Detective Wasabi

Detective Wasabi
Andi And Emi In Action



Andi sudah berhasil membuka portal di seluruh kamera yang apapun yang aktif di daerah Bali. Bali luas tentu saja mereka mencarinya mulai dari titik lokasi yang Wisnu sebutkan.


"Emi aku sudah membuka portal semua kamera. Kamu bisa mulai melacaknya," ucap Andi


"Semua kamera? Kamera apa?" tanya Wisnu yang ikut mendengar percakapan mereka


"Semua kamera yang aktif. Kita juga bisa melihatnya. Kamera dari rumah, gedung, jalanan, lampu lalu lintas dan lain sebagainya. Andi menambahkan sistem program pelacak lewat kamera-kamera tersebut. Kita hanya perlu mengaitkan waktu kapan, jam detik dan menit yang tepat," ucap Emi


"Hebat kamu Andi, Aku bahkan tidak bisa berpikir bagaimana caranya kamu melakukan semua itu" puji Hasanah


"Ya gak usah dipikirin nanti stress," jawab Andi yang kemudian bersandar di ranjang. Jujur saja kepalanya masih sedikit pening.


Emi duduk di samping Andi, di atas ranjang juga, sementara Hasanah duduk di tepi ranjang sambil ikut memantau layar. Sedangkan Wisnu duduk dengan kaki yang di luruskan.


"Oke aku akan mulai menelusuri kemana Wasabi," Wajah Wanita itu kembali serius sambil menatap laptop yang sudah di program Andi.


15 Menit Kemudian


"Aku menemukan lokasinya," ujar Emi kesenangan.


"Bagus! Malam ini kita beraksi," sahut Andi yang ikut semangat


"Aku akan membantu kalian," Wisnu menawarkan diri


"Kamu yakin? Bagaimana dengan lukamu?" tanya Emi


"Aku yakin," jawab Wisnu dengan tekad penuh.


Sementara Emi meragukannya. Jalan saja pasti kesusahan, nanti malah merepotkan semuanya.


"Sudahlah biarkan dia ikut bersama kita. Nanti Wisnu dan Ana bisa menunggu di mobil. Mereka bisa memantau, lewat kamera kecil yang akan ku pasang. Dan juga jika ada orang yang datang mencurigai mobil kita. Kalian bisa memantaunya kan?" ucap Andi yang kemudian di akhiri sebuah pertanyaan untuk meyakinkan dirinya.


"Bisa," ucap Wisnu dan Ana bersamaan sambil menganggukkan kepala


Beberapa jam kemudian mereka telah sampai di lokasi. Sebelumnya, Andi telah menonaktifkan kamera CCTV disana. Untung saja tidak banyak kamera yang terpasang. Lalu ia meretasnya dan menggantinya dengan tampilan rekaman yang lain sehingga Andi dan Emi bisa bebas bergerak.


Penjaga yang ada di depan pintu sedang pergi. Mungkin mereka sedang istirahat malam itu. Andi pun memanfaatkan moment tersebut. Dia masuk duluan mengendap saat dirasa aman. Ia langsung melesat masuk.


"Emi, Aku sudah berada di kapsul Aquarium, Wasabi terlihat lemas. Kita harus cepat,"


"Oke aku akan alihkan perhatian mereka," ucap Emi berbisik di microphonenya.


Emi masuk begitu saja seakan-akan ia sedang mengantarkan makanan untuk orang didalam. Ia melewati dua penjaga di depan lobby dan melewati resepsionis. Dan langsung masuk menuju ke dalam melewati beberapa lorong dan pintu


"Permisi...," pekik Emi sambil mengetuk pintu.


Ruangan Lab tempat Wasabi berada sedang tidak ada penjaga, karena jam istirahat malam.


"Ya!" teriak seseorang dari dalam.


Dr Frost yang saat itu ingin keluar ruangan lab, mendengar suara ketukan pintu di depan pintu masuk Laboratoriumnya. Segeralah dibukanya pintu itu.


Benar-benar teledor penjaga disini, kemana dia kenapa pintu ini di biarkan tanpa dikunci. Sudah begitu tidak ada yang bergantian berjaga, batin Dr Frost


"Siapa kamu," tanya Dr Frost.


Emi mengamati penampilan ilmuwan tersebut


"Ah ini orang yang berada depan wasabi tadi," pikir Emi dalam hati


"Aku mengantar makanan atas pesanan Tuan Li," ucap Emi seraya menunjukkan kotak makanan serta nota atas nama Li di kertas tersebut


"Aku tidak memesannya. Li siapa? Karena di sini adanya Lee bukan Li," ucap Dr Frost seraya melihat nota di atas kotak makanan.


Emi pun dengan berbagai cara terus mengotot jika pesanannya benar berada di tempat itu.


Andi melihat ada sebuah mesin katrol di dekat kapsul tersebut.


"Ini pasti mesin untuk mengangkat Wasabi ke luar dari dalam," pikir Andi


Andi dengan segera mengeluarkan Wasabi. Dia mengangkat Wasabi dengan mesin katrol yang tali rantainya sudah terikat di tangan Wasabi. Setelah Wasabi terangkat, Andi berlari ke atas menaiki tangga yang telah tersedia di pinggiran kapsul aquarium. Ia lalu mendudukkan wasabi ke tepi bibir aquarium yang tebal dan besar.


Setelah itu Andi melepaskan rantai di tangannya dan peralatan yang melekat ditubuhnya.


"Wasabi. Kamu lemas sekali. Apakah kamu mendengar ku?" ucap Andi berbisik


"Hah iya, aku dengar. Aku tidak tahu mereka memberiku apa barusan, tiba-tiba saja aku mengantuk dan badanku terasa lemah," ucap Wasabi


"Kamu bisa turun dari atas ini?"


"Sepertinya aku bisa berteleportasi. Tapi beri aku serangan atau sesuatu yang memacu jantungku," ujar Wasabi maksudnya adalah agar pria tersebut tersadar dan kembali bertenaga.


"Serangan jantung seperti apa?" tanya Andi


"Ciuman mungkin, ucap Wasabi ngelantur


"Andi cepat sedikit, ada seseorang lagi yang akan datang," bisik Ana berbicara lewat microphone headset nya


"What," Andi terkejut mendengar info dari earphone.


Pria itu panik. Dengan keadaan genting, tanpa berpikir panjang Andi pun menangkup rahang Wasabi dan mencium bibirnya. Jantung wasabi spontan berdetak lebih kencang. Bukan karena cinta tapi karena kaget atau bahkan jijik.


Wasabi segera mengeluarkan kekuatannya dan dia pun bisa berteleportasi lagi.


Whuuusss


Dalam waktu beberapa detik, Mereka telah berada diluar dari lokasi.


"Sial, aku tak menyuruhmu mencium ku. Itu kan hanya perumpamaan," ucap Wasabi


"Hah Aku pun terpaksa menciummu. Kamu kira aku tak jijik, hueeekk," Andi pun meludah kesamping dan mengelap bibirnya.


"Yang aku maksud adalah jika Aku mencium Emi," ucap Wasabi


"Sembarangan. Dia pacarku. Awas Kamu ya!" ucap Andi mengepalkan tangannya ke arah Wasabi, sementara Wasabi terkekeh


"Eh ini pakai jaketku," Andi melepaskan jaketnya dan memberikannya pada Wasabi yang tidak memakai atasan.


"Haha....Terimakasih, mana Emi?" tanya Wasabi


Andi baru teringat. Dia lalu menyalakan microphone kemudian menyuruh Emi untuk segera keluar dari situ


"Ok," jawab Emi berbisik


Emi pura-pura mengangkat telepon dan berbicara di telepon seolah-olah dia salah. Lalu setelah itu Emi menutup teleponnya dan menghampiri kembali Dr.Frost


"Oh maaf pak, tadi barusan saya di telepon. Sepertinya saya salah alamat. Mohon maaf pak," ucap Emi setelah itu ia pamit dan pergi meninggalkan ruangan Lab. tersebut. Emi lalu berjalan cepat, ia takut jika ketahuan


Tak berapa lama, Dr Frost panik dan langsung berteriak setelah tahu jika Wasabi hilang


"Hoy Wasabi kabur. Sial cewek itu telah mengalihkan ku," ucap Dr Frost


"Tangkap perempuan itu," teriaknya saat beberapa orang mulai berdatangan


"Aku harus berlari cepat," gumam Emi


Ketika Emi hampir sampai di pintu keluar. Aksinya di kepung dua pria di depannya. Eminyang pandai karate pun langsung menunjukkan kemampuannya. Ia menendang, dua orang yang menghalanginya.


Beberapa kali Emi menepis serangan lawan. Lalu mengelak pukulan lawan. Dan saat lawan mulai lengah, Emi meninjunya berkali-kali. Lalu menendang perut, kepala kemudian dadanya hingga mereka berdua jatuh terlunglai.


Emi segera keluar dari lobby, menuju mobil yang telah menyala mesinnya dan sudah siap berangkat. Setelah Emi masuk ke dalam mobil, Ana segera menancap gas dan berlalu pergi dari lokasi.


"Mereka mengikuti kita," ucap Emi sambil melihat ke belakang


"Nyalakan roket," ucap Andi


"Roket?" tanya Wisnu dan Ana


"Ya aku sudah menempelkan roket di mobilmu. Tinggal tekan tombol bergambar roket ini. Maka mobilmu akan melesat jauh. Haha," ucap Andi


"Sejak kapan?" tanya Ana


"Sudah lakukan saja," jawab Wisnu lalu menekan tombol yang dimaksud Andi. Mobil Wisnu pun menjadi melesat jauh seperti roket


"Keren Andi. Kamu sungguh pintar," Wisnu terkagum.


"Haha Siapa dulu dong... Andi Hahaha," Andi bangga akan kemampuannya


"Bisa-bisanya kamu tertawa Andi," ucap Wasabi


"Hush Diam kau, Aku masih merasa jijik dan mual," Serunya


"Jijik kenapa sayang?" sahut Emi yang duduk di sisi kiri Andi. Sementara Wasabi duduk di sisi kanan Andi


"Haha... Kalau kamu tau, kamu pasti tertawa Emi atau bahkan Ilfill," sahut Wasabi


"Ah ayo katakan saja," pinta Emi


"Tidak. ini menyangkut harkat dan martabat ku," sahut Andi


"Ahh Kamu gak asyik," sahut Emi kemudian dia merasakan tidak enak di tempat duduknya.


"Aduh kursinya menjadi basah," keluh Emi


"Maaf, Aku lupa menyuruh Wasabi untuk mengganti celananya,"


"Mana ada waktu berganti pakaian? Kamu ada-ada saja," sahut Ana


Akhirnya Emi pun membiarkannya. Jelas kursi itu basah karena tadi Wasabi duduk di tempat itu. Karena terburu-buru dan agar Emi bisa langsung masuk ke mobil, sehingga Wasabi pun berpindah tempat.


"Sepertinya kita sudah tidak diikuti lagi," ucap Wasabi


"lya benar. Wasabi bagaimana keadaanmu," ucap Hasanah


"Baik Ana. Aku sempat tertembak di dada, tapi aneh kenapa dadaku baik-baik saja?" tanya Wasabi


"Ini Aku mengambil kalungmu di meja tadi," jawab Andi memberikan Wasabi kalung lehernya.


"Sepertinya Aku selamat dari peluru itu, berkat kalung ku ini. Lihat kalung ini menjadi cembung dan sedikit bolong," desis Wasabi sambil mengamati kalungnya


"Itu kalung keberuntungan mu Wasabi," ucap Hasanah


"Ya sepertinya begitu Ana," ucap Wasabi bersandar pada kursi dan sedikit berpikir, "Kita harus segera berkemas dari hotel itu,"


"Lalu kita mau tinggal dimana? Misi pencarian Desi belum selesai," tanya Emi


"Kalian bisa menginap di rumahku sampai misi kalian selesai," tawar Hasanah


"Terimakasih Ana. Tapi aku belum sepenuhnya percaya padamu," Andi masih kesal


"Aku tidak ingin merepotkan mu Ana, terimakasih," tolak Wasabi.


"Ada satu tempat yang menarik perhatianku. Tapi untuk memastikannya aku harus bertanya padanya terlebih dahulu," timpalnya lagi


Hasanah tidak masalah jika mereka menolak bantuannya. Tetapi wanita itu akan bersedia membantu jika mereka butuhkan.


Sesampainya di hotel, Wisnu dan Ana berterimakasih pada semuanya. Karena ia merasa masalah dimulai dari mereka. Begitu pun dengan Wasabi dan temannya, juga mengucapkan terima kasih atas tumpangan mobilnya.


Akhirnya misi penyelamatan Wasabi selesai.