelakang mengambil kotak P3K.
"Oh tidak ini panas dan perih sekali.. Ada apa Kau Emi? Kenapa kau menembakku. Apa salahku!" pekik Sill
"Maaf, Aku hanya ketakutan.. Dan Kau, kenapa Kau diam-diam masuk ke rumahku?"
"Aku ingin memberimu kejutan tapi malah aku yang terkejut. Ambil Alkohol dan tuangkan ke pahaku...lalu ambil kain dan ikat pahaku. Kemudian kita ke rumah sakit sekarang. Sebelum aku kehabisan darah," ujar Sill yang sudah terbiasa hal apa yang harus dilakukan saat tertembak
Emi melakukan perintah Sill dengan segera ia menyiapkan apa yang diminta Sill, sementara Sill masih mengerang kesakitan
"Andi menyuruhku kemari, Kau pasti sudah tahu alasannya," sahut Sill
Emi mendekat dan mulai menuangkan alkohol secara pelan-pelan.
"Ahhhh sakiit.. ahhh! " teriak Sill
"Lekas tutupi lukaku dengan kain dan ikat untuk menghentikan pendarahan," ucap Sill
"Baik...Jadi Andi yang menyuruhmu kemari?" tanya Emi
"Iya, bukankah Dia sudah mengirimmu pesan?"
Setelah semua terkunci, mereka pun keluar. Terakhir Emi mengunci rumah dan segera kerumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Sill ke ruangan IGD. Sementara menunggu operasi kecilnya dimulai, Emi menemui Andi di kamarnya.
"Sayang Kamu kemari sendirian? Mana Sill?" tanya Andi
"Aku... Aku tak sengaja menembaknya..," sahut Emi
"Hah..." Andi terkejut
"Aku takut Andi, Aku mengira dia pembunuh. Sill ingin menjahiliku, Dia mengejutkanku dari belakang. Aku terkejut dan tak sengaja membaknya. Untung yang terkena pahanya. Kini dia sedang di tangani dokter,"
"Astaga, Aku jadi tak enak dengannya. Aku terlalu panik memikirkanmu, jadi Aku menyuruhnya menemanimu dirumah," ucap Andi
"Salah siapa dia mengejutkanku. Sayang...Aku sungguh takut dan merasa tidak nyaman," sahut Emi
"Tetaplah disini biar Kau merasa aman. Maaf Aku tak bisa menjagamu di rumah. Aku pun kecelakaan dan tulang kakiku ternyata patah. Jadi mereka memasang gips didalamnya," ucap Andi
Andi memanggil suster dan menitipkan pesan pada Nona Sill, jika Emi akan bermalam di rumah sakit.
"Emi Aku sudah menceritakan apa yang kau alami pada Wasabi, "
"Apa? Aku sudah bilang jangan katakan apapun dengannya. Aku takut jika aku buka suara, pembunuh itu akan membunuhku juga," ucap Emi
"Tenang saja Emi, Kau salah satu saksinya. Mereka akan melindungimu. Sebentar Aku akan menghubungi Wasabi agar Dia kemari lagi, "
"Kemari lagi? Dia baru dari sini?"
"Ya tadi Dia kemari. Tak apa, dia bisa memakai kekuatan teleportasinya,"
Tak berapa lama datang Suster untuk memeriksa kondisi Andi. Di label seragamnya bernama Niken
"Permisi Tuan Andi, Saya akan memeriksa kondisi Anda sekarang," ucap suster
"Silahkan Suster Niken,"
Suster itu masuk dan tidak menutup pintu kembali. Emi merasa diperhatikan dari luar. Diapun menoleh kebelakang pintu yang terbuka.
Sepi..
Emi merasa tidak nyaman lagi. Dia merasa Ada sosok mata yang memandanginya.
Kemudian Dia berbalik dan terkejut. Jauh di lorong itu ada seorang yang memakai jaket hoodie. Emi bersembunyi di balik pintu dan mengintip lagi.
Ternyata Pria itu bukanlah pembunuh. Pria berjaket itu membuka tudung topinya dan sedang mendorong Ibunya dengan kursi roda.
Astaga Aku benar-benar seperti orang gila. Aku selalu ketakutan melihat seseorang yang berjaket hoodie. batin Emi
Andi mengamati tingkah Emi dan mengerti apa yang dirasakan Emi sekarang.
Kasihan Emi. Aku harus segera sembuh. Aku tidak ingin Dia menjadi paranoid. Itu sungguh tidak nyaman untuknya, batin Andi
Paranoid